Tren Pasar

Bukan Cuma Puasa, Ini Senjata Rahasia Saham JPFA dan CPIN

  • Program makan bergizi gratis dan sentimen bulan suci Ramadan memicu sentimen positif sektor perunggasan. Saham JPFA dan CPIN menjadi jagoan analis.
Peternak ayam potong .jpg
Peternak memberikan pakan konsentrat pada ayam potong di Leuwinanggung, Tapos, Depok, Jawa Barat, Selasa, 28 September 2021. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia (trenasia.com)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Sektor perunggasan nasional kini tidak hanya bergantung pada tren momentum musiman belaka. Emiten raksasa peternakan unggas seperti PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) beserta PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) memiliki senjata baru penopang fundamental masa depan perseroan.

Analis Bahana Sekuritas, Abdusshomad Cakra Buana, mengungkapkan bahwa permintaan tinggi kini tidak semata didorong oleh datangnya bulan suci Ramadan. Adanya intervensi kebijakan fiskal secara masif siap mengubah peta struktur fundamental sektor peternakan ayam nasional secara signifikan tahun ini.

Sentimen struktural inilah yang membuat proyeksi valuasi perusahaan perunggasan  semakin menarik di mata para investor. Kombinasi manis antara katalis perayaan agama tahunan dan injeksi stimulus pemerintah melahirkan momentum kebangkitan luar biasa di Bursa Efek Indonesia.

1. Lompatan Struktural Peternakan Nasional

Data perekonomian mengonfirmasi bahwa laju ekspansi bisnis perunggasan bukan sekadar euforia jangka pendek sesaat saja. Kementerian Keuangan merilis data produk domestik bruto subsektor peternakan melonjak impresif hingga menyentuh angka 12,4% secara Year on Year (YoY) sepanjang tahun 2025 lalu.

Laju pertumbuhan pesat subsektor peternakan tersebut sukses mengalahkan performa perluasan produk domestik bruto sektor pertanian yang hanya 5,33%. Capaian gemilang ini juga berada jauh di atas rata-rata angka pertumbuhan produk domestik bruto secara nasional yang terhenti pada level 5,11%.

Fakta data makroekonomi ini membuktikan tingkat resiliensi industri pengolahan pakan ternak menghadapi ketidakpastian iklim ekonomi. Indeks penjualan ritel terbitan resmi Bank Indonesia terkait sektor makanan menunjukkan konsumsi publik tetap tangguh dan stabil menyambut datangnya perayaan hari besar keagamaan nasional.

2. Game Changer Program Belanja Negara

Katalis paling revolusioner bagi industri ini berasal dari wacana penerapan program makan bergizi gratis berskala nasional oleh pemerintah. Program andalan ini diyakini memiliki daya serap raksasa mencapai volume 1,1 juta ton pasokan komoditas daging ayam potong segar milik peternak.

Kapasitas serapan masif inilah yang meyakinkan Bahana Sekuritas memberikan rating bobot investasi sangat positif atau overweight kepada saham perunggasan. Rekomendasi strategis ini menegaskan pandangan optimis analis terhadap stabilitas margin laba operasi emiten di tengah ancaman lonjakan beban biaya produksi.

Kebijakan belanja fiskal pemerintah secara langsung menjadi garansi perlindungan tingkat harga jual eceran di pasar tradisional. Stimulus program negara tersebut mengubah wajah industri yang awalnya murni berkarakter siklus menjadi sektor yang memiliki fondasi penopang struktural sangat kokoh.

3. Berkah Ekstra Momentum Ramadan

Meskipun mendapatkan suntikan stimulus struktural, siklus konsumsi tahunan menjelang datangnya hari raya tetap menjadi bonus tambahan yang sangat lezat. Tradisi belanja kebutuhan bahan pokok masyarakat menjelang bulan puasa selalu menjadi pendorong instan naiknya harga daging ayam di pasar tradisional.

Abdusshomad  menyatakan tren peningkatan penjualan komoditas ini sudah tergambar jelas pada permintaan ritel meningkat. "Harga unggas biasanya cenderung meningkat menjelang Ramadan, mencerminkan penguatan permintaan musiman," ungkapnya memaparkan data historis dalam risetnya pada Selasa, 24 Februari 2026.

Sinergi antara kucuran dana fiskal dan tradisi belanja agama diperkirakan melahirkan efek perputaran uang tunai. "Kami meyakini kombinasi antara kuatnya permintaan musiman dan stimulus fiskal dapat menghasilkan periode Ramadan yang lebih kuat dari biasanya bagi sektor perunggasan," tandasnya.

4. Primadona Investasi Saham JPFA

Mengantisipasi derasnya arus sentimen positif ganda tersebut, analis Bahana Sekuritas itu menobatkan saham JPFA sebagai pilihan investasi utama. Target harga dicanangkan pada level wajar Rp2.590 per lembar saham karena ditopang oleh agresivitas perseroan dalam berekspansi bisnis hilir.

Daya tarik emiten ini juga terpancar dari tingkat pengembalian investasi atau Return on Invested Capital/ROIC perseroan yang sangat prima. "JPFA menjadi pilihan utama kami, didorong oleh estimasi pertumbuhan laba inti 2026 yang lebih tinggi serta fokus ekspansi hilir," paparnya.

Kepercayaan mayoritas pelaku pasar terhadap emiten penetasan ayam ini juga terekam valid yang dihimpun oleh Bloomberg. Sebanyak 25 analis secara meyakinkan menyarankan aksi beli dengan menetapkan target harga rata-rata konsensus sebesar Rp3.029, mencerminkan potensi imbal hasil 25,2%.

5. Prospek Cerah Fundamental CPIN

Prospek cerah serupa turut menyinari lintasan fundamental saham CPIN yang diprediksi segera melesat tajam. Analis Bahana Sekuritas memberikan rekomendasi positif dengan menetapkan patokan harga wajar emiten peternakan raksasa ini pada level Rp4.490 per unit saham.

Strategi ekspansi pabrik pengolahan pakan ternak modern menjadi kunci keunggulan perseroan menaklukkan peta persaingan bisnis jangka menengah. "Kami juga meyakini CPIN karena prospek ekspansi pada segmen pabrik pakan," tambah Abdusshomad Cakra Buana menguraikan potensi dominasi besar korporasi swasta tersebut.

Serupa dengan JPFA, data Bloomberg mencatat 19 analis profesional secara resmi merekomendasikan aksi beli saham emiten peternakan tersebut di bursa hari ini. Penetapan target harga konsensus Rp5.711 dikalkulasi akan memberikan potensi imbal hasil impresif sebesar 28,9% dari titik penutupan harga Rp4.360.