Belajar dari Banyumas Hadapi Darurat Sampah
- Pendekatan inovatif yang diterapkan pemerintah dan masyarakat Banyumas berhasil menangani sebagian besar sampah rumah tangga. Simak kiatnya.

Maharani Dwi Puspita Sari
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, menjadi salah satu kota yang dijadikan sebagai contoh dalam pengelolaan sampah berbasis lingkungan dan ekonomi sirkular.
Pendekatan inovatif yang diterapkan pemerintah dan masyarakat Banyumas berhasil menangani sebagian besar sampah rumah tangga dan transformasi limbah menjadi produk bernilai, serta menjadi rujukan daerah lain di Indonesia.
Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup Purwokerto, setiap harinya masyarakat Banyumas menghasilkan sekitar 600 ton sampah.. Dari jumlah tersebut, sekitar 493 ton telah berhasil dikelola melalui sistem terintegrasi yang melibatkan pemilahan di tingkat masyarakat, hingga pemrosesan akhir di Tempat Pemrosesan Akhir Berbasis Lingkungan dan Edukasi (TPA BLE).
Strategi pengelolaan sampah ini dimulai dari hulu yakni pemilahan sampah di sumber oleh masyarakat, dilanjutkan dengan tengah melalui pemrosesan oleh Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM), dan berakhir di hilir di TPA BLE.
Pendekatan tersebut mengubah sampah organik menjadi kompos dan magot (larva Black Soldier Fly) yang dapat digunakan sebagai pakan, sementara sampah anorganik diproses menjadi Refuse Derived Fuel (RDF) atau paving dari residu yang tidak dapat diolah lagi.
Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono mengatakan pendekatan ini bukan hanya mengatasi masalah sampah tetapi juga menekan anggaran pemerintah.
Sebelumnya, biaya pengelolaan sampah mencapai Rp30 miliar per tahun, tetapi kini turun drastis menjadi hanya sekitar Rp5 miliar, dan diharapkan pengelolaan ini dapat menghasilkan pendapatan bagi daerah di masa depan.
“Target kami, pengelolaan sampah tak lagi bergantung APBD. Harapannya, bisa menghasilkan pendapatan bagi daerah,” ucap Sadewo, dikutip Rabu, 11 Februari 2026.
Melansir dari Waste4Change, pendekatan ini juga memiliki dampak lingkungan yang signifikan karena mengurangi ketergantungan pada metode landfill konvensional yang menghasilkan gas metana, gas rumah kaca yang jauh lebih kuat dari karbon dioksida.
Banyumas kini meninggalkan pola landfill demi proses lebih bersih dan ramah lingkungan. Keberhasilan Banyumas layak menjadi rujukan bagi kota-kota yang memiliki kendala dalam mengelola sampah, salah satunya adalah Provinsi Lampung.
Melansir dari Diskominfo Tik Provinsi Lampung, setiap harinya provinsi tersebut diperkirakan menghasilkan 4719,02 ton sampah. Sementara itu, Bandar Lampung menjadi penyumbang sampah terbesar dan wilayah Pesisir Barat menjadi yang terendah.
Ketua DPRD Bandar Lampung Bernas Yuniarta menyoroti kondisi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bakung yang dinilai sudah berada pada tahap mengkhawatirkan.
Ia menilai kapasitas yang kian terbatas serta sistem pengelolaan yang belum memadai membuat persoalan sampah semakin mendesak untuk segera ditangani.
“Pemkot tak bisa lagi menunda. Ini darurat lingkungan dan kesehatan. Harus ada langkah cepat dan nyata. Jika terus dibiarkan, dampaknya akan semakin luas,” kata Bernas di lokasi TPA, dikutip Rabu, 11 Februari 2026.

Bernas juga menegaskan DPRD akan terus memantau perkembangan persoalan tersebut dan berencana melakukan peninjauan ulang dalam waktu dekat.
Ia juga memastikan isu pengelolaan TPA Bakung akan dimasukkan sebagai agenda prioritas dalam pembahasan laporan pertanggungjawaban pemerintah daerah, rencana pembangunan jangka menengah daerah, serta APBD perubahan.
“Kalau tak ada komitmen serius, kami akan angkat isu ini ke publik. Warga Bandar Lampung butuh kota yang bersih dan sehat,” ujarnya.
Senada dengan itu, Wakil Ketua DPRD Bandar Lampung Wiyadi menyampaikan bahwa volume sampah yang masuk ke TPA Bakung setiap hari mencapai sekitar 400–500 ton.
Namun, sistem pembuangan masih menggunakan metode open dumping yang dinilai sudah usang, tidak ramah lingkungan, dan berpotensi membahayakan masyarakat di sekitar lokasi.
“TPA Bakung ini sudah tidak layak lagi. Kalau dibiarkan, bisa jadi bom waktu. Ini bukan sekadar soal bau atau pemandangan, ini ancaman serius bagi kesehatan masyarakat,” ujar Wiyadi.
Ia menambahkan, pengelolaan TPA secara modern justru dapat membuka peluang ekonomi bagi daerah. Dengan pemanfaatan teknologi yang tepat, sampah dapat diolah menjadi energi, kompos, maupun bahan daur ulang industri yang berpotensi meningkatkan pendapatan asli daerah.
Model pengelolaan ini menjadi referensi terbuka, terkait isu sampah yang memiliki kesempatan ekonomi sekaligus langkah penting menuju lingkungan yang lebih bersih dan berkelanjutan, terutama jika melibatkan masyarakat secara aktif di seluruh tahap pengolahan.

Maharani Dwi Puspita Sari
Editor
