8,7 Juta Siswa Daftar TKA 2026, Dukungan Publik Menguat
- Dukungan pelaksanaan TKA SD dan SMP 2026 terus mengalir dari pemda, akademisi, hingga orang tua. Pendaftaran mencapai 8,7 juta peserta atau 98,69% dari target.

Ananda Astri Dianka
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Dukungan terhadap pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) SD dan SMP April mendatang terus mengalir mulai dari Pemerintah Daerah (Pemda) hingga orang tua murid. Sejumlah pemda kini terus berbenah untuk menyongsong pelaksanaan TKA jenjang SD dan SMP.
Kepala Dinas Pendidikan Jawa Tengah Sadimin menyatakan terus mematangkan persiapan pelaksanaan TKA jenjang SD dan SMP.
Sosialisasi TKA dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) telah diterima dan langsung ditindaklanjuti di tingkat provinsi.
Berbagai langkah strategis telah dilakukan, mulai dari pembentukan kepanitiaan hingga koordinasi teknis lintas daerah.
“Kami membentuk kepanitiaan tingkat provinsi, kemudian menyampaikan kepada Dinas Pendidikan kabupaten/kota untuk membentuk kepanitiaan TKA di tingkat daerah masing-masing,” ujarnya, Rabu (18/2/2026).
Koordinasi awal pelaksanaan telah dimulai sejak akhir November 2025, setelah pelaksanaan TKA jenjang SMA/SMK sederajat.
Informasi teknis disampaikan secara bertahap kepada kabupaten/kota, termasuk melalui forum komunikasi daring.
Dinas Pendidikan Jawa Tengah juga menyusun soal-soal TKA untuk kelas 6 SD dan kelas 9 SMP tahun 2025. Pada 4 Februari 2026, koordinasi Tim Swakelola TKA kabupaten/kota dilakukan secara daring.
Selanjutnya, koordinasi pendataan pelaksana dan peserta TKA serta teknis pelaksanaan dijadwalkan pada 18 Februari 2026.
Dari sisi sumber daya manusia, Tim Teknis Provinsi telah mengikuti rapat koordinasi dan pelatihan dari pemerintah pusat, baik terkait teknis pendataan maupun teknis pelaksanaan.
Tim yang telah mengikuti pelatihan akan melakukan diseminasi kepada tim teknis kabupaten/kota secara daring.
“Semoga TKA SD dan SMP ini bisa berjalan dengan baik serta sesuai ketentuan yang berlaku. Kami harap juga hasil TKA dapat menjadi dasar awal perbaikan proses belajar mengajar,” jelasnya.
Untuk mengantisipasi hambatan, Dinas Pendidikan Jateng melakukan inventarisasi kesiapan sarana dan prasarana, termasuk komputer, jaringan listrik, dan internet.
Pemantauan dilakukan secara menyeluruh mulai dari tahap pendataan, simulasi, gladi bersih, pelaksanaan utama dan susulan, hingga pengumuman hasil.
Verifikasi faktual kondisi sarana prasarana di setiap satuan pendidikan juga dilakukan guna memastikan kesiapan teknis dan SDM.
Dukungan TKA juga datang dari akademisi. Pengamat pendidikan Satria Dharma menilai TKA perlu dipahami sebagai instrumen pemetaan mutu pendidikan, bukan ujian penentu seperti Ujian Nasional.
“Secara teknis dan akademis TKA 2026 dirancang untuk membebaskan siswa dari beban kelulusan. Tapi tantangan implementasinya terletak pada aspek sosiologis di mana mentalitas Ujian Nasional telah mendarah daging selama puluhan tahun di masyarakat Indonesia,” kata dia.
Menurutnya, TKA dirancang untuk memperoleh data capaian akademik yang terstandar, objektif, dan berkualitas secara nasional.
Tes ini mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi , termasuk literasi, numerasi, dan pemecahan masalah.
TKA menyediakan standar penilaian yang sama di seluruh Indonesia, sehingga dapat mengatasi perbedaan standar nilai antar sekolah.
Hasilnya juga dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam seleksi ke jenjang pendidikan selanjutnya, sekaligus menjadi dasar pemetaan mutu pendidikan nasional.
Namun, Satria mengatakan, sosialisasi perlu dilakukan secara masif untuk TKA agar publik memahami bahwa hasil TKA tidak mempengaruhi kelulusan, melainkan menjadi alat diagnosis untuk memperbaiki pembelajaran.
“Hasil TKA harus dimanfaatkan sebagai assessment for learning, yaitu dasar untuk meningkatkan kualitas proses belajar mengajar,” tegasnya.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga agar TKA tidak berubah menjadi high stakes test yang mendorong siswa dan guru hanya berorientasi pada nilai.
Hal senada disampaikan komunitas pendidikan, Sidina Community. Koordinator Nasional Sidina Community, Leny Vinisah, menilai TKA merupakan tantangan sekaligus bentuk usaha untuk memahami kemampuan anak secara lebih terukur.
Menurutnya, antusiasme orang tua cukup tinggi, khususnya yang anaknya berada di kelas 6 dan 9.
Para orang tua aktif berkomunikasi dengan guru serta mendorong sekolah mengadakan sosialisasi terkait TKA.
Ia berharap hasil TKA dapat dipakai untuk melihat kemampuan anak secara komprehensif, bukan membandingkan satu anak dengan anak lainnya secara nasional.
Leny juga berharap TKA menjadi alat pemetaan belajar yang adil dan humanis, tanpa menambah tekanan bagi siswa maupun orang tua.
“Pendampingan guru dan komunikasi yang baik dengan orang tua sangat penting agar TKA mendorong budaya belajar yang sehat serta pengembangan potensi anak, bukan sekadar berorientasi pada angka,” jelasnya.
Sebagai Informasi, jumlah pendaftaran TKA jenjang SD dan SMP yang dibuka sejak 19 Januari hingga 13 Februari 2026 menunjukkan capaian yang sangat tinggi.
Untuk jenjang SD/MI sederajat, tercatat sebanyak 4.424.658 peserta telah mendaftar atau setara dengan 99,19 persen, sementara pada jenjang SMP/MTs sederajat jumlah pendaftar mencapai 4.293.547 peserta atau 98,17 persen.
Secara keseluruhan, total pendaftar TKA untuk jenjang SD dan SMP mencapai 8.718.205 peserta atau sekitar 98,69 persen dari target yang ditetapkan.

Ananda Astri Dianka
Editor
