Belanja Libur Imlek-Ramadan Meningkat di Kalangan Anak Muda
- Kadin menilai konsumsi saat Imlek dan Ramadan berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 hingga 5,5 persen.

Maharani Dwi Puspita Sari
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Rangkaian hari besar Tahun Baru Imlek dan menyambut bulan Ramadan 1447 Hijriah, diproyeksikan memberi dorongan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026. Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) menilai momentum konsumsi tersebut berpotensi mengangkat pertumbuhan ekonomi hingga sekitar 5,5%.
Wakil Ketua Umum Bidang Otonomi Daerah Kadin, Sarman Simanjorang, menyatakan aktivitas ekonomi selama periode Imlek menunjukkan peningkatan konsumsi masyarakat, mulai dari kebutuhan pokok, makanan dan minuman, hingga sektor transportasi dan pariwisata. Ia memperkirakan perputaran uang selama libur Imlek menembus lebih dari Rp9 triliun, mencerminkan kuatnya belanja domestik pada awal tahun.
“Perputaran uang selama perayaan dan libur Imlek tahun ini akan mengerek konsumsi rumah tangga yang akan menjadi kontributor utama pertumbuhan ekonomi nasional,” ujar Sarman dalam keterangan tertulis, Selasa, 17 Februari 2026.

Menurut Kadin, kedekatan waktu antara Imlek dan Ramadan memperpanjang periode konsumsi masyarakat. Tradisi belanja menjelang bulan puasa dan persiapan Lebaran dinilai memperkuat daya dorong konsumsi rumah tangga terhadap produk domestik bruto (PDB).
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan konsumsi rumah tangga masih menjadi kontributor terbesar pertumbuhan ekonomi nasional. Sepanjang 2025, konsumsi berkontribusi sekitar 2,62% terhadap total pertumbuhan ekonomi sebesar 5,11%. Angka ini menegaskan bahwa belanja masyarakat memegang peranan penting dalam struktur ekonomi Indonesia.
Pola Konsumsi dan Peran Generasi Muda
Momentum Imlek dan Ramadan dalam beberapa tahun terakhir juga ditandai dengan meningkatnya transaksi digital, belanja daring, serta mobilitas perjalanan. Laporan berbagai lembaga riset pasar menunjukkan generasi muda, terutama milenial dan Gen Z, menjadi kelompok dominan dalam transaksi e-commerce dan pembayaran digital selama periode promosi seperti hari-hari besar keagamaan.
Riset Populix bertajuk PopVoice: Gen Z and Millennials Report Q1 2023 menunjukkan bahwa sekitar dua pertiga responden dari kalangan Gen Z dan Milenial di Indonesia berbelanja online secara rutin, dengan frekuensi minimal dua hingga tiga kali dalam sebulan.
Produk yang dibeli pun beragam. Sebanyak 73% Gen Z dan 65% Milenial membeli produk perawatan tubuh melalui platform digital. Untuk kategori fesyen, kalangan Gen Z mencapai 70% di Gen Z dan 68% di kalangan Milenial.
Sementara itu, pembelian makanan dan minuman secara daring dilakukan oleh 45% Gen Z dan 49% Milenial. Data tersebut menggambarkan bahwa aktivitas belanja online telah menjadi bagian dari pola konsumsi harian, bukan sekadar kebutuhan sesaat.
Mayoritas responden menyatakan berbelanja karena kebutuhan, dengan persentase 68% pada Gen Z dan 70% pada Milenial. Promo dan potongan harga menjadi alasan berikutnya, masing-masing diakui oleh 44% Gen Z dan 45% Milenial.
Adapun faktor payday memengaruhi 37% Gen Z dan 39% Milenial, sedangkan momentum tanggal kembar seperti 11.11 atau 12.12 justru menjadi pemicu paling rendah, yakni 29% pada Gen Z dan 27% pada Milenial. Temuan ini menunjukkan bahwa perilaku belanja generasi muda lebih didorong oleh kebutuhan dibandingkan sekadar mengikuti momentum promosi tertentu.
Kecenderungan tersebut memperluas dampak konsumsi, tidak hanya pada sektor ritel konvensional tetapi juga pada ekonomi digital, transportasi daring, logistik, hingga UMKM berbasis platform. Peningkatan transaksi selama musim liburan berkontribusi pada perputaran uang yang lebih luas di dalam negeri.
Selain sektor ritel, permintaan tiket pesawat, kereta api, dan akomodasi juga meningkat seiring mobilitas masyarakat. Pola ini terjadi secara berulang setiap memasuki Ramadan dan Lebaran, yang dikenal sebagai periode dengan lonjakan konsumsi musiman tertinggi dalam satu tahun.

Maharani Dwi Puspita Sari
Editor
