Wiralagabae Sulap Baju Bekas jadi Tas Bernilai Tinggi
- Wira adalah sosok di balik brand Wiralagabae, brand yang menghadirkan produk tas premium berbahan daur ulang.

Distika Safara Setianda
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Di dunia yang semakin berfokus pada keberlanjutan dan pengurangan limbah, industri daur ulang menghadirkan banyak peluang bisnis.
Daur ulang adalah proses pengumpulan dan pengolahan bahan-bahan yang seharusnya dibuang sebagai sampah dan mengubahnya menjadi produk baru. Daur ulang dapat bermanfaat bagi komunitas, perekonomian, dan lingkungan.
Di Indonesia upcycle mulai bermunculan, seperti halnya produk tas dari limbah kain. Pernah mendengar nama Wira Laga Bachtiar? Sosoknya sempat viral setelah barang-barang bekas dari brand ternama menjadi baru dan bisa digunakan kembali.
Dia dikenal sebagai pria yang memulai kariernya di dunia media sosial sebagai TikToker. Di akun TikTok-nya, ia rutin membuat dan membagikan konten menarik yang berkaitan dengan fashion serta upcycle berbagai barang.
Wira adalah content creator muda asal Sidoarjo yang dikenal sangat kreatif. Ia adalah sosok di balik brand Wiralagabae, brand yang menghadirkan produk tas premium berbahan daur ulang. Melalui brand tersebut, Wira sukses menarik perhatian pasar fashion Indonesia, terutama di industri fashion berkelanjutan dan ramah lingkungan.
Awalnya, Wira memanfaatkan pakaian bekas miliknya sendiri sebagai bahan daur ulang. Seiring waktu, ia menjalin kerja sama dengan sejumlah pemasok guna meningkatkan kapasitas produksi dan memperluas ragam produk.
Selain itu, Wira memenfaakan media sosial sebagai sarana promosi dengan menghadirkan konten-konten kreatif yang sukses menarik banyak pelanggan baru.
Untuk tetap bertahan, Wiralagabae fokus pada produksi tas yang berkelanjutan dan memiliki daya tahan tinggi. Hal ini diwujudkan melalui desain yang berkonsep sustainability dan long lasting, sehingga produknya dapat digunakan dalam jangka waktu yang lama.
Karena popularitasnya, Wira mengungkapkan beberapa produk tiruan dari tasnya dijual dengan harga lebih murah daripada tas asli Wiralagabae. Harga barang tiruan tersebut jauh lebih rendah dibandingkan harga asli tas Wiralagabae yang berkisar sekitar Rp300 ribu.
Mengenai sumber inspirasi, Wira menyebutkan Diana Rikasari, desainer Indonesia yang kini menetap di Swiss, sebagai salah satu panutannya dalam berkarya. Melalui interaksi di media sosial, mereka berhasil menjalin pertemanan dan saling bertukar ide, yang menurut Wira sangat memperkaya kreativitas Wiralagabae.
Wira juga membagikan tips untuk generasi muda yang ingin mendirikan brand, dengan menekankan pentingnya membangun citra diri di era digital agar lebih mudah menjalin koneksi dan peluang.
Di sisi lain, kerja sama dengan layanan pendukung seperti jasa kurir juga penting. Awalnya, ia mengantar produknya sendiri ke outlet JNE terdekat dari rumahnya. Namun seiring meningkatnya jumlah pesanan, kini produk Wiralagabae langsung dijemput oleh kurir untuk mempermudah pengiriman.
Keberhasilan Wiralagabae menunjukkan industri fashion ramah lingkungan di Indonesia memiliki potensi yang sangat menjanjikan, baik dari sisi keuntungan bisnis maupun kontribusinya terhadap pelestarian lingkungan.
Memulai bisnis daur ulang adalah usaha yang menguntungkan yang menggabungkan kecintaan pada keberlanjutan dengan ketajaman bisnis yang tinggi. Sosok Wira Laga di balik Wiralagabae bisa dijadikan inspirasi oleh anak muda.

Distika Safara Setianda
Editor
