Tren Ekbis

Kopdes Merah Putih Serap Rp90 Triliun per Kuartal I-2026

  • Pemerintah targetkan 30 ribu gerai KDMP kuartal I 2026 dengan belanja modal Rp90 triliun untuk dorong investasi dan lapangan kerja desa.
IMG-20260224-WA0001.jpg
Paparan KDMP Dalam Konferensi Pers APBN KiTa Februari 2026 (trenasia.com)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Pemerintah mempercepat realisasi program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) sebagai salah satu instrumen strategis untuk memperkuat fondasi ekonomi desa sekaligus menjaga momentum pertumbuhan nasional pada 2026. Program ini diposisikan sebagai pengungkit investasi desa dan akselerator pertumbuhan ekonomi berbasis komunitas.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa belanja negara pada 2026 tetap diarahkan pada program-program prioritas yang memberikan dampak langsung terhadap perekonomian masyarakat.

“APBN tetap menjadi instrumen utama untuk menjaga stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi, terutama melalui program-program prioritas,” ujar Purbaya dalam Konferensi Pers APBN KiTa Februari 2026, Senin, 23 Februari 2026.

Pemerintah menetapkan target pembangunan 30 ribu gerai KDMP pada kuartal I 2026. Hingga 20 Februari 2026, sebanyak 24.186 gerai tercatat sudah dalam proses pembangunan. Pemerintah menargetkan penyelesaian 30.000 gerai pada Maret 2026 dan penambahan hingga 50.000 gerai pada Agustus 2026.

Untuk mendukung percepatan tersebut, pemerintah mengalokasikan belanja modal (capital expenditure) sebesar Rp90 triliun pada kuartal I 2026 khusus untuk KDMP. Program ini dirancang dengan sejumlah tujuan strategis, yakni memperkuat ketahanan pangan dan ekonomi desa, memperpendek rantai distribusi serta mengurangi ketergantungan pada tengkulak, menurunkan harga dan meningkatkan daya beli masyarakat, memperluas lapangan kerja desa, serta mendukung pengentasan kemiskinan.

Konsep yang diusung adalah Me-leverage Dana Desa guna memperkuat investasi produktif di tingkat lokal. Dengan model tersebut, koperasi desa diharapkan tidak hanya menjadi pusat distribusi barang kebutuhan pokok, tetapi juga simpul aktivitas ekonomi yang menghubungkan produksi lokal dengan pasar yang lebih luas.

Purbaya menambahkan, pengelolaan fiskal tetap dilakukan secara hati-hati untuk menjaga kesinambungan jangka menengah.

“Defisit dijaga tetap terkendali dan pembiayaan dilakukan secara prudent sesuai kebutuhan,” ujarnya.

Penegasan tersebut menjadi penting mengingat besarnya alokasi belanja modal untuk KDMP pada awal tahun anggaran. Pemerintah ingin memastikan bahwa ekspansi belanja tetap berada dalam koridor disiplin fiskal serta menjaga kredibilitas pengelolaan keuangan negara.

Secara makro, penguatan ekonomi desa dinilai sebagai strategi memperluas basis pertumbuhan domestik di tengah ketidakpastian global. Dengan memperpendek rantai distribusi dan memperkuat koperasi sebagai lembaga ekonomi rakyat, pemerintah berharap dapat menekan disparitas harga antar wilayah sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani dan pelaku usaha kecil di desa.

KDMP juga diproyeksikan menciptakan efek berganda terhadap UMKM desa. Kehadiran gerai koperasi diharapkan membuka akses pasar yang lebih stabil bagi produk lokal, sekaligus memperkuat sistem logistik berbasis komunitas. Dengan skala puluhan ribu gerai, program ini berpotensi membentuk ekosistem distribusi baru yang lebih efisien dan terintegrasi.

Dalam konteks fiskal, strategi ini menjadi pergeseran pendekatan belanja negara yang tidak berfokus pada proyek infrastruktur besar, tetapi juga memperkuat infrastruktur ekonomi sosial di tingkat desa. Pemerintah menempatkan koperasi sebagai motor penggerak ekonomi lokal, sejalan dengan agenda pemerataan pembangunan.