Tren Pasar

Menapak Sejarah IHSG: Dari Soeharto hingga Prabowo

  • Sejarah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menjadi cerminan perjalanan ekonomi Indonesia selama lebih dari empat dekade. Siapa presiden dengan kinerja terbaik di bursa saham?
IHSG Ditutup Menguat-5.jpg
Karyawan berkatifitas dengan latar layar monitor pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, 8 September 2022. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia (trenasia.com)

JAKARTA, TRENASIA.COM - Sejarah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menjadi cerminan perjalanan ekonomi Indonesia selama lebih dari empat dekade. 

Dari level dasar 100 pada 1982 hingga mencetak rekor tertinggi di atas 9000 pada awal tahun 2026, IHSG telah melewati berbagai krisis ekonomi, gejolak politik, pandemi global, hingga gelombang arus keluar modal asing.

Pertanyaan yang sering muncul adalah, kapan IHSG mengalami kejatuhan paling parah, siapa presiden dengan kinerja pasar saham terbaik, dan bagaimana posisi IHSG pada 2026 dibandingkan krisis-krisis sebelumnya?

Berikut penelusuran lengkap TrenAsia perjalanan IHSG dari era Presiden Soeharto hingga Presiden Prabowo Subianto,

Apa Itu IHSG dan Kapan Pertama Kali Dibentuk?

IHSG pertama kali diperkenalkan pada 1 April 1983 sebagai indikator utama pergerakan harga saham di Bursa Efek Jakarta (kini Bursa Efek Indonesia). Hari dasar perhitungannya ditetapkan pada 10 Agustus 1982 dengan nilai awal 100 poin dan hanya mencakup 13 emiten yang tercatat di bursa saat itu.

Dalam lebih dari empat dekade perkembangannya, IHSG telah bertransformasi dari indeks sederhana yang merepresentasikan belasan saham menjadi barometer utama pasar modal Indonesia yang mencerminkan kinerja ratusan perusahaan publik dari berbagai sektor ekonomi. 

Seluruh saham yang tercatat di Bursa Efek Indonesia menjadi bagian dari perhitungan IHSG, sehingga pergerakannya sering digunakan sebagai gambaran sentimen investor terhadap kondisi ekonomi nasional.

Perjalanan IHSG juga mencerminkan dinamika ekonomi Indonesia. Indeks ini telah melewati berbagai fase penting, mulai dari krisis moneter Asia 1998, krisis keuangan global 2008, pandemi COVID-19 pada 2020, hingga periode pemulihan ekonomi pascapandemi. 

Meski sempat mengalami koreksi tajam pada berbagai periode tersebut, tren jangka panjang IHSG menunjukkan pertumbuhan yang signifikan seiring meningkatnya jumlah emiten, kapitalisasi pasar, dan partisipasi investor domestik maupun asing.

Baca juga : TMAS Bagikan Dividen Rp228 M, Siapkan Capex Rp2,5 T

Era Soeharto (1982–1998)

Pada masa pemerintahan Presiden Soeharto, IHSG tumbuh rata-rata sekitar 9,7% per tahun seiring ekspansi ekonomi nasional. Dari level dasar 100, indeks terus naik hingga mencapai 740,83 pada Juli 1997.

Namun krisis finansial Asia mengakhiri periode pertumbuhan tersebut. Krisis moneter 1998 menjadi salah satu periode tergelap dalam sejarah pasar modal Indonesia.

Pada 8 Januari 1998, IHSG jatuh 11,88% hanya dalam satu hari perdagangan. Puncak tekanan terjadi pada September 1998 ketika IHSG menyentuh level terendah sepanjang sejarah di kisaran 256,83.

Dari posisi tertinggi sebelumnya, penurunan mencapai sekitar 53,65%. Kejatuhan tersebut dipicu oleh anjloknya nilai tukar rupiah dari Rp2.441 per dolar AS pada pertengahan 1997 menjadi sekitar Rp16.900 per dolar AS pada 1998. Pada tahun yang sama, ekonomi Indonesia mengalami kontraksi hingga 13,1%.

Era Habibie (1998–1999): Awal Pemulihan

Setelah terpuruk akibat krisis moneter Asia 1997–1998 dan mencapai titik terendahnya, IHSG mulai menunjukkan pemulihan pada masa pemerintahan Presiden B. J. Habibie. 

Meski memimpin dalam waktu relatif singkat, stabilisasi ekonomi yang dilakukan pemerintah berhasil mengembalikan kepercayaan pasar, sehingga IHSG mampu bangkit dan mencatat kenaikan sekitar 31,29% dari level terendah pascakrisis, menandai awal pemulihan pasar modal Indonesia setelah periode gejolak ekonomi yang berat.

Era Gus Dur (1999–2001): Tekanan Politik Menghantam Pasar

Pada masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, pasar modal Indonesia dihadapkan pada tingginya ketidakpastian politik dan dinamika pemerintahan yang memengaruhi sentimen investor. 

Kondisi tersebut berdampak pada kinerja IHSG yang mengalami tekanan cukup besar, sehingga mencatat penurunan sekitar 19,54% dan menjadi salah satu performa terburuk indeks saham Indonesia sepanjang era reformasi.

Era Megawati (2001–2004): Stabilitas Mulai Kembali

Pada masa pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri, kondisi ekonomi dan politik Indonesia mulai menunjukkan stabilitas yang lebih baik setelah melewati periode ketidakpastian sebelumnya. 

Meningkatnya kepercayaan investor terhadap prospek perekonomian nasional turut mendorong penguatan pasar modal, tercermin dari pertumbuhan IHSG yang rata-rata mencapai 19,6% per tahun serta keberhasilannya menembus level tertinggi 470,22 pada periode tersebut.

Baca juga : Cuan MINE Tumbuh 18 Persen di Tengah Dinamika Industri Tambang

Era SBY (2004–2014): Presiden dengan Kenaikan IHSG Tertinggi

Jika diukur dari pertumbuhan IHSG selama masa jabatan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY mencatatkan performa terbaik dalam sejarah pasar modal Indonesia. 

Selama dua periode kepemimpinannya pada 2004–2014, IHSG melonjak sekitar 498,12%, mencerminkan kuatnya pertumbuhan ekonomi nasional, meningkatnya arus investasi, serta semakin berkembangnya pasar modal domestik. 

Periode ini juga ditandai dengan meningkatnya kapitalisasi pasar, bertambahnya jumlah emiten, dan semakin besarnya minat investor terhadap aset-aset Indonesia.

Meski demikian, era SBY tidak sepenuhnya berjalan mulus. Pada 2008, Indonesia turut terdampak oleh Krisis Keuangan Global 2008 yang mengguncang pasar keuangan dunia. 

Saat itu, IHSG yang sempat berada di level sekitar 2.830,26 mengalami tekanan hebat hingga merosot ke kisaran 1.111,39 akibat aksi jual besar-besaran dan meningkatnya ketidakpastian global. Penurunan tersebut menjadi salah satu koreksi terdalam dalam sejarah pasar saham Indonesia.

Namun, salah satu karakteristik utama periode SBY adalah kemampuan pemulihan yang relatif cepat. Didukung oleh fundamental ekonomi yang cukup kuat, stabilitas sektor perbankan, serta kebijakan pemerintah dan otoritas moneter yang responsif, kepercayaan investor perlahan kembali pulih. 

IHSG kemudian bangkit secara signifikan dan melanjutkan tren penguatan hingga mencetak berbagai rekor baru dalam beberapa tahun berikutnya.

Ketahanan inilah yang membuat era SBY sering dikenang sebagai salah satu periode paling ekspansif bagi pasar modal Indonesia, dengan pertumbuhan indeks yang jauh melampaui capaian pemerintahan sebelumnya.

Era Jokowi (2014–2024): Rekor Baru dan Ujian Pandemi

Selama masa pemerintahan Presiden Joko Widodo, IHSG mencatat kenaikan sekitar 53,95%, mencerminkan pertumbuhan pasar modal yang tetap positif di tengah berbagai tantangan domestik maupun global. 

Pada periode ini, pasar saham Indonesia mencapai sejumlah tonggak penting dengan berhasil menembus level psikologis 6.000 dan kemudian 7.000 poin, yang menunjukkan meningkatnya kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi nasional serta semakin besarnya peran pasar modal dalam pembiayaan pembangunan dan investasi.

Namun, era Jokowi juga diwarnai oleh salah satu krisis terbesar dalam sejarah pasar keuangan modern, yakni pandemi COVID-19. Ketika pandemi mulai menyebar pada awal 2020, kepanikan di pasar global memicu aksi jual besar-besaran di berbagai bursa saham, termasuk Indonesia. 

IHSG yang berada di kisaran 6.300 poin pada awal tahun anjlok hingga menyentuh level 3.937 poin pada Maret 2020. Koreksi sebesar 37,49% tersebut menjadi salah satu penurunan terdalam yang pernah dialami pasar modal Indonesia, disertai penyusutan kapitalisasi pasar hingga ribuan triliun rupiah akibat merosotnya valuasi perusahaan-perusahaan tercatat.

Meski menghadapi tekanan yang sangat besar, pasar modal Indonesia menunjukkan daya tahan yang cukup kuat. Berbagai stimulus fiskal dan moneter, program pemulihan ekonomi nasional, percepatan digitalisasi, serta membanjirnya investor ritel baru membantu memulihkan kepercayaan pasar.

Seiring membaiknya kondisi ekonomi pascapandemi dan meningkatnya kinerja sejumlah sektor unggulan, IHSG kembali bergerak naik dan mencetak rekor-rekor baru. 

Pada akhir masa pemerintahan Jokowi, IHSG berhasil ditutup di level 7.760,06, menandai keberhasilan pasar modal Indonesia pulih dari krisis pandemi sekaligus mempertahankan tren pertumbuhan jangka panjangnya.

Era Prabowo (2024–Sekarang): Dari Rekor Tertinggi ke Koreksi Terdalam 2026

Awal masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto diwarnai oleh optimisme yang tinggi di pasar modal Indonesia. Sentimen positif terhadap prospek ekonomi, meningkatnya partisipasi investor domestik, serta likuiditas pasar yang kuat mendorong IHSG mencatat performa impresif sepanjang 2025. 

Bursa Efek Indonesia mencatat IHSG menorehkan rekor tertinggi sepanjang masa (all-time high/ATH) sebanyak 24 kali dalam satu tahun. Puncaknya terjadi pada 8 Desember 2025 ketika indeks ditutup di level 8.710,70. Bahkan di awal januari 2026, IHSG sempat tembus ke level 9000 yang menjadi level tertinggi dalam sejarah pasar modal Indonesia.

Pada saat yang sama, kapitalisasi pasar juga menembus Rp16.000 triliun, menegaskan kuatnya optimisme investor terhadap aset-aset Indonesia.

Namun, memasuki 2026 arah pasar berubah secara signifikan. Setelah sempat memulai tahun di kisaran 9000-an poin, IHSG mengalami tekanan berkepanjangan hingga turun ke sekitar level 6.100 pada akhir Mei 2026. 

Koreksi yang mendekati 30% tersebut menjadikan pasar saham Indonesia sebagai salah satu pasar dengan performa terlemah di antara banyak bursa utama dunia pada periode yang sama.

 Pelemahan ini dipengaruhi oleh kombinasi berbagai faktor, mulai dari meningkatnya ketidakpastian kebijakan ekonomi, kekhawatiran investor terhadap prospek pertumbuhan, tekanan eksternal dari kondisi pasar global, hingga derasnya arus keluar modal asing yang membebani sentimen pasar.

Meski demikian, periode awal pemerintahan Prabowo menunjukkan bagaimana pasar modal Indonesia dapat bergerak sangat dinamis dalam waktu singkat. 

Dari fase euforia yang menghasilkan puluhan rekor baru sepanjang 2025 hingga fase koreksi tajam pada 2026, perjalanan IHSG pada periode ini menjadi salah satu episode paling volatil dalam sejarah modern pasar modal Indonesia. 

Perkembangan selanjutnya akan sangat ditentukan oleh kemampuan pemerintah menjaga stabilitas ekonomi, memulihkan kepercayaan investor, serta menarik kembali aliran modal ke pasar keuangan domestik.

Presiden Mana yang Mencatat Kinerja IHSG Terbaik?

Jika dilihat dari pertumbuhan kumulatif selama masa pemerintahan:

  • SBY: +498,12%
  • Jokowi: +53,95%
  • Megawati: tumbuh rata-rata 19,6% per tahun
  • Habibie: pemulihan +31,29% dari titik krisis
  • Soeharto: pertumbuhan rata-rata 9,7% per tahun sebelum krisis
  • Gus Dur: mengalami kontraksi pasar akibat ketidakstabilan politik

Namun setiap era memiliki tantangan yang berbeda, mulai dari krisis moneter, krisis global, pandemi, hingga gejolak geopolitik dan arus modal internasional.