Tren Jual Cepat Properti Naik, Peluang Investor Muda?
- Listing rumah berlabel “butuh uang” naik 15%. Fenomena ini membuka peluang investor dan pembeli baru memanfaatkan harga properti yang lebih fleksibel.

Maharani Dwi Puspita Sari
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Tren penjualan properti menunjukkan perubahan signifikan seiring meningkatnya jumlah rumah yang dipasarkan dengan label “butuh uang”, “nego sampai jadi”, hingga penawaran harga fleksibel.
Fenomena ini dinilai membuka peluang baru bagi investor, termasuk generasi muda yang ingin mulai masuk ke sektor properti. CEO & Founder Pinhome, Dara Dayu Permata, memaparkan berdasarkan data pasar properti yang dirilis Pinhome, terjadi peningkatan hingga sekitar 15% pada listing rumah dijual yang mengindikasikan kebutuhan likuiditas pemilik aset.
Kenaikan tersebut terlihat pada semester kedua, ketika semakin banyak pemilik menawarkan rumah dengan harga lebih kompetitif. “Terjadi peningkatan hingga 15% pada listing rumah dengan label seperti ‘butuh uang’. Ini menjadi sinyal adanya kebutuhan likuiditas dari segmen retail,” ujar Dara dalam acara Indonesia Residential Market, Kamis, 12 Februari 2026.
Kondisi tersebut dinilai mencerminkan dinamika ekonomi di level individu, di mana sebagian pemilik properti memilih melepas aset untuk mendapatkan dana segar. Namun di sisi lain, situasi ini juga menciptakan peluang bagi calon pembeli maupun investor yang mencari harga relatif lebih terjangkau.
Dara juga menyebutkan bahwa tren negosiasi harga semakin terbuka dan banyak ditemukan pada listing properti baru yang masuk ke pasar. Situasi ini dipandang sebagai kesempatan strategis bagi investor, khususnya mereka yang ingin mengakumulasi aset properti saat pasar menawarkan fleksibilitas lebih tinggi.
“Ketika pasar memberikan peluang harga lebih murah, hal ini dapat menjadi momentum bagi investor untuk masuk dan memanfaatkan kesempatan,” ungkap Dara.
Selain peningkatan listing, perubahan preferensi konsumen juga menjadi perhatian. Pencarian properti melalui platform digital menunjukkan aktivitas yang semakin meningkat, sehingga menandakan pergeseran perilaku pembeli yang lebih aktif memantau peluang investasi secara online.
Pola ini menandakan calon pembeli semakin aktif memantau pasar secara real time dan memanfaatkan teknologi untuk membandingkan harga serta lokasi.
Perubahan ini juga mencerminkan bagaimana sektor properti terus beradaptasi terhadap kebutuhan likuiditas masyarakat sekaligus menciptakan peluang baru di tengah dinamika ekonomi.
Bagi generasi muda, meningkatnya jumlah properti dengan harga lebih fleksibel dapat menjadi pintu masuk awal untuk memahami dinamika investasi aset riil. Namun keputusan pembelian tetap memerlukan perhitungan matang, termasuk kemampuan membayar cicilan, biaya perawatan, serta proyeksi nilai properti di masa depan.
Dengan meningkatnya penawaran dan fleksibilitas harga, pasar properti saat ini dinilai berada pada fase yang relatif dinamis. Perubahan ini menunjukkan bagaimana sektor properti beradaptasi terhadap kebutuhan likuiditas masyarakat sekaligus membuka peluang baru bagi investor yang mampu membaca momentum pasar secara tepat.

Maharani Dwi Puspita Sari
Editor
