Tren Pasar

Efek Pompa APBN: Bawa Angin Segar Bagi IHSG dan Saham Bank

  • Akselerasi APBN dorong reli IHSG saat M2 tumbuh 10%. Saham BBRI-BMRI jadi muara likuiditas di tengah anomali uang primer dan tekanan nilai tukar Rupiah.
IHSG Ditutup Melemah .jpg
Karyawan melintas dengan latar layar pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta, Selasa, 27 Juli 2021. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia (trenasia.com)

JAKARTA, TRENASIA.ID - Pasar modal Indonesia mengawali tahun 2026 dengan dinamika yang penuh kejutan. Sempat tertekan oleh sentimen negatif di awal tahun, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dengan cepat berbalik arah.

Pada perdagangan awal pekan, Senin, 23 Februari 2026, IHSG melesat 1,50% ke level 8.396,08. Praktis, selama satu minggu terakhir, indeks komposit berhasil menanjak 1,89% usai dihantam sentimen MSCI pada awal tahun ini yang mengakibatkan pelemahan secara year to date (ytd) sebesar 4,02%.

Di atas kertas, angka pembalikan ini dikaitkan dengan fundamental makro yang solid. Namun, jika membedah data moneter dan fiskal Januari 2026: reli pasar saat ini sejatinya sedang dipompa secara masif oleh akselerasi belanja pemerintah, bukan murni memanasnya sektor riil.

Ledakan M2 dan Anomali Uang Primer

Hal tersebut terungkap dari laporan terbaru Bank Indonesia (BI) mencatat pertumbuhan uang beredar dalam arti luas (M2) mencapai 10% year-on-year (yoy) pada Januari 2026, menyentuh Rp10.117,8 triliun. Angka ini adalah laju tertinggi dalam 3,5 tahun terakhir.

Namun yang menarik, di tengah melimpahnya M2, uang primer (M0) justru menunjukkan perlambatan. “Perkembangan tersebut didorong oleh pertumbuhan uang beredar sempit (M1) sebesar 14,9% yoy dan uang kuasi sebesar 5,4% yoy,” tulis laporan Bank Indonesia pada Senin, 23 Februari 2026.

Dengan melambatnya M0 mengindikasikan bahwa uang tidak banyak beredar langsung di tangan masyarakat untuk konsumsi harian, melainkan lebih banyak mengendap dan berputar di sistem perbankan serta instrumen keuangan.

Sebagai informasi tambahan, M0 atau uang primer adalah wujud uang fisik berupa kertas dan logam di dompet masyarakat. Sementara M1 mencakup tambahan rekening tabungan harian. Adapun M2 adalah agregat paling luas, yang turut memasukkan deposito serta simpanan berjangka di perbankan.

APBN sebagai Mesin Pompa Utama

Fenomena membanjirnya likuiditas di perbankan ini ternyata berakar dari manuver agresif fiskal pemerintah. Bank Indonesia mencatat pertumbuhan tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat meroket tajam menjadi 22,6% yoy dari bulan sebelumnya yang hanya 13,6% yoy.

Data ini sejalan dengan pandangan Tim Riset Phintraco Sekuritas yang menyoroti agresivitas belanja negara di awal tahun. Phintraco Sekuritas mencatat realisasi belanja negara mencapai Rp227,3 triliun per 31 Januari 2026 atau tumbuh tajam 25,7% yoy, di mana belanja pemerintah pusat melesat hingga 53,3% yoy.

“Kenaikan ini menunjukkan akselerasi belanja pemerintah sejak awal tahun, khususnya untuk mendukung program prioritas dan mendorong pertumbuhan ekonomi,” tulis Tim Riset Phintraco Sekuritas dalam laporannya pada Selasa, 24 Februari 2026.

Alhasil, kucuran dana APBN yang sangat deras ini membanjiri sistem perbankan domestik. Likuiditas berlebih tersebut kemudian mencari instrumen imbal hasil menarik di pasar saham, yang tecermin dari derasnya aliran modal asing yang berekspektasi tinggi terhadap akselerasi pertumbuhan ekonomi nasional sepanjang tahun ini.

Banjir Dana Asing di Perbankan

Berdasarkan data yang dihimpun TrenAsia.Id dari laman Stockbit Sekuritas, selama satu minggu terakhir (17-23 Februari 2026), IHSG kebanjiran net buy asing hingga mencapai Rp1,32 triliun. Dana tersebut mayoritas masuk ke saham-saham big caps berfundamental kuat.  

Bila dikerucutkan lagi pada dua hari terakhir, akumulasi dana asing ini secara spesifik menyasar dua saham perbankan raksasa plat merah. BBRI dan BMRI masing-masing meraup dana asing sebesar Rp392 miliar dan Rp328 miliar, mendominasi total net buy harian di bursa selama periode tersebut.

Menanggapi itu, Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa, bilang kembalinya aliran dana asing ke IHSG sebagai bentuk kepercayaan terhadap fundamental ekonomi nasional yang ditargetkan tumbuh hingga 6% tahun ini. 

“Januari sempat tertekan karena berbagai isu. Yang penting adalah karena pondasi bagus membalikkan confident investor lebih mudah. Ini (tanda) mereka percaya keadaan [perekonomian Indonesia] baik dan terus membaik,” jelas Purbaya dalam konferensi pers APBN KITA, Senin, 23 Februari 2026.

Lebih lanjut, Purbaya menegaskan bahwa defisit fiskal 0,21% atau setara Rp54,6 triliun di awal tahun adalah langkah strategis, bukan malah sebagai tanda bahaya. “Angka ini masih sangat terkendali dan masih dalam koridor desain APBN 2026. Ini menentukan akselerasi belanja pemerintah, khususnya program prioritas,” tegasnya.

Kewaspadaan Rupiah

Meski demikian, pesta likuiditas dan reli saham ini memiliki sisi risiko yang sangat patut dicermati secara saksama oleh para pelaku pasar, yakni nilai tukar. Kurs Rupiah saat ini kembali mengalami tekanan dan terus bergerak melemah mendekati level psikologis Rp17.000/US$. 

Menanggapi kondisi dinamika pelemahan mata uang tersebut, Purbaya secara gamblang mengakui adanya tantangan yang cukup nyata di pasar uang belakangan ini. “Nilai tukar rupiah masih mendapat tekanan oleh peningkatan permintaan dolar AS,” terang Menkeu.

Kesimpulannya, pergerakan IHSG saat ini murni sedang menikmati bahan bakar premium dari efisiensi dan agresivitas belanja APBN. Selama likuiditas fiskal ini mampu bertransmisi ke sektor riil, momentum positif tetap terjaga. Namun, investor mutlak harus mengawasi pergerakan Rupiah sebagai penyeimbang risiko ke depan.