AS-Israel Gempur Iran, Pola Historis Saham Migas Terulang?
- Serangan udara Amerika Serikat dan Israel ke Iran memicu lonjakan harga minyak. Kondisi ini berpeluang mengulang pola historis penguatan saham MEDC serta ENRG.

Alvin Bagaskara
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Ketegangan geopolitik Timur Tengah kembali mencapai titik didih tertinggi setelah Amerika Serikat dan Israel meluncurkan serangan udara terkoordinasi ke wilayah Iran pada Sabtu, 28 Februari 2026. Operasi preemptive strike berskala besar ini secara spesifik menargetkan netralisasi fasilitas nuklir dan kapabilitas rudal balistik milik Teheran.
Eskalasi bersenjata pada akhir pekan ini diantisipasi akan memicu reaksi pasar komoditas global, menyusul pergerakan harga minyak mentah dunia yang telah naik 2% hingga 3% pada masa pra-serangan. Oleh karena itu investor disarankan memantau secara ketat potensi gangguan pasokan energi secara nyata jika konflik meluas ke jalur distribusi utama.
Menyikapi gejolak harga minyak mentah tersebut, pergerakan saham emiten energi di Bursa Efek Indonesia seperti PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) dan PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) bisa dicermati karena pola historis memperlihatkan saham energi sering kali hijau ketika konflik Timur Tengah memuncak.
Eskalasi Preemptif di Pusat Iran
Serangan militer terkoordinasi dilaporkan menghantam sejumlah situs strategis di wilayah vital Iran. Titik ledakan terdeteksi melanda ibu kota Teheran, Isfahan, Qom, Karaj, hingga Kermanshah, dengan kepulan asap tebal yang terlihat jelas di udara sekitar area fasilitas pemerintahan.
Operasi militer ini diklaim sebagai serangan preemptive strike untuk menetralisir ancaman nuklir Iran pasca akumulasi ketegangan pada tahun lalu. "Ini adalah operasi masif dan berkelanjutan untuk membongkar rudal Iran dan mencegah ancaman nuklir," tegas Presiden Amerika Serikat, Donald Trump dikutip dari Bloomberg pada Sabtu, 28 Februari 2026.
Merespons gempuran mendadak tersebut, otoritas Iran langsung mengambil langkah penutupan seluruh wilayah udaranya. Di sisi lain, meskipun ketegangan telah memuncak, hingga saat ini belum ada laporan resmi yang mengonfirmasi adanya jumlah korban jiwa secara spesifik akibat serangan langsung tersebut.
Realitas Dampak Harga Minyak Global
Berdasarkan data dari Bloomberg, harga kontrak minyak mentah jenis Brent ditutup pada kisaran US$72 hingga US$73 per barel pada perdagangan Jumat. "Posisi harga tersebut mencerminkan kenaikan 2% hingga 3% akibat ketegangan pra-serangan," tulis Analis BloombergNEF, Yiwen Yin dan Tai Liu, dalam ulasannya.
Artinya, kata Yiwen Yin dan Tai Liu, pasar komoditas global belum menunjukkan tanda-tanda aksi beli panik yang ekstrem dan instan. Namun, harga minyak mentah hanya berisiko naik menyentuh level US$80 per barel jika benar-benar terjadi disrupsi pasokan fisik secara nyata di lapangan.
Bahkan, risiko terburuk diprediksi baru akan muncul jika terjadi disrupsi fatal pada fasilitas ekspor Pulau Kharg maupun blokade rute logistik Selat Hormuz oleh Iran yang merupakan urat nadi jalur minyak dunia. Tak ayal, jika skenario itu terjadi, kata analis Bloomberg, minyak Brent diproyeksikan bisa menembus US$91 per barel pada akhir 2026.
Rekam Jejak Lonjakan Energi April 2024
Fenomena volatilitas harga minyak akibat konflik militer ini mengingatkan pelaku pasar pada eskalasi bersenjata yang terjadi pada pertengahan April 2024. Saat itu, aksi saling serang menggunakan pesawat nirawak dan rudal balistik antara Iran dan Israel memicu kepanikan di bursa finansial.
Kala itu, harga minyak mentah Brent langsung melesat menembus level psikologis US$90 Dolar per barel akibat tingginya spekulasi gangguan pasokan energi. Kondisi makro tersebut memberikan tekanan jual yang sangat berat bagi pergerakan indeks bursa, namun menyuntikkan tenaga bagi emiten berbasis energi.
Tak butuh butuh waktu lama, saham terafiliasi komoditas minyak bumi seketika bergerak melawan arus pelemahan bursa saham domestik dan menjadi pusat perhatian. Pada perdagangan Jumat, 19 April 2024, saham MEDC memimpin penguatan dengan melesat 3,67%, diiringi lonjakan volume transaksi pada saham energi lainnya.
Pola Berulang pada Krisis Oktober 2024
Pola anomali pergerakan bursa saham di tengah krisis geopolitik tersebut kembali terulang secara identik pada awal Oktober 2024. Eskalasi memanas seketika ketika militer Iran meluncurkan rentetan rudal balistik secara langsung ke wilayah Israel pada tanggal 1 Oktober 2024.
Serangan bersenjata tersebut langsung merombak peta pergerakan harga komoditas global yang sebelumnya sedang berada dalam tren pelemahan. Harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate yang sempat lesu di bawah US$70 per barel, langsung berbalik arah melonjak hampir 2,5%.
Pada hari perdagangan berikutnya, saham emiten hulu migas seperti MEDC dan ENRG langsung menyerap sentimen positif dan bergerak menguat. Tidak ketinggalan, saham PT Elnusa Tbk (ELSA) juga ikut melesat ditopang oleh ekspektasi pengamanan pendapatan kontrak jasa korporasi akibat naiknya harga minyak.
Posisi Hijau Saham Migas
Mengantisipasi ketegangan yang sudah memuncak sebelum akhir pekan, deretan saham sektor energi bisa menjadi rujukan investor pada Senin, 2 Maret 2026, mengingat pola historis menunjukkan penguatan harga ketika eskalasi konflik Timur Tengah. Uniknya, mayoritas emiten migas dan jasa penunjangnya terpantau sukses membukukan rapor hijau pada penutupan perdagangan akhir pekan ini.
Di posisi pertama, ada saham emiten eksplorasi migas ENRG yang harga sahamnya melonjak 8,33% atau melesat Rp135 ke level Rp1.755 per lembar. Penguatan impresif ini disusul oleh emiten produsen migas MEDC yang menguat 2,38% menuju harga Rp1.720, serta saham penyedia jasa penunjang migas ELSA yang ditutup naik 0,59% pada level Rp850 per lembar.
Selain hulu migas murni, penguatan juga dirasakan oleh sejumlah emiten infrastruktur gas dan bahan bakar lainnya. Misalnya, saham penyedia infrastruktur gas bumi RAJA menguat 2,28% ke Rp4.490, emiten distributor AKRA melesat 4,00% ke Rp1.300, dan operator jaringan transmisi gas PGAS ditutup naik 3,91% di harga Rp2.390.

Alvin Bagaskara
Editor
