Tren Ekbis

Risiko Bencana Pengaruhi Minat Beli Properti Anak Muda

  • Isu bencana alam dan kualitas lingkungan disebut mulai memengaruhi minat generasi muda membeli properti, terutama dalam memilih lokasi hunian dan investasi.
blob-67c5f9fc6efb2.jpg
Aset Properti (eCatalog Sinarmasland)

JAKARTA, TRENASIA.ID - Faktor lingkungan dan risiko bencana mulai menjadi pertimbangan utama dalam keputusan pembelian properti, khususnya di kalangan generasi muda. Isu seperti banjir, longsor, pencemaran udara, hingga kondisi jarak dengan kawasan industri dinilai memengaruhi minat masyarakat dalam memilih lokasi hunian maupun investasi.

CEO & Founder Pinhome, Dara Dayu Permata, menjelaskan kejadian bencana atau insiden lingkungan di suatu wilayah dapat menimbulkan reaksi pasar dalam jangka pendek. Kondisi tersebut kerap memicu perubahan perilaku pembeli, mulai dari penundaan transaksi hingga munculnya fenomena panic selling dan panic buying pada area tertentu.

“Apabila terjadi hal-hal yang kurang favorable seperti bencana atau insiden lingkungan, maka biasanya akan ada pergerakan pasar. Tidak langsung, tetapi membuat orang berpikir ulang sebelum membeli,” ujar Dara dalam acara Residential Market 2026, Kamis, 12 Februari 2026.

Melansir dari EBSCO, Jumat, 13 Februari 2026, panic buying adalah kondisi yang mengacu pada perilaku individu membeli barang-barang tertentu dengan jumlah yang berlebihan. Fenomena ini kerap muncul dalam menanggapi bencana atau krisis yang akan datang. 

Panic buying dapat terjadi oleh adanya rasa takut akan kekurangan atau keinginan untuk mengambil keuntungan dari kelangkaan yang dianggap, menyebabkan gangguan secara signifikan.

Meski demikian, pengaruh bencana terhadap pasar tidak selalu bersifat permanen. Menurut Dara, dalam banyak kasus yang sudah terjadi, penurunan minat pembelian hanya terjadi sementara, terutama ketika kerusakan bersifat lokal dan dapat diperbaiki. Keputusan pembelian selanjutnya ditentukan oleh kondisi aset serta potensi pengembangan kawasan.

Selain risiko bencana, masyarakat juga mulai mempertimbangkan indikator lingkungan lain seperti kualitas udara, indeks air bersih, serta jarak dari sungai atau area rawan banjir. Perubahan pola pikir ini menunjukkan meningkatnya kesadaran pembeli terhadap aspek keberlanjutan dan keamanan hunian.

“Sekarang masyarakat tidak hanya melihat harga atau lokasi komersial, tetapi juga kualitas lingkungan seperti indeks udara dan air, serta jarak dari area sensitif,” tegas Dara.

Foto Kawasan Industri. Sumber: Kutawaringin Industrial Park

Di kawasan industri, pola pembelian juga menunjukkan kombinasi antara kebutuhan hunian dan investasi. Sekitar 50–60% pembelian dilakukan untuk ditempati, sementara 30–40% lainnya bersifat investasi. Pembeli biasanya mempertimbangkan potensi sewa jangka panjang serta kemungkinan relokasi pekerjaan di masa depan.

Sementara itu, tingkat konversi pencarian menjadi transaksi di sektor properti masih relatif rendah. Dara menjelaskan, sekitar 100 calon pembeli yang mencari properti, hanya sebagian kecil yang akhirnya melakukan transaksi dalam periode enam hingga dua belas bulan. Hal ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk keterbatasan informasi aset, kemampuan ekonomi, serta skema pembiayaan.

Dara menilai, tren ini mencerminkan perubahan preferensi generasi muda yang semakin berhati-hati sebelum membeli rumah. Selain mempertimbangkan harga dan lokasi, calon pembeli kini lebih fokus pada risiko jangka panjang dan kualitas lingkungan sekitar.

Dengan meningkatnya kesadaran terhadap faktor risiko dan keberlanjutan, pasar properti diperkirakan semakin menyesuaikan diri terhadap kebutuhan pembeli yang lebih selektif. Perubahan ini sekaligus menandai pergeseran pola konsumsi properti menuju keputusan yang lebih berbasis data dan analisis risiko.