Tren Leisure

Saat Brand Lokal Makin Sadar Soal Fesyen Berkelanjutan

  • Konsep ESG menjadi inti bisnis brand lokal seiring meningkatnya permintaan fesyen berkelanjutan. Simak 5 brand Indonesia seperti SukkhaCitta dan Sejauh Mata Memandang yang terdepan dalam praktik etis dan ramah lingkungan.
unnamed.jpg
Brand Lokal ESG (The Goods Dept.)

JAKARTA, TRENASIA.ID - Gelombang kesadaran environmental, social, and governance (ESG) kini merambah kuat ke ranah merek dan produk pakaian lokal Indonesia. Hal ini membuktikan bahwa keberlanjutan bukan lagi sekadar tren, melainkan inti dari model bisnis.

Sejumlah brand pakaian domestik mulai memimpin perubahan dengan mengintegrasikan konsep ramah lingkungan dan sosial dalam seluruh rantai nilai mereka, mulai dari pemilihan bahan baku, proses produksi yang minim limbah, hingga transparansi pasokan.

Langkah ini tidak hanya meningkatkan citra merek di mata konsumen, tetapi juga berkontribusi nyata pada pengurangan dampak industri terhadap alam. Mengutip dari Think Conscious, penelitian YouGov mencatat 66% masyarakat dewasa di Indonesia setidaknya membuat satu pakaian mereka. 

Sebanyak 25% di antaranya membuang lebih dari 10 pakaian dalam setahun. Hal ini yang dikhawatirkan mampu menumpuk limbah dan merusak ekosistem lingkungan.

Namun, sebanyak 54% produk fesyen berkelanjutan merasakan peningkatan permintaan sejak pandemi dimulai. Sedangkan sebanyak 57% pembeli setuju untuk membuat perubahan signifikan melalui penerapan mode berkelanjutan untuk mengurangi dampak buruk lingkungan, menurut data Sustainable Brands.

Pergeseran ini menawarkan peluang baru bagi konsumen untuk berbelanja secara etis dan mendukung ekonomi sirkular. Dengan fokus pada praktik yang adil bagi pekerja lokal dan investasi pada sumber daya terbarukan, merek-merek lokal ini menunjukkan komitmen jangka panjang.

Inisiatif brand dalam negeri untuk merangkul konsep keberlanjutan ini diharapkan dapat menjadi standar baru bagi industri di Indonesia, mendorong inovasi yang bertanggung jawab dan menciptakan pasar yang lebih hijau di masa depan.

Berikut adalah daftar merek pakaian lokal yang terkemuka dalam mengintegrasikan aspek ESG dalam bisnis fesyen mereka:

1. SukkhaCitta

SukkhaCitta dikenal dengan pendekatan "Farm-to-Closet" yang sangat transparan. Merek ini secara aktif memberdayakan komunitas pengrajin wanita di desa-desa, memastikan mereka mendapatkan upah yang layak  dan melakukan pelatihan keterampilan.

Dari sisi lingkungan, mereka menggunakan pewarna alami dan berinvestasi pada pertanian regeneratif pada bahan baku kapas, yang bertujuan memperbaiki kesehatan tanah, sehingga produk mereka bersertifikasi traceable dan minim limbah.

2. Sejauh Mata Memandang

Merek ini menjadi salah satu pemimpin dalam inisiatif ekonomi sirkular di Indonesia. Bran ini juga menggunakan  bahan daur ulang (recycled) dan upcycled dari limbah tekstil sisa.

Selain produksi, mereka sangat aktif dalam kampanye edukasi publik mengenai isu-isu lingkungan, seperti bahaya polusi plastik dan limbah fesyen, serta mendorong konsumen untuk mengembalikan pakaian lama mereka melalui program daur ulang.

3. Pala Nusantara

Pala Nusantara dikenal dengan produk jam tangan kayu, yang menerapkan prinsip keberlanjutan hingga merambah ke aksesori/pakaian. Brand ini berfokus pada pemanfaatan material alami dan lokal dengan cara yang bertanggung jawab.

Mereka bekerja sama dengan komunitas pengrajin untuk memastikan proses produksi yang adil dan meminimalkan limbah, dan menonjolkan nilai kerajinan lokal sebagai bagian dari komitmen sosial

4. Kana Goods

Kana Goods berdedikasi penuh pada praktik pewarnaan alami yang berasal dari ekstrak tumbuhan. Penggunaan pewarna alami ini sangat krusial karena secara drastis mengurangi polusi air yang biasanya disebabkan oleh pewarna sintetis industri fesyen.

Selain itu, brand ini juga memproduksi pakaian dengan teknik kerajinan tangan tradisional, seperti hand stamping dan hand weaving yang turut mendukung kelangsungan tradisi kerajinan, sekaligus memprioritaskan lingkungan.

5. Oemah Etnik (OETHNIK)

Oemah Etnik berfokus pada integrasi warisan budaya Indonesia yang dikemas dalam desain modern. Komitmen ESG mereka terlihat dari upaya pelestarian kain tradisional seperti tenun dan batik yang dibuat berdasarkan bahan-bahan alami, serta menjaga kelestarian lingkungan.

Secara sosial, mereka bekerja sama dengan komunitas perajin di daerah dengan menerapkan prinsip perdagangan yang adil untuk memastikan kompensasi yang layak, sehingga memberdayakan ekonomi lokal dan menjaga kualitas budaya warisan.

Secara keseluruhan, kelima brand pakaian tersebut menjadi model percontohan yang kuat bahwa fesyen berkelanjutan dapat diterapkan secara sukses di Indonesia. Mereka mengintegrasikan ESG melalui praktik lingkungan seperti pewarna alami dan daur ulang, praktik sosial melalui upah adil, dan pelestarian budaya.

Model bisnis yang transparan dan etis dari merek-merek ini dapat menjadi referensi penting dan inspirasi bagi brand lokal lain untuk bertransformasi, membuktikan bahwa pertumbuhan bisnis dapat berjalan selaras dengan tanggung jawab sosial dan kelestarian lingkungan.