Godaan THR: Pilih Baju SUKO atau Pesona Dividen Jumbo LPPF?
- Dilema investor muda jelang lebaran antara belanja baju atau investasi saham LPPF. Matahari usulkan dividen tunai dengan proyeksi imbal hasil 13,08 persen.

Alvin Bagaskara
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Cairnya gaji bulan Februari dan Maret yang berdekatan dengan dana THR Lebaran 2026 sering memicu godaan belanja konsumtif. Anak muda kini dihadapkan pada dilema antara memborong koleksi baju elegan SUKO besutan Matahari atau cerdas memborong saham ritel tersebut.
PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) memang tengah gencar mempromosikan merek lokal SUKO sebagai penantang serius Uniqlo. Namun, daya tarik sesungguhnya justru terletak pada pesona saham perseroan yang selalu terbukti konsisten mencetak uang tunai bernilai jumbo bagi para pemegang sahamnya.
Meski laporan keuangan tahun 2025 menunjukkan laba bersih terkoreksi 12,4% menjadi Rp725 miliar, manajemen tetap menjaga penuh kepercayaan para investor. Melalui materi paparan publik yang diunggah di Bursa Efek Indonesia, perseroan resmi mengusulkan pembagian dividen tunai fantastis sebesar Rp250 per lembar saham untuk dibahas dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) mendatang.
Pesona SUKO dan Geliat Harga Saham
Pada penutupan perdagangan Jumat, 27 Februari 2026, saham LPPF bertengger di level Rp1.910 per saham setelah melemah tipis 0,26%. Tingkat imbal hasil dividen atau Dividend Yield dari usulan tersebut mencapai kisaran 13,08%, jauh melampaui rata-rata bunga deposito perbankan nasional.
Tingkat imbal hasil dua digit ini memaksa pelanggan muda berpikir ulang untuk sekadar menghabiskan dana tunjangan demi penampilan visual. Keputusan mengalokasikan dana tersebut menjadi aset investasi produktif dinilai jauh lebih cerdas dibandingkan memborong koleksi pakaian yang rentan mengalami penyusutan.
Manajemen sendiri sangat optimistis bahwa kehadiran format gerai modern dan koleksi SUKO sanggup menarik demografi pelanggan muda tanah air. Transformasi lini produk fesyen ini diharapkan mampu menjaga kesinambungan arus kas operasional perusahaan di tengah ketatnya persaingan industri ritel nasional.
Kondisi Likuiditas dan Kekuatan Arus Kas
Usulan dividen tunai Rp250 per saham menunjukkan tingkat kepercayaan diri manajemen yang sangat tinggi terhadap kondisi likuiditas internal perusahaan. Nominal ini dinilai sudah sangat optimal karena telah diseimbangkan dengan rencana alokasi belanja modal untuk pembukaan gerai dan investasi teknologi.
Kekuatan finansial Matahari untuk membayarkan dividen terlihat sangat jelas dari posisi neraca keuangan pada akhir Desember 2025 lalu. Perusahaan tercatat duduk di atas tumpukan kas sebesar Rp448 miliar, meningkat tajam dibandingkan posisi tahun sebelumnya yang hanya menempati angka Rp399 miliar.
Tak hanya itu, perseroan juga masih memiliki fasilitas pinjaman bank yang belum digunakan dengan nilai nominal fantastis sebesar Rp1,7 triliun. Ketersediaan dana cadangan ini memastikan ruang gerak finansial perusahaan tetap sangat longgar dalam menghadapi berbagai dinamika tantangan bisnis ritel.
Rekam Jejak Loyalitas Pembagian Dividen
Fenomena imbal hasil raksasa ini mempertegas rekam jejak historis Matahari sebagai salah satu emiten paling royal di Bursa Efek Indonesia. Pada tahun buku 2024, perseroan sukses membagikan dividen Rp300 per saham dengan Dividend Yield mencapai 15% serta rasio pembayaran sebesar 82%.
Konsistensi yang sangat kuat ini juga terlihat secara nyata pada tahun buku 2023 di mana dividen dibayarkan mencapai Rp200. Bahkan pada tahun buku 2022, emiten LPPF pernah menebar dividen fantastis sebesar Rp525 per saham dengan tingkat imbal hasil yang menggiurkan.
Meskipun sempat absen membagikan laba pada tahun buku 2020 akibat dampak pandemi global, Matahari segera bangkit pada periode berikutnya. Loyalitas ini membuat saham LPPF selalu menjadi portofolio wajib bagi para investor yang mengutamakan bagi hasil rutin setiap tahun buku berjalan.
Simulasi Mengawinkan Gaya Hidup dan Investasi
Agar hasrat belanja koleksi SUKO tetap terpenuhi tanpa mengorbankan investasi, mari gunakan simulasi standar Upah Minimum Provinsi wilayah DKI Jakarta tahun 2026 sebesar Rp5.729.876. Anda cukup menyisihkan 20% dari gaji rutin bulanan dan mengambil maksimal 50% dari dana tunjangan hari raya.
Lewat alokasi 20% gaji Februari senilai Rp1.145.975 dan gaji Maret Rp1.145.975, ditambah 50% THR sebesar Rp2.864.938, total modal terkumpul menembus angka Rp5.156.888. Sisa THR bernilai jutaan tersebut tetap bisa digunakan secara bebas untuk memborong koleksi baju elegan SUKO guna merayakan Lebaran.
Strategi alokasi dana secara proporsional ini memastikan keamanan likuiditas keuangan pribadi Anda tidak terganggu sama sekali. Kebutuhan gaya hidup untuk tampil modis tetap terpenuhi secara maksimal, namun Anda juga mulai membangun kebiasaan positif dalam menciptakan mesin pendapatan pasif jangka panjang.
Prospek Cuan Dividen Menjelang Lebaran
Jika seluruh uang investasi Rp5,15 juta tersebut langsung dibelikan saham emiten ritel ini dengan menggunakan asumsi harga Rp1.910 per lembar, maka Anda bisa mendapatkan 26 lot. Transaksi pembelian total 2.600 lembar saham LPPFtersebut memakan modal senilai angka mutlak Rp4.966.000.
Menjelang hari perayaan Lebaran nanti, Anda hanya perlu bersabar menahan seluruh 26 lot saham berharga tersebut melewati batas tanggal Cum Date. Mengacu pada estimasi usulan dividen tunai senilai Rp250 per lembar, imbal hasil investasi bulanan Anda terbilang sangat amat menggiurkan.
Anda berhak menerima uang tunai sebesar Rp650.000 sebagai tambahan penghasilan guna mengisi saldo dompet digital saat momen Lebaran tiba. Hal paling krusial, aset utama berupa 26 lot saham senilai lima jutaan tersebut tetap utuh tercatat sebagai investasi jangka panjang yang sangat menguntungkan.

Alvin Bagaskara
Editor
