Tren Ekbis

Saran Ekonom Buat Gen Z untuk Hadapi Hantu Resesi

  • Ekonom UMS membagikan strategi investasi di tengah ketidakpastian ekonomi. Pelajari pentingnya diversifikasi portofolio hingga menghindari investasi bodong.
Kesehatan Mental
Kesehatan Mental (Unsplash)

JAKARTA, TRENASIA.ID—Di tengah potensi resesi dan ketidakpastian ekonomi dunia saat ini, kaum muda dianjurkan memiliki pemahaman finansial serta memulai langkah investasi sedini mungkin. Strategi penyebaran aset dan pengetahuan tentang risiko menjadi kunci utama dalam berinvestasi agar terhindar dari kerugian besar.

Guru Besar Ekonomi dari Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Prof. Agus Setyawan, mengatakan generasi muda masa kini memang memiliki keunggulan dalam mengakses informasi dengan lebih cepat dan memiliki kepekaan yang baik dalam menangkap peluang di pasar. 

Meski begitu, ia mengingatkan ada satu prinsip fundamental yang wajib dipegang teguh, yakni melakukan diversifikasi portofolio atau menghindari penempatan seluruh dana di satu jenis instrumen investasi saja.

“Rumusnya sebenarnya cuma satu, don't put your eggs in one basket. Jangan taruh telur pada satu keranjang yang sama. Portofolionya harus disebar, tujuannya agar ketika terjadi risiko di satu instrumen, aset di tempat lain masih aman dan masih memberikan keuntungan,” ujarnya dalam keterangan pada TrenAsia.id, Senin 26 Januari 2026. 

Anton menganjurkan anak muda memilah tujuan keuangan mereka dengan jelas. Untuk dana yang diperuntukkan sebagai simpanan jangka panjang, lebih baik memilih instrumen yang aman seperti Surat Berharga Negara (SBN) atau obligasi. 

Sisihkan Uang Jajan untuk Investasi

Sedangkan bagi yang menginginkan pertumbuhan aset lebih agresif, bisa mengalokasikan sebagian kecil dari dana 'uang jajan' mereka ke instrumen berisiko tinggi seperti saham atau mata uang kripto, dengan syarat harus benar-benar siap menanggung risikonya.

Pakar ekonomi UMS ini memberikan apresiasi terhadap tren generasi muda yang mulai mempelajari trading dan investasi lewat aplikasi yang legal serta berada di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). 

Dalam pandangannya, pengalaman mengalami kerugian di tahap awal merupakan bagian penting dari pembelajaran untuk membentuk mental investor yang kuat, selama tidak menggunakan dana untuk kebutuhan hidup sehari-hari.

“Investasi itu harus siap dengan kerugian yang mungkin tumbuh. Kalau uang investasi rugi kok sambat (mengeluh), berarti belum siap. Anak muda sekarang pintar, mereka tahu porsi mana yang buat tabungan, mana yang buat main-main cari tambahan uang jajan,” tambahnya.

Lebih lanjut, Anton menegaskan betapa pentingnya memiliki kemampuan melakukan analisis fundamental dan teknikal sebelum masuk ke dunia pasar modal. Dia juga mengingatkan pentingnya bersikap rasional dan selalu waspada terhadap aplikasi investasi ilegal yang menjanjikan keuntungan yang tidak realistis dalam waktu singkat.

“Sebaiknya pilih yang sudah terdaftar di OJK dan Badan Pengawas Pasar Modal (BAPEPAM). Situasi ekonomi makin uncertain (tidak pasti), jadi akan lebih baik kalau anak muda punya portofolio investasi yang lengkap selain pekerjaan utama mereka," tuturnya.

Diketahui, potensi resesi ekonomi di Indonesia pada 2026 dinilai meningkat akibat pertumbuhan ekonomi yang stagnan di kisaran 5% dan penurunan daya beli masyarakat. Survei menunjukkan risiko resesi global, termasuk di AS, meningkat menjadi 40% karena kebijakan tarif, dengan potensi kontraksi kuartalan di Indonesia. 

Baca Juga: Lima Resesi Global Pascaperang yang Mengubah Ekonomi Dunia

Ekonomi RI diperkirakan stagnan dengan potensi pertumbuhan melambat, di mana beberapa sektor mengalami kontraksi seperti jasa pendidikan, pertambangan, dan konstruksi pada awal 2025. 

Resesi terjadi ketika PDB mengalami kontraksi selama dua kuartal atau lebih berturut-turut, seringkali disertai dengan peningkatan pengangguran, penurunan daya beli, dan melambatnya aktivitas produksi.