Tren Global

Menakar Plus Minus Kerja Sama Dagang RI-AS

  • Kesepakatan dagang RI–AS beri perlindungan CPO, kopi, dan kakao. Tapi lonjakan impor gandum, kedelai, dan komoditi lain jadi sorotan.
Trump - Prabowo.jpg

JAKARTA, TRENASIA - Presiden Prabowo melakukan kunjungan ke Amerika Serikat dalam rangka menghadiri pertemuan perdana The Board of Peace (BoP). Selain melakukan pertemuan tersebut Prabowo juga menyampaikan pidato dalam agenda Business Summit di Washington DC, Amerika Serikat, Rabu, 18 Februari 2026.

Agenda tersebut mempertemukan dirinya dengan Kamar Dagang Amerika Serikat (USCC), US-ASEAN Business Council (USABC), dan US-Indonesia Society (USINDO) untuk membahas penguatan kemitraan ekonomi Indonesia - AS melalui sinergi pemerintah dan dunia usaha di berbagai sektor.

Sebelumnya, Prabowo telah menandatangani Agreement on Reciprocal Trade (ART), sebuah kesepakatan dagang yang diklaim membuka akses pasar lebih luas sekaligus menarik investasi miliaran dolar. 

Dalam perjanjian ini, tarif produk AS ke Indonesia diturunkan dari 32% menjadi 19%, sementara Indonesia memberikan fasilitas bebas tarif bagi 99% produk AS yang masuk ke pasar domestik. 

Di satu sisi, langkah ini dipandang sebagai penguatan hubungan dagang bilateral, namun di sisi lain memunculkan perdebatan mengenai keseimbangan manfaat dan risiko jangka panjang bagi industri dalam negeri.

Baca juga : Stimulus Lebaran 2026 Rp800 T dan Proyeksi Cuan Saham Ritel

Sisi Positif

Dari sisi positif, komoditas unggulan Indonesia seperti CPO (minyak sawit), kopi, dan kakao mendapatkan pengecualian dari tarif 19% yang berlaku bagi sebagian besar produk Indonesia lainnya. 

Artinya, ketiga komoditas tersebut tetap kompetitif di pasar AS dan tidak mengalami tambahan beban tarif. Mengingat peran penting pasar AS terhadap ekspor agribisnis Indonesia, kebijakan ini dinilai sebagai keberhasilan strategis dalam menjaga daya saing dan stabilitas ekspor nasional.

Selain itu, kesepakatan ini juga menghasilkan komitmen investasi awal senilai US$7 miliar. Dari jumlah tersebut, US$4,89 miliar dialokasikan untuk joint venture semikonduktor dengan Essence Global Group, yang membuka peluang Indonesia masuk lebih dalam ke rantai pasok industri teknologi global. 

Kerja sama strategis juga dilakukan di sektor sumber daya alam dan energi, termasuk kolaborasi dengan Freeport-McMoRan dalam pengembangan mineral kritis serta kerja sama antara Pertamina dan Halliburton untuk peningkatan produksi minyak. Investasi ini menjadi sinyal positif bahwa Indonesia dipandang sebagai mitra strategis, bukan sekadar pasar.

Baca juga : Rambut Pink Bak Peri, 5 Fakta Menarik Carmen Hearts2Hearts

Sisi Negatif

Di balik peluang tersebut, terdapat risiko yang perlu dicermati. Indonesia berkomitmen mengimpor komoditas pertanian AS dalam jumlah besar, yakni 1 juta ton gandum pada 2026 yang akan meningkat menjadi 5 juta ton pada 2030, 1 juta ton kedelai senilai US$685 juta, 1,6 juta ton jagung, serta 93.000 ton kapas senilai US$122 juta. 

Volume ini dinilai jauh di atas rata-rata impor tahunan sebelumnya dan berpotensi menekan harga hasil pertanian lokal jika tidak dikelola secara hati-hati. Tanpa koordinasi yang kuat dengan pelaku usaha domestik, lonjakan impor bisa mengganggu stabilitas pasar dan merugikan petani dalam negeri.

Selain itu, terdapat isu komitmen pembelian pesawat dari Boeing yang dikhawatirkan dapat membebani keuangan negara. Dalam kondisi fiskal yang belum sepenuhnya kuat, tambahan komitmen belanja besar berpotensi mempersempit ruang fiskal pemerintah. 

Dari sisi daya saing, meskipun tarif nominal turun menjadi 19%, tarif efektif produk Indonesia di AS masih mencapai 19,7% per September 2025. Hanya sekitar 11% ekspor Indonesia yang benar-benar bebas tarif, sehingga posisi Indonesia masih tertinggal dibanding beberapa negara ASEAN lain.

Bahkan, sekitar 84% ekspor Indonesia ke AS masih berpotensi dikenakan tarif tambahan jika investigasi perdagangan dilanjutkan, menciptakan ketidakpastian bagi eksportir.

Secara keseluruhan, Agreement on Reciprocal Trade merupakan kesepakatan yang menghadirkan peluang besar sekaligus tantangan nyata. Keuntungan berupa perlindungan komoditas unggulan dan komitmen investasi miliaran dolar harus diimbangi dengan strategi pengelolaan impor dan kebijakan fiskal yang hati-hati agar manfaat jangka panjang benar-benar dapat dirasakan oleh perekonomian nasional.

Ringkasan Tarif

Inti Kesepakatan Tarif

  • Tarif produk AS ke Indonesia: 32% → 19%
  • Indonesia beri bebas tarif 99% produk AS
  • Tarif efektif produk RI di AS (Sept 2025): 19,7%
  • Hanya 11% ekspor RI benar-benar bebas tarif
  • 84% ekspor RI masih berisiko kena tarif tambahan

Dampak Positif (Plus)

  • Komoditas Ekspor Diuntungkan
    • CPO (sawit), kopi, kakao: dikecualikan dari tarif 19%
  • Komitmen Investasi
    • Total komitmen awal: US$7 miliar
    • US$4,89 miliar: Joint venture semikonduktor (Essence Global Group)
    • Kerja sama mineral kritis: Freeport
    • Kerja sama energi: Pertamina – Halliburton

Dampak Negatif (Minus)

  • Komitmen Impor Pertanian dari AS
    • Gandum: 1 juta ton (2026) → 5 juta ton (2030)
    • Kedelai: 1 juta ton (US$685 juta)
    • Jagung: 1,6 juta ton
    • Kapas: 93.000 ton (US$122 juta)
  • Potensi Beban Fiskal
    • Komitmen pembelian pesawat dari Boeing
    • Risiko tambahan tekanan pada APBN

Perbandingan Daya Saing Tarif

  • Indonesia: 19,7%
  • Thailand: 10,1%
  • Malaysia: 8,7%
  • Singapura: 75% ekspor bebas tarif