Tren Global

Minta Realistis, Prabowo Dianggap Mustahil Damaikan AS-Iran

  • Dino Patti Djalal menilai serangan AS dan Israel ke Iran bertujuan menggulingkan rezim, bukan sekadar menghentikan program nuklir Teheran.
Trump - Prabowo.jpg
Pertemuan Trump-Prabowo. (Reuters)

JAKARTA, TRENASIA.ID - Mantan Wakil Menteri Luar Negeri RI Dino Patti Djalal menilai serangan militer Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada 28 Februari 2026 bukan sekadar operasi untuk menghentikan program nuklir Teheran. Menurutnya, terdapat agenda geopolitik yang jauh lebih berbahaya, yakni upaya sistematis untuk menumbangkan pemerintahan Iran.

Melalui serangkaian pernyataan di kanal media sosialnya, Dino menyampaikan analisis, kritik keras terhadap aksi militer tersebut, serta imbauan tegas agar Pemerintah Indonesia mengambil sikap yang lebih jelas dan berprinsip.

Dino menduga kuat serangan tersebut merupakan bagian dari strategi perubahan rezim yang didorong oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

Ia memperingatkan bahwa jika tujuan utama adalah perubahan rezim, maka konflik ini hampir pasti akan berlangsung panjang dan brutal. Menurutnya, Iran tidak akan berkompromi jika eksistensi negaranya menjadi sasaran.

Dino juga menilai berbagai instrumen akan digunakan untuk mencapai tujuan tersebut, mulai dari serangan militer langsung, tekanan ekonomi dan sosial, hingga operasi intelijen dan mobilisasi massa.

Baca juga : Blokade Selat Hormuz, Pasar Energi dan Kripto Kocar-kacir

Kecaman terhadap Amerika Serikat dan Israel

Dalam analisanya, Dino Patti Djalal mengecam keras aksi militer Amerika Serikat dan Israel yang dinilainya telah melanggar prinsip-prinsip dasar hukum internasional, termasuk penghormatan terhadap kedaulatan negara dan larangan penggunaan kekuatan secara sepihak. 

Ia menegaskan tindakan semacam ini tidak hanya bertentangan dengan Piagam PBB, tetapi juga merusak fondasi sistem internasional yang selama ini dibangun melalui diplomasi dan mekanisme multilateral.

Menurut Dino, serangan tersebut merupakan contoh nyata dari aksi unilateral yang berbahaya karena menciptakan preseden buruk. Ketika negara kuat merasa berhak menyerang negara lain tanpa mandat internasional yang jelas, maka tatanan global berbasis aturan akan runtuh. 

Dampaknya, ruang diplomasi semakin menyempit, kepercayaan antarnegara tergerus, dan risiko instabilitas baik di kawasan Timur Tengah maupun secara global meningkat tajam.

Kritik tajam juga diarahkan Dino pada waktu pelaksanaan serangan yang bertepatan dengan bulan suci Ramadan. Ia menilai keputusan tersebut menunjukkan ketidakpekaan serius terhadap kondisi psikologis dan emosional umat Islam di seluruh dunia. 

Dalam pandangannya, serangan militer di momen yang sakral bagi umat Muslim bukan hanya memperdalam luka kolektif, tetapi juga berpotensi memicu kemarahan lintas negara dan lintas mazhab.

Dino memperingatkan bahwa kombinasi pelanggaran hukum internasional, aksi sepihak, dan ketidakpekaan kultural seperti ini justru akan memperluas jurang konflik. Alih-alih menciptakan keamanan, langkah tersebut dinilai hanya akan memperbesar resistensi, memperkuat narasi perlawanan, dan mendorong eskalasi yang semakin sulit dikendalikan.

Baca juga : Khamenei Meninggal, Bagaimana Penggantinya Dipilih?

Prabowo Tak Realistis

Dino secara khusus menyoroti sikap Pemerintah Indonesia yang dinilainya masih terlalu lunak. Ia mendesak agar Indonesia secara eksplisit mengecam Amerika Serikat dan Israel, bukan sekadar mengeluarkan pernyataan normatif.

Ia mengingatkan bahwa prinsip politik luar negeri Indonesia yang bebas dan aktif tidak boleh berubah menjadi diplomasi yang “nurut dan sungkan” terhadap negara adikuasa.

“Kita harus berani menyatakan apa yang benar, benar, dan apa yang salah, salah, apa pun risikonya,” jelas Dino dalam unggahan instagram resminya.

Dino juga mengkritisi rencana Presiden Prabowo Subianto yang disebut-sebut ingin terbang ke Teheran untuk menjadi mediator konflik. Ia menilai langkah tersebut tidak realistis dan berisiko tinggi.

"Saya meyakini Presiden Trump tidak ingin Indonesia ikut campur karena mood-nya gelap mata untuk menumbangkan pemerintah Iran," ungkap Dino.

Menurut Dino, ada empat kendala utama. Pertama, Amerika Serikat sebagai negara adikuasa hampir tidak pernah bersedia dimediasi, apalagi ketika sedang bertekad menjatuhkan pemerintahan lawan. Kedua, tidak adanya kedekatan diplomatik yang memadai antara Indonesia dan Iran dalam lebih dari satu tahun terakhir.

Ketiga, secara logistik dan politik, hampir mustahil membayangkan Presiden AS dan Menteri Luar Negerinya bersedia datang ke Teheran untuk proses mediasi. Keempat, proses mediasi hampir pasti menuntut pertemuan dengan PM Israel Benjamin Netanyahu, yang dinilai Dino sebagai bunuh diri politik bagi Presiden Prabowo di dalam negeri.

"Ini akan menjadi bunuh diri politik bagi Presiden Prabowo di dalam negeri," jelas Dino.

Di akhir pernyataannya, Dino melontarkan peringatan serius mengenai dampak global dari konflik ini. Ia menilai pembiaran terhadap intervensi militer sepihak semacam ini dapat menciptakan preseden berbahaya.

Jika pola tersebut ditiru oleh negara lain di kawasan berbeda, dunia berisiko terseret ke dalam Perang Dunia Ketiga, ujarnya. Dino juga menyoroti dampak besar dari tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan tersebut. Menurutnya, peristiwa itu berpotensi menyeret lebih banyak aktor internasional dan memperluas konflik di Timur Tengah.

Ia menegaskan bahwa seluruh analisis tersebut merupakan pandangan pribadinya sebagai mantan pejabat diplomatik, namun disampaikan sebagai peringatan atas eskalasi global yang dinilainya semakin sulit dikendalikan.