Belajar Kelola Sampah Berbasis Komunitas di Mrican, Kediri
- Kelurahan Mrican meraih juara Zero Waste Academy 2026 berkat pengelolaan sampah mandiri berbasis komunitas dan bank sampah yang berdampak ekonomi.

Maharani Dwi Puspita Sari
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Kelurahan Mrican, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, berhasil menjadi juara pada Zero Waste Academy 2026. Kemenangan tersebut diraih setelah menunjukkan keberhasilan dalam pengelolaan sampah berbasis kemandirian komunitas dan inovasi lingkungan.
Penutupan kegiatan akademi ini digelar pada akhir Januari 2026 sebagai bentuk apresiasi terhadap kampung yang secara konsisten menerapkan prinsip reduce, reuse, recycle (3R) secara nyata.
Gelaran Zero Waste Academy merupakan kompetisi antar kelurahan yang mendorong praktik pengelolaan sampah efektif, kreatif, serta berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat setempat. Kelurahan Mrican dinilai berhasil mengimplementasikan sistem yang tidak hanya mengurangi sampah, tetapi juga memberikan nilai tambah ekonomi bagi warga.
Kunci keberhasilan Kelurahan Mrican terletak pada kemandirian pengelolaan sampah yang dilakukan oleh warga sendiri. Di lingkungan RT 02/RW 03, masyarakat aktif memilah sampah dari rumah tangga hingga mengelola sampah organik dan anorganik secara berbasis komunitas. Pengelolaan ini difasilitasi oleh bank sampah yang menjadi pusat kegiatan pengolahan dan pendistribusian kembali material bernilai jual.
- Baca juga: 8 Tips Mengurangi Food Waste Selama Ramadan
Bank sampah di Mrican berperan sebagai tempat warga menyerahkan sampah yang telah dipilah, kemudian diolah atau dijual kembali melalui jalur usaha lokal. Pendekatan ini tidak hanya menekan volume sampah yang masuk ke tempat pembuangan akhir, tetapi juga memberikan insentif ekonomi bagi masyarakat yang terlibat.
Target Zero Waste Organik dan Tekanan Emisi Gas Metana
Melansir dari ECOTON, Jumat, 13 Februari 2026, selain fokus pada pengurangan sampah secara umum, masyarakat RT 02/RW 03 juga menargetkan pengurangan sampah organik melalui berbagai program pengomposan dan pemanfaatan hasil olahan secara lokal.
Langkah ini juga dipandang sebagai upaya menekan emisi gas metana, yang menjadi salah satu penyebab pemanasan global ketika sampah organik dibiarkan membusuk di tempat pembuangan akhir.
Sampah organik diproses menjadi kompos yang digunakan untuk media tanam kebun warga. Kegiatan ini juga melibatkan edukasi kepada keluarga dan pelajar tentang pentingnya memilah dan memanfaatkan sampah organik agar tidak menjadi beban lingkungan.

Warga RT02/03 juga merilis data mengenai profil timbulan sampah rumah tangga dipublikasikan melalui kegiatan Analisis Karakteristik Sampah (AKSA) 2026. Berdasarkan rilis tersebut, komposisi sampah masih didominasi oleh sampah organik dengan porsi mencapai 53,9%.
Kondisi ini menjadi perhatian serius dari sisi lingkungan, karena sampah organik yang tidak dikelola dengan baik dan berakhir di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) berpotensi mengalami proses dekomposisi anaerob yang menghasilkan gas metana (CH4).
Selain itu, laporan AKSA 2026 juga menunjukkan adanya potensi nilai ekonomi dari sampah daur ulang yang mencapai 26%, dengan kontribusi terbesar berasal dari kardus duplex sebanyak 13,015 kg dan botol kaca sebesar 9,069 kg.
Sementara itu, sampah residu tercatat sebesar 20,2%, yang didominasi oleh barang bekas seperti tas dan sepatu sebesar 5,17 kg serta limbah sanitasi, termasuk popok dan tisu, sekitar 4,28 kg.
Keberhasilan program di Kelurahan Mrican didukung oleh kolaborasi erat antara pemerintah kelurahan, pengurus RT/RW, serta organisasi masyarakat lingkungan seperti kelompok peduli sampah setempat. Pendekatan partisipatif ini menjadi kekuatan utama dalam menerapkan perubahan perilaku warga untuk mengelola sampah secara mandiri.

Maharani Dwi Puspita Sari
Editor
