Kopdes Merah Putih Beli 35.000 Pickup, Tapi Kenapa Mahindra?
- Pengadaan 35.000 pickup Mahindra untuk Kopdes Merah Putih memicu sorotan soal peluang dan daya saing mobil lokal.

Maharani Dwi Puspita Sari
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (Kopdes Merah Putih) yang digagas oleh Presiden Prabowo Subianto mendatangkan mobil pickup Mahindra dari India.
Mobil rencananya akan digunakan untuk mendistribusikan bantuan secara cepat dari hulu ke hilir. Mahindra memperoleh pesanan impor sebanyak 35.000 unit mobil pikap Scorpio dari PT Agrinas Pangan Nusantara untuk mendukung pelaksanaan proyek Kopdes Merah Putih.
CEO Divisi Otomotif Mahindra & Mahindra Ltd, Nalinikanth Gollagunta, menyebutkan bahwa kontrak tersebut menjadi pencapaian ekspor terbesar sepanjang sejarah perusahaan, bahkan melampaui total volume ekspor Mahindra pada tahun fiskal 2025.
“Kami menantikan kerja sama ini dan mendukung Koperasi Indonesia melalui kemitraan kami dengan Agrinas Pangan Nusantara," ujarnya melalui keterangan resmi, dikutip Jumat, 20 Februari 2026.
Melalui kemitraan tersebut, Mahindra bersama Agrinas Pangan Nusantara mendukung operasional koperasi dengan penyediaan kendaraan yang tangguh dan andal menjangkau seluruh wilayah Indonesia.
Mengapa Harus Mahindra?
Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Evita Nursanty, mengingatkan pentingnya komoditas dan pengembangan produk lokal yang berdaya saing. Hal tersebut berkaitan dengan pengadaan kendaraan niaga Kopdes Merah Putih sebesar Rp24,66 triliun.
"Pengadaan sebesar ini harus menjadi momentum untuk memperkuat manufaktur nasional dan mendorong substitusi impor. Itu sejalan dengan arah kebijakan Presiden dalam memperkuat kemandirian ekonomi," kata Evita di Jakarta, Jumat 20 Februari 2026.
Melansir dari Mahindra, mobil ini dengan mesin MDI 3200 TC L Diesel yang memiliki kubikasi 2.523cc dengan teknologi direct injection dan Turbo. Tenaga yang dihasilkan berupa 63 hp dengan torsi maksimal 195 Nm. Menurut klaimnya, mobil ini mampu beroperasional di segmen fleet, sehingga harus low maintenance. Untuk kapasitas angkut, Mahindra Bolero Maxitruck mampu mengangkut hingga bobot 1 ton.
Melalui hal tersebut, masuknya merek otomotif global dengan kapasitas produksi besar, kembali memunculkan pertanyaan lama, mengapa mobil lokal sulit berkembang di dalam negeri? Sejumlah faktor struktural menjadi penyebab utama.
Menurut pengamat otomotif dari Institut Teknologi Bandung, Yannes Pasaribu, salah satu penyebab sulitnya industri mobil lokal berkembang adalah intervensi politik.
"Proyek-proyek yang disampaikan gagal karena semua punya ketergantungan pada teknologi asing, kurangnya investasi R&D jangka panjang, dan intervensi politik yang terlalu mendominasi, tanpa perhitungan business aspects yang dipegang oleh orang-orang yang proven kompetensinya di dunia otomotif," kata Yannes, dikutip Jumat, 20 Februari 2026.
Dari sisi industri, skala produksi menjadi tantangan mendasar. Industri otomotif membutuhkan volume besar agar biaya produksi per unit bisa ditekan. Produsen global umumnya telah memproduksi jutaan unit per tahun dan memiliki jaringan distribusi lintas negara. Sebaliknya, produsen lokal cenderung beroperasi dalam skala terbatas sehingga sulit mencapai efisiensi biaya yang sama.
Ketergantungan pada komponen impor juga menjadi hambatan. Sejumlah komponen utama seperti mesin, sistem transmisi, hingga perangkat elektronik masih banyak didatangkan dari luar negeri. Kondisi ini membuat biaya produksi sensitif terhadap nilai tukar dan menekan daya saing harga mobil lokal dibandingkan merek internasional yang sudah memiliki rantai pasok global terintegrasi.
Di sisi lain, investasi riset dan pengembangan (R&D) industri otomotif membutuhkan dana besar dan waktu panjang. Pengembangan satu model kendaraan harus melalui tahapan desain, pengujian keselamatan, hingga pemenuhan standar emisi dan regulasi internasional. Tanpa dukungan modal kuat dan transfer teknologi yang memadai, produsen lokal kesulitan menghasilkan produk yang mampu bersaing dari sisi inovasi maupun kualitas.
Faktor kepercayaan konsumen juga turut berperan. Merek global telah lama membangun reputasi, jaringan layanan purna jual, serta nilai jual kembali yang relatif stabil. Preferensi konsumen yang mempertimbangkan aspek keandalan dan resale value membuat mobil lokal menghadapi tantangan dalam membangun kepercayaan pasar.
Selain itu, ekosistem industri pendukung di dalam negeri belum sepenuhnya mandiri. Industri otomotif yang kuat biasanya ditopang oleh jaringan pemasok komponen domestik yang solid dan efisien. Menurut Yannes, tanpa basis industri komponen yang matang, produsen lokal akan kesulitan menekan biaya dan menjaga konsistensi kualitas.
Dengan berbagai tantangan tersebut, perkembangan mobil lokal bukan hanya persoalan produksi semata, melainkan menyangkut ekosistem industri, pembiayaan, teknologi, hingga kebijakan yang berkelanjutan. Tanpa penguatan menyeluruh pada aspek-aspek tersebut, daya saing mobil lokal akan terus tertinggal dibandingkan pemain global yang telah mapan.

Maharani Dwi Puspita Sari
Editor
