Konflik AS-Iran, Harga Minyak dan Daya Beli Terguncang
- Konflik AS–Iran dorong harga minyak naik, berpotensi menekan subdisi pemerintah dan daya beli khususnya anak muda. Indonesia siap-siaga.

Maharani Dwi Puspita Sari
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Ketegangan konflik antara Amerika Serikat (AS)-Iran memicu krisis energi global yang akan berdampak luas terhadap ekonomi dunia, termasuk Indonesia.
Pakar Hukum Internasional dari Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSURA), Satria Unggul Wicaksana, menilai konflik ini berpotensi memicu krisis energi global hingga membuka kemungkinan terjadinya perang dunia.
“Kita tentu memahami bahwa dampak dari perang itu luar biasa besar. Masyarakat dunia sangat terpukul dan tentu tidak ingin kembali ke dalam situasi perang dengan eskalasi besar,” ujarnya, dikutip dari laman resmi Universitas Muhammadiyah Surakarta, Senin, 2 Maret 2026.
Ia juga menegaskan bahwa eskalasi geopolitik ini dapat menekan pasokan minyak mentah dan menaikkan harga energi secara signifikan. “Ini bukan hanya soal perang, tetapi juga dapat melumpuhkan ekonomi dan perdagangan global serta memicu krisis ekonomi dunia yang lebih masif,” jelas Satria.
Konflik yang terjadi di kawasan Timur Tengah, wilayah yang menjadi poros utama produksi dan distribusi minyak dunia dianggap mengganggu aliran energi global. Jalur strategis seperti Selat Hormuz, yang mengalirkan sekitar 20% perdagangan minyak dunia, menjadi titik rawan ketika konflik memanas. Jika gangguan pasokan terjadi, harga minyak bisa melonjak tajam, bahkan menembus level US$100 per barel.
Lonjakan Harga Minyak & Ancaman ke Ekonomi Nasional
Melansir dari MEMO, Senin, 2 Maret 2026, lonjakan harga minyak berimplikasi langsung pada berbagai sektor ekonomi. Sebagai negara pengimpor minyak mentah, Indonesia akan berada dalam posisi rentan menghadapi kenaikan biaya energi. Pertumbuhan harga minyak bisa mendorong inflasi domestik, meningkatkan biaya produksi, distribusi barang, serta tekanan pada subsidi energi dan belanja negara lainnya.
Tekanan fiskal juga berpotensi menggerus ruang anggaran prioritas seperti pendidikan, kesehatan, dan pembangunan infrastruktur. Dalam kondisi harga minyak tinggi, pemerintah harus menangani beban tambahan subsidi energi, guna menyempitkan ruang fiskal dan kenaikan harga komoditas lain seperti bahan pangan.
Selain itu, Indonesia harus mewaspadai dampak pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, yang selama periode gejolak global sering terjadi. Nilai tukar yang melemah dapat menambah beban biaya impor, termasuk untuk bahan bakar minyak dan pangan.
Tekanan Inflasi dan Daya Beli Generasi Muda
Bagi generasi muda, terutama yang baru memasuki dunia kerja atau konsumen aktif, dampak ini dapat terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Nailul Huda mengatakan, kenaikan harga minyak mentah secara langsung meningkatkan kebutuhan anggaran subsidi energi, sehingga berisiko memperlebar beban belanja negara dalam waktu singkat.
“Ketika harga minyak naik, maka beban subsidi pemerintah akan membengkak, terutama untuk BBM. Anggaran kita bisa jebol apabila tidak ada realokasi belanja untuk menutup kenaikan subsidi tersebut,” ujar Huda, dikutip Senin, 2 Maret 2026.
Menurutnya, ruang fiskal pemerintah saat ini sangat terbatas. Harga BBM yang meningkat cenderung ikut mendorong kenaikan biaya transportasi, logistik, dan kebutuhan pokok lainnya. Tekanan pada daya beli ini bisa mengurangi kemampuan konsumsi, terutama di kalangan pelajar, mahasiswa, dan pekerja muda.
Lonjakan energi bisa mengganggu perencanaan keuangan pribadi dan keluarga muda, memaksa mereka menyesuaikan prioritas belanja. Selain itu, ketidakpastian harga energi global juga dapat menahan investor untuk melakukan ekspansi usaha, sehingga berimbas pada pelambatan penciptaan lapangan kerja baru.
Di tengah ketidakpastian global, generasi muda diimbau untuk meningkatkan literasi finansial dan memahami dinamika ekonomi internasional yang dapat memengaruhi kehidupan.
Untuk mendukung hal tersebut, generasi muda dapat melakukan beberapa hal seperti penyesuaian gaya hidup hemat, investasi pada skill ketenagakerjaan masa depan, dan pemantauan kondisi pasar secara berkala.

Ananda Astridianka
Editor
