Gejolak Panas Venezuela, Ini Respons Ekonom Dunia
- Penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh AS dinilai investor menambah ketidakpastian global, terutama bagi pasar energi dan keuangan internasional.

Maharani Dwi Puspita Sari
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh Amerika Serikat memicu perhatian luas dari kalangan investor dan ekonom global. Operasi militer yang diumumkan di Washington, 3 Januari 2026 itu dipandang sebagai peristiwa geopolitik besar yang berpotensi memengaruhi stabilitas kawasan Amerika Latin serta arah pasar internasional, terutama sektor energi dan keuangan.
Mengutip dari Reuters, Rabu, 7 Januari 2026, sejumlah pelaku pasar menilai langkah AS tersebut menambah lapisan ketidakpastian baru di tengah kondisi global yang masih dibayangi konflik geopolitik dan tekanan kebijakan perdagangan.
Venezuela, sebagai negara dengan cadangan minyak terbesar dunia, selama ini menjadi sorotan karena peran strategisnya dalam pasar energi global. Investor global disebut mencermati perkembangan politik di Venezuela dengan sikap berhati-hati.
Sejumlah analis juga menilai perubahan kekuasaan dapat membuka peluang restrukturisasi ekonomi dan perbaikan iklim investasi, tetapi proses transisi dinilai tidak akan berlangsung cepat maupun mudah.
Sejarah perubahan rezim di negara-negara penghasil energi menunjukkan bahwa ketidakpastian hukum dan stabilitas politik menjadi faktor utama yang memengaruhi arus modal. Pendiri dan Ahli Strategi Geopolitik di Fordham Global Foresight London, Tina Fordham mengatakan bahwa dampak langsung terhadap pasar keuangan global masih bersifat terbatas.
“Pasar terkadang berayun ke mode penghindaran risiko karena ekspektasi konflik, tetapi begitu konflik dimulai, pasar dengan cepat berbalik ke mode pengambilan risiko. Mengingat betapa cepatnya hal ini terjadi, pasar minyak mungkin menjadi satu-satunya pasar yang merespons. Sudah banyak perkiraan tentang kelebihan pasokan di pasar minyak, dan ini hanya akan menambahnya,” ungkapnya, dikutip dari Reuters, Rabu, 7 Januari 2026.
Ia juga menilai bahwa respons investor cenderung terukur karena fokus pasar saat ini juga terbagi pada isu lain, seperti kebijakan suku bunga global, konflik geopolitik di kawasan lain, serta prospek pertumbuhan ekonomi dunia.
Sementara itu, Kepala Strategi Ekonomi, Annex Wealth Management, Brookfield, Wisconsin, Brian Jacobsen mengatakan potensi perubahan kebijakan energi Venezuela menjadi perhatian utama. Apabila transisi politik membuka kembali akses pasar dan kerja sama internasional, maka Venezuela berpeluang meningkatkan produksi dan ekspor minyaknya dalam jangka menengah.
"Pasar terkadang berayun ke mode penghindaran risiko karena ekspektasi konflik, tetapi begitu konflik dimulai, pasar dengan cepat berbalik ke mode pengambilan risiko. Mengingat betapa cepatnya hal ini terjadi, pasar minyak mungkin menjadi satu-satunya pasar yang merespons. Sudah banyak perkiraan tentang kelebihan pasokan di pasar minyak, dan ini hanya akan menambahnya,” ujarnya.
Namun, realisasi skenario tersebut sangat bergantung pada stabilitas pemerintahan pasca Maduro dan kepastian regulasi yang diberikan kepada investor asing. Atas kejadian tersebut, sebagian pelaku pasar energi menunggu sinyal lanjutan dari pemerintah AS dan komunitas internasional terkait arah kebijakan terhadap Venezuela. Kepastian mengenai sanksi, hubungan diplomatik, dan tata kelola industri energi akan menjadi faktor penentu bagi sentimen pasar ke depan.
Para ekonom juga mengingatkan bahwa periode pasca perubahan kekuasaan sering kali diwarnai tantangan struktural, mulai dari pemulihan institusi negara hingga stabilisasi fiskal. Tanpa reformasi yang terukur dan dukungan internasional yang konsisten, potensi ekonomi Venezuela dinilai sulit pulih secara cepat.
Secara keseluruhan, penangkapan Maduro dipandang sebagai peristiwa geopolitik signifikan yang belum sepenuhnya tercermin dalam pergerakan pasar. Investor dan ekonom sepakat bahwa dampak jangka panjangnya akan sangat bergantung pada arah transisi politik dan kebijakan ekonomi Venezuela dalam beberapa bulan ke depan.

Maharani Dwi Puspita Sari
Editor
