Masuk Negara Aman dari Perang, 5 Hal Ini Perlu Disiapkan RI
- Jika ekonomi global tertekan hingga resesi karena perang skala besar, Indonesia perlu memperkuat kebijakan fiskal, ketahanan pangan, dan dana darurat.

Maharani Dwi Puspita Sari
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Kekhawatiran mengenai kemungkinan resesi global yang dipicu oleh konflik geopolitik, mendorong para pemimpin negara dan pembuat kebijakan untuk menyiapkan strategi perlindungan ekonomi.
Implikasi dari konflik besar dapat memicu tekanan ekonomi, termasuk kontraksi produksi, gangguan rantai pasok, hingga kondisi finansial yang rapuh di banyak negara, termasuk Indonesia.
Jika terjadi perang dunia ke-III, Indonesia masuk ke dalam 10 negara yang paling aman bersama dengan negara Swiss, Australia, Selandia Baru, dan lainnya. Annie Jacobsen, seorang jurnalis investigasi, memaparkan betapa cepatnya kehancuran dunia jika terjadi perang nuklir.
Dalam diskusi di podcast The Diary of a CEO, ia memberikan contoh serangan rudal Rusia ke Amerika Serikat yang hanya memakan waktu 26 menit 40 detik. Perang ini diperkirakan akan melumpuhkan sektor pangan global karena bumi akan tertutup salju dalam waktu lama.
Di tengah ancaman tersebut, Indonesia dinilai sebagai salah satu tempat paling aman untuk berlindung, sejajar dengan negara-negara stabil lainnya seperti Finlandia dan Swiss. Sementara itu, banyak wilayah di dunia akan tertutup salju selama bertahun-tahun dan sektor pertanian berpotensi gagal total.
“Sebagian besar dunia, terutama wilayah lintang tengah, akan tertutup lapisan es. Daerah seperti Iowa dan Ukraina bisa bersalju hingga 10 tahun,” ujar Jacobsen, dalam The Economic Times, dikutip Senin, 26 Januari 2026.
“Ketika pertanian gagal, manusia akan mati kelaparan,” tambahnya. Jacobsen bahkan menyebut hanya dua negara yang memiliki peluang untuk bertahan hidup, yakni Selandia Baru dan Australia. Keduanya dinilai masih mampu menjaga keberlanjutan sektor pertanian.
Apa Itu Resesi?
Melansir dari United Nations Turkiye, Senin, 26 Januari 2026, resesi ekonomi merupakan fase di mana aktivitas ekonomi menurun secara signifikan selama beberapa bulan, ditandai oleh perlambatan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB), penurunan investasi, dan meningkatnya pengangguran.
Dalam laporan Bank Dunia, sejarah menunjukkan bahwa resesi global pernah terjadi beberapa kali, termasuk saat pandemi global 2020 yang disebut sebagai salah satu resesi terdalam sejak Perang Dunia II.
Direktorat Jenderal Kekayaan Negara Kementerian Keuangan menggarisbawahi pentingnya aturan keuangan yang kuat untuk rumah tangga dan bisnis, termasuk pengelolaan kas yang hati-hati serta perencanaan dana darurat.
Ketegangan geopolitik global seperti meningkatnya tarif perdagangan antara negara besar dan potensi eskalasi konflik dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi dunia, memperlemah permintaan global, serta menciptakan volatilitas pasar finansial.
Dalam konteks ancaman ekstrem seperti perang dunia berskala besar, gangguan terhadap sektor perdagangan dan investasi global dipastikan akan berdampak terhadap permintaan ekspor Indonesia, harga komoditas, serta aliran modal internasional.
Apa yang Perlu Disiapkan Indonesia?
Dampak resesi yang berisiko dialami masyarakat di antaranya adalah kenaikan harga kebutuhan pokok, pemutusan kerja, kenaikan harga pasokan energi sampai dengan naiknya angka kemiskinan. Oleh karena itu, masyarakat harus memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk mengelola keuangan.
Dikutip dari laman Kementerian Keuangan, berikut adalah langkah yang harus dilakukan saat menghadapi resesi:
1. Kebijakan Fiskal dan Moneter Responsif
Pemerintah perlu memastikan kebijakan fiskal yang fleksibel untuk merespon guncangan ekonomi, termasuk alokasi anggaran untuk stimulus, subsidi, dan insentif bagi industri terdampak. Selain itu, penerapan kebijakan moneter yang adaptif juga penting dilakukan untuk menjaga stabilitas harga dan likuiditas sistem keuangan.
2. Ketahanan Pangan dan Energi Nasional

Resesi global sering kali disertai dengan adanya gangguan rantai pasok. Dalam hal ini, pemerintah Indonesia perlu memperkuat ketahanan pangan dan energi domestik, termasuk diversifikasi sumber pasokan serta mendukung produksi lokal agar ketergantungan impor tidak memperburuk tekanan ekonomi.
3. Dana Darurat dan Cadangan Fiskal
Menyiapkan dana darurat negara dan cadangan fiskal yang cukup tinggi akan membantu menghadapi penurunan pendapatan negara akibat kontraksi ekonomi global. Pada level rumah tangga dan bisnis, aturan mengelola keuangan yang konservatif serta memiliki dana darurat dapat membantu bertahan di masa sulit.
4. Diversifikasi Ekonomi dan Pasar

Mengurangi ketergantungan terhadap satu atau beberapa pasar ekspor atau komoditas dapat menjadi perlindungan penting. Dalam hal ini, investasi dalam sektor teknologi, manufaktur, dan jasa berkualitas tinggi akan membantu memperkuat struktur ekonomi jangka panjang.
5. Perlindungan Sosial dan Tenaga Kerja
Program perlindungan sosial seperti jaminan bagi pekerja, pelatihan kembali (reskilling), serta sistem asuransi tenaga kerja perlu diperkuat untuk mengurangi dampak sosial dari resesi. Selain itu, pemerintah juga perlu memastikan bahwa skema perlindungan sosial tersebut tepat sasaran dan mampu menjangkau kelompok paling rentan, termasuk pekerja sektor informal dan pelaku UMKM.
Penguatan basis data sosial, perluasan cakupan bantuan, serta sinergi antara pemerintah pusat dan daerah menjadi krusial agar intervensi kebijakan dapat berjalan efektif di tengah tekanan ekonomi.

Maharani Dwi Puspita Sari
Editor
