Tren Global

Krisis Plastik Kian Sistemik, Iklim dan Laut Tertekan

  • Plastik kini jadi ancaman iklim global. Produksi dan pembakarannya menyumbang 3,4% emisi dunia dan diprediksi terus melonjak hingga 2050.
sampah plastik di lautan.jfif

JAKARTA, TRENASIA.ID - Plastik tidak lagi sekadar persoalan sampah, plastik telah menjelma menjadi ancaman sistemik bagi iklim, ekosistem, dan kesehatan manusia. Laporan-laporan ilmiah terbaru menunjukkan produksi dan pembuangan plastik menyumbang emisi gas rumah kaca dalam skala besar, sekaligus mencemari seluruh rantai makanan global, dari laut terdalam hingga tubuh manusia.

Dikutip laporan lembaga independen, Break Free From Plastic, Minggu 8 Februari 2026, saat ini siklus hidup plastik, mulai dari ekstraksi bahan bakar fosil, proses produksi, penggunaan, hingga pembuangan diperkirakan menyumbang sekitar 3,4 % dari total emisi gas rumah kaca global. 

Angka ini diproyeksikan terus meningkat seiring melonjaknya produksi plastik dunia. Pada 2040, emisi dari sektor plastik diprediksi naik 58 % menjadi sekitar 4,2 gigaton CO₂ ekuivalen per tahun. 

Bahkan, dalam skenario tanpa intervensi kebijakan yang kuat, total akumulasi emisi plastik hingga 2050 berpotensi mencapai 56 gigaton CO₂e, setara dengan emisi tahunan gabungan ratusan pembangkit listrik berbahan bakar batu bara.

Para peneliti menegaskan sekitar 90 % emisi plastik berasal dari produksi plastik baru (virgin plastic) yang menggunakan bahan bakar fosil seperti minyak dan gas.

Selain itu, praktik pembakaran plastik, baik di fasilitas insinerator maupun pembakaran terbuka, tidak hanya melepaskan karbon dioksida, tetapi juga gas beracun dan partikel berbahaya yang memperburuk kualitas udara.

Baca juga : Pakar IPB: Mikroplastik Lemahkan Peran Laut Serap Karbon

Pencemaran Laut hingga Darat

Dampak plastik meluas jauh melampaui isu emisi. Setiap tahun, lebih dari 8 juta ton sampah plastik diperkirakan masuk ke lautan dunia. Sampah ini mencederai, menjerat, dan membunuh sedikitnya 1.500 spesies organisme laut, mulai dari plankton, ikan, penyu, hingga mamalia laut. 

Dalam jangka panjang, plastik yang terpapar sinar matahari dan gelombang laut akan terfragmentasi menjadi mikroplastik, partikel berukuran kurang dari 5 milimeter yang hampir mustahil dibersihkan dari lingkungan.

Mikroplastik kini ditemukan di seluruh penjuru Bumi, termasuk di es Antartika, sedimen laut dalam, terumbu karang, hingga udara ambien di kawasan perkotaan. 

Di daratan, plastik mencemari tanah, mengganggu struktur dan kesuburannya, serta melepaskan bahan kimia aditif ke dalam air tanah. Sementara itu, pembakaran sampah plastik secara terbuka yang masih lazim di banyak negara berkembang melepaskan racun berbahaya seperti dioksin dan furan, senyawa yang diketahui bersifat karsinogenik dan merusak sistem hormon manusia.

Salah satu temuan paling mengkhawatirkan adalah masuknya mikroplastik ke dalam rantai makanan manusia. Partikel plastik telah ditemukan dalam ikan, kerang, garam laut, gula, hingga air minum kemasan dan air ledeng. 

Studi-studi terbaru menunjukkan bahwa manusia secara tidak sadar mengonsumsi mikroplastik melalui makanan dan minuman sehari-hari.

Di Indonesia, situasinya dinilai sangat serius. Penelitian menunjukkan bahwa konsumsi mikroplastik per kapita dapat mencapai sekitar 15 gram per orang per bulan, salah satu yang tertinggi di dunia. 

Angka ini mencerminkan tingginya tingkat pencemaran plastik di lingkungan, terutama akibat kebocoran sampah dari sistem pengelolaan yang belum optimal, sungai yang tercemar, serta penggunaan plastik sekali pakai yang masih masif.

Baca juga : Pakar IPB: Mikroplastik Lemahkan Peran Laut Serap Karbon

Jenis Plastik Paling Bermasalah

Plastik yang mencemari lingkungan berasal dari berbagai jenis dengan karakteristik berbeda. PET (polyethylene terephthalate) yang umum digunakan untuk botol minuman sebenarnya dapat didaur ulang, namun dalam praktiknya banyak yang berakhir sebagai sampah lingkungan. 

HDPE dan LDPE, yang sering digunakan untuk kantong plastik dan kemasan fleksibel, kerap menyumbat saluran air dan memicu banjir di kawasan perkotaan.

Sementara itu, PVC (polyvinyl chloride) dan polistirena (PS/styrofoam) dinilai sangat bermasalah karena sulit didaur ulang dan mengandung bahan kimia berbahaya.

Plastik multilapis, seperti kemasan sachet kopi dan makanan ringan, menjadi salah satu penyumbang terbesar sampah tak terkelola karena hampir tidak memiliki nilai daur ulang secara teknis maupun ekonomi.

Para ilmuwan sepakat bahwa akar persoalan plastik terletak pada ketergantungan tinggi terhadap bahan bakar fosil dan sistem ekonomi yang masih bersifat linear ambil, pakai, lalu buang. Selama produksi plastik terus meningkat, upaya pembersihan dan daur ulang dinilai tidak akan mampu mengejar laju pencemaran.

Untuk itu, berbagai laporan ilmiah dan kebijakan global menekankan perlunya perubahan struktural. Langkah utama yang direkomendasikan meliputi pengurangan produksi plastik, khususnya plastik sekali pakai, desain ulang produk agar lebih tahan lama dan mudah didaur ulang, serta investasi besar dalam sistem pengelolaan sampah yang efektif. 

Baca juga : Pakar IPB: Mikroplastik Lemahkan Peran Laut Serap Karbon

Selain itu, penerapan Extended Producer Responsibility (EPR) dinilai krusial agar produsen bertanggung jawab atas dampak produk mereka hingga tahap akhir siklus hidup.

Bagi Indonesia, isu plastik menjadi tantangan lingkungan sekaligus kesehatan masyarakat. Tingginya konsumsi mikroplastik, pencemaran sungai dan laut, serta praktik pembakaran sampah menunjukkan bahwa masalah ini telah memasuki fase darurat ekologis. 

Tanpa perubahan kebijakan yang tegas dan partisipasi publik yang luas, para ahli memperingatkan bahwa dampak plastik tidak hanya akan memperparah krisis iklim, tetapi juga mengancam kualitas hidup generasi mendatang.