Sektor UMKM yang Berpeluang Melompat Usai Deal dengan AS
- Prabowo siap menandatangani kesepakatan tarif dagang dengan AS, langkah ini dinilai bisa membuka peluang pasar ekspor bagi UMKM dan industri Indonesia.

Maharani Dwi Puspita Sari
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Kunjungan kerja Presiden Prabowo Subianto ke Washington DC, menekan kesepakatan kebijakan tarif antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS). Kesepakatan ini diproyeksikan membuka akses baru bagi produk Indonesia ke pasar besar dunia dan memberi peluang ekspor lebih luas, khususnya untuk Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dan industri dalam negeri.
Melansir dari Business Today, Jumat, 20 Februari 2026, pemerintah Indonesia berharap perjanjian tarif ini dapat memperkuat neraca perdagangan, yang masih mencatat surplus US$41,05 miliar sepanjang 2025, sekaligus membuka pasar yang lebih kompetitif bagi produk lokal.
Peluang Ekspor bagi UMKM & Industri
Menurut Eksekutif Director Segara Institute, Piter Abdullah, pemerintah berkomitmen untuk meraih perjanjian tarif yang paling menguntungkan bagi Indonesia. Dengan tarif yang lebih bersahabat, komoditas unggulan seperti Crude Palm Oil (CPO), tekstil, alas kaki, dan karet berpotensi mendapatkan akses pasar AS yang lebih luas yang kemudian berdampak positif pada rantai pasok UMKM domestik.
Sementara itu, Ekonom UGM, Eddy Junarsin, menambahkan komitmen perdagangan Indonesia dan AS juga memiliki tujuan yang nyata dalam menjaga posisi Indonesia di tengah persaingan global.
“Indonesia ingin tetap menjadi negara yang independen dan netral dalam konteks persaingan pengaruh global. Konstelasi ekonomi tidak bisa dipisahkan dari politik, sosial, teknologi, lingkungan, dan hukum internasional,” ujarnya, dikutip Jumat, 20 Februari 2026.
Jika tarif perdagangan dengan AS menjadi lebih bersahabat, dampaknya tidak hanya dirasakan eksportir besar, tetapi juga merambat hingga ke pelaku UMKM di dalam negeri melalui rantai pasok, yaitu:
1. Pertama, dari sisi CPO. Indonesia merupakan produsen dan eksportir CPO terbesar dunia. Data Kementerian Perdagangan menunjukkan ekspor produk sawit dan turunannya secara konsisten menjadi penyumbang devisa nonmigas terbesar.
Berdasarkan Data Produksi & Ekspor Sawit GAPKI, jika tarif AS terhadap produk turunan sawit seperti oleokimia, margarin, atau biodiesel lebih rendah, maka volume ekspor berpotensi meningkat. Dampaknya, permintaan bahan baku dari petani sawit, koperasi, hingga UMKM pengolah produk turunan ikut terdorong.
2. Kedua, sektor tekstil dan produk tekstil (TPT). Industri TPT merupakan salah satu sektor padat karya terbesar di Indonesia dan banyak melibatkan UMKM sebagai pemasok kain, aksesoris, bordir, hingga jasa maklon.
Jika tarif masuk produk tekstil Indonesia ke AS lebih kompetitif dibanding negara pesaing, maka order ekspor dari brand global berpotensi meningkat. Kenaikan permintaan ini akan mengalir ke pelaku UMKM konveksi, penjahit rumahan, hingga produsen kain skala kecil yang menjadi bagian dari supply chain.
3. Ketiga, industri alas kaki. Indonesia termasuk lima besar eksportir alas kaki dunia. Banyak pabrik besar bekerja sama dengan UMKM lokal untuk komponen seperti sol, tali sepatu, kemasan, dan jasa finishing.
Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik Januari-Maret 2025, AS mendominasi produk ekspor dari Indonesia seperti industri pakaian dan alas kaki. Oleh karena itu, tarif yang lebih rendah membuat harga produk lebih kompetitif di pasar AS.
Dengan meningkatnya ekspor, kebutuhan komponen dari UMKM domestik ikut naik, sehingga menciptakan multiplier effect terhadap tenaga kerja dan produksi lokal.
4. Keempat, sektor karet dan produk turunannya. Produk seperti ban, sarung tangan, hingga komponen otomotif berbasis karet memiliki pasar ekspor signifikan. UMKM yang bergerak di pengolahan karet setengah jadi atau produk turunan sederhana akan terdorong, jika industri manufaktur besar meningkatkan kapasitas produksi akibat permintaan ekspor yang naik.
Secara makro, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa Amerika Serikat secara konsisten masuk dalam tiga besar tujuan ekspor nonmigas Indonesia. Hal ini mengakibatkan setiap perbaikan akses pasar ke AS berpotensi memberi dampak langsung terhadap kinerja ekspor nasional.
Ketika ekspor meningkat, industri besar akan meningkatkan produksi, sehingga UMKM yg berperan sebagai bagian dari rantai pasok, mendapatkan peluang tambahan pesanan, perluasan kapasitas, hingga akses pembiayaan yang lebih baik.

Maharani Dwi Puspita Sari
Editor
