Stimulus Lebaran 2026 Rp800 T dan Proyeksi Cuan Saham Ritel
- Stimulus APBN Rp800 T jadi mesin ekonomi Lebaran 2026. Jangan FOMO, cek realita performa dan target harga saham MYOR (Rp2.440) serta RALS (Rp550) di sini!

Alvin Bagaskara
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Memasuki Ramadan 2026 dan Lebaran, pemerintah bersiap membakar uang hingga kisaran Rp800 triliun pada kuartal pertama. Pertanyaan kritisnya saat ini adalah, apakah guyuran dana tersebut benar-benar menandakan ekonomi pulih secara nyata atau sekadar sebuah taktik musiman bursa saham semata?
Angka fantastis mencapai Rp809 triliun merujuk pada proyeksi total belanja negara kuartal pertama. Dana raksasa inilah yang menjadi mesin utama penggerak perekonomian nasional di awal tahun guna mengakomodasi berbagai paket stimulus menjelang perayaan hari raya bagi emiten ritel.
Berdasarkan analisis fundamental pasar, euforia pemodal menjelang hari raya ini dinilai perlu disikapi dengan kewaspadaan tingkat tinggi. Berikut adalah empat rangkuman ulasan analitis yang membongkar realita pergerakan saham emiten konsumer agar pemodal tidak terjebak dalam jebakan manipulasi euforia.
1. Aliran Dana Mesin Ekonomi
Aliran dana ini mencakup puluhan triliun rupiah bantuan sosial langsung masyarakat, subsidi energi, hingga pupuk. Anggaran raksasa ini juga ditambah pembayaran tunjangan penuh bagi aparatur negara dan pensiunan yang diprediksi segera menelan total biaya sekitar kisaran angka Rp55 triliun.
Pemerintah turut menyalurkan triliunan rupiah uang transfer daerah guna memastikan kelancaran program pasar murah di desa. Dana tersebut meliputi pembiayaan operasional kementerian untuk memfasilitasi diskon transportasi serta percepatan penyelesaian proyek infrastruktur krusial sebelum momentum arus mudik raya dimulai.
Retail Research Analyst Sinarmas Sekuritas, Cindy Alicia Ramadhania, menegaskan hal ini kepada para pemodal. Ia menilai bahwa stimulus agresif ini bakal mendorong konsumsi jangka pendek yang sangat menguntungkan pergerakan harga saham perusahaan kategori ritel di dalam bursa efek.
2. Waspada Ilusi Angka Triliunan
Sebagai pengingat kritis, angka Rp800 triliun ini sebelumnya sangat populer untuk konteks utang. Pada pemberitaan lama, nominal tersebut menunjuk pada total kewajiban pembayaran seluruh utang jatuh tempo pemerintah pusat yang harus dilunasi secara sangat tepat waktu.
Menyikapi itu, Head of Research KISI Sekuritas Indonesia, Muhammad Wafi, meminta investor berfokus pada katalis belanja. Ia menganalisis sentimen belanja pasar menjelang Lebaran ini sebagai motor utama untuk mendongkrak fundamental berbagai emiten saham dibandingkan sentimen risiko angka utang jatuh tempo.
Walau dana stimulus melimpah, pelemahan daya beli kelas menengah bawah menjadi ancaman mematikan di bursa. Peningkatan daya konsumsi diproyeksikan akan cepat tergerus oleh tingginya volatilitas harga bahan pangan mentah serta ketidakpastian fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
3. Realita Kinerja Emiten Pangan
Kendati emiten produsen minuman PT Ultra Jaya Milk Industry Tbk optimistis, risiko laju inflasi tetap membayangi. Saham berkode ULTJ yang menguat 8,33% secara tahun berjalan ditutup pada harga Rp1.650 per 18 Februari 2026 namun masih rentan terhadap naiknya beban operasional.
Sementara itu, pergerakan saham PT Mayora Indah Tbk sukses ditutup kokoh pada level harga Rp2.280 pada perdagangan Rabu kemarin. Kinerja aset emiten berkode MYOR tersebut melonjak fantastis hingga menyentuh angka 12,25% semenjak pembukaan awal tahun akibat derasnya arus perputaran uang.
Pencapaian nilai valuasi tersebut dinilai tepat digunakan sebagai ajang mengambil keuntungan sesaat dengan target harga Rp2.440. Analis sangat merekomendasikan penggunaan taktik perdagangan spekulatif yang disiplin agar investor lokal mampu mencetak laba maksimal sebelum momentum perayaan besar tersebut berakhir.
4. Strategi Beli Spekulatif Fesyen
Mengantisipasi dorongan sentimen musiman di atas, pakar menyarankan seluruh pemodal ritel mempraktikkan metode transaksi spekulatif. Aset saham perusahaan fesyen PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk alias RALS tercatat berhasil mempertahankan posisi ideal pada harga Rp500 saat penutupan bursa per tanggal 18 Februari lalu.
Analis menetapkan target harga RALS pada level Rp550, sementara saham PT Matahari Department Store Tbk atau LPPF dipatok pada angka Rp2.050. LPPF sendiri ditutup pada harga Rp1.945 kemarin dengan tingkat pertumbuhan tahun berjalan mencapai sebesar 13,24% menjelang Lebaran.
Investor sangat dilarang merasa silau saat membaca angka indeks tinggi maupun nilai triliunan rupiah pemerintah. Pemodal wajib mengeksekusi analisis fundamental lanjutan karena beban biaya bahan baku sangat berpotensi memangkas margin laba korporasi secara tiba-tiba di lantai perdagangan bursa efek Indonesia.

Alvin Bagaskara
Editor
