Tren Ekbis

Kontribusi Konsumsi Rumah Tangga RI pada PDB Menurun

  • BPS catat kontribusi konsumsi rumah tangga terhadap PDB turun jadi 53,63% meski pertumbuhannya naik 5,11%. Simak pemicunya.
Jam Operasional Mal .jpg
Pengunjung melintas di area tetant salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta, Selasa, 14 Desember 2021. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia (trenasia.com)

JAKARTA, TRENASIA.ID—Meski pertumbuhannya meningkat, kontribusi konsumsi rumah tangga terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia justru mengalami penurunan pada triwulan IV 2025. 

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, porsi konsumsi rumah tangga terhadap PDB turun tipis menjadi 53,63%, dari sebelumnya 53,71% pada periode yang sama tahun lalu. Temuan ini cukup menarik mengingat konsumsi rumah tangga tumbuh lebih tinggi, yakni 5,11% secara tahunan (year on year/yoy), dibanding triwulan IV 2024 yang hanya 4,98%.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia sendiri tercatat 5,39% (yoy). Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menegaskan konsumsi rumah tangga tetap menjadi tulang punggung perekonomian nasional. 

“Komponen pengeluaran yang memiliki kontribusi terbesar terhadap PDB dari sisi pengeluaran adalah konsumsi rumah tangga, dengan kontribusi sebesar 53,63%, dan konsumsi rumah tangga ini tumbuh sebesar 5,11% pada triwulan IV 2025," ujarnya saat konferensi pers di Jakarta, Kamis, 5 Februari 2026.

Investasi Tumbuh Lebih Tinggi

Penurunan kontribusi konsumsi rumah tangga ini mengindikasikan ada komponen lain yang tumbuh lebih cepat. Data BPS menunjukkan investasi atau pembentukan modal tetap bruto (PMTB) mencatat pertumbuhan lebih tinggi, yakni 6,12% (yoy), dengan andil 30,02% terhadap PDB.

Komponen penyumbang lainnya adalah ekspor yang tumbuh 3,25% (yoy) dengan kontribusi 23,08%; konsumsi pemerintah yang memberi sumbangan 9,95% dengan pertumbuhan 4,55%; serta konsumsi Lembaga Non-Profit yang Melayani Rumah Tangga (LNPRT) sebesar 1,38%.

Sementara itu, impor yang naik 3,56% (yoy) justru memberikan kontribusi negatif sebesar minus 21,43% terhadap PDB. Meski kontribusinya turun, Amalia menegaskan konsumsi rumah tangga masih menjadi motor penggerak utama ekonomi.

"Jika dilihat dari sumber pertumbuhan, pada triwulan IV 2025, konsumsi rumah tangga masih menjadi sumber pertumbuhan terbesar, yaitu dengan memberikan sumbangan sebesar 2,68% basis poin. Selain itu, pertumbuhan ekonomi triwulan IV 2025 juga ditopang oleh komponen PMTB, dengan sumber pertumbuhan 1,96%, dan konsumsi pemerintah dengan sumber pertumbuhan 0,43%," paparnya.

Baca Juga: Pakar UGM: Negara Potensi Gagal Penuhi Target Pendapatan 2025

Lebih lanjut, pertumbuhan ekonomi pada kuartal keempat mencapai 5,39%, nyaris sesuai proyeksi Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa dan sedikit di atas perkiraan ekonom. Meski demikian, pertumbuhan ekonomi sepanjang 2025 hanya mencapai 5,11%, di bawah APBN sebesar 5,2%. 

Ekonom BCA, David Sumual, memproyeksi pertumbuhan ekonomi pada kuartal terakhir tahun lalu sebesar 5,26%. Adapun pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun mencapai 5,07% secara tahunan.  

Sementara Department Head of Macroeconomic and Financial Market Research Permata Bank Faisal Rachman, memproyeksi ekonomi Indonesia sepanjang 2025 tumbuh 5,07%. “Kami memperkirakan pertumbuhan PDB Indonesia akan meningkat dari 5,04% menjadi 5,25% secara tahunan pada kuartal keempat 2025," kata Faisal, dikutip dari Antara. 

Faisal menjelaskan, proyeksi kinerja yang lebih kuat pada kuartal IV 2025 didorong membaiknya permintaan domestik, khususnya konsumsi rumah tangga, belanja pemerintah, dan pembentukan modal tetap bruto (PMTB).