Skenario Jika Harga Minyak Naik, Apakah APBN 2026 Kuat?
- Kematian Ayatollah Ali Khamenei memicu lonjakan minyak, tekanan APBN, risiko gangguan Hormuz, pelemahan rupiah, serta ancaman naiknya harga pangan di Indonesia.

Alvin Bagaskara
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Kematian pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, akibat serangan udara Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu, 28 Februari 2026, memicu guncangan ekonomi. Tragedi yang menimpa tokoh yang telah memerintah lebih dari tiga dekade tersebut memancing respons serangan balasan langsung dari pihak Teheran.
Merespons eskalasi di Timur Tengah tersebut, lembaga riset Center of Economic and Law Studies (Celios) membunyikan alarm kewaspadaan. Lembaga ini mengungkapkan sederet dampak konflik tersebut terhadap perekonomian Indonesia, mulai dari kenaikan harga energi hingga gangguan jalur perdagangan internasional.
Melalui akun Instagram resminya pada Minggu, 1 Maret 2026, Celios merinci ancaman nyata yang harus dihadapi oleh Tanah Air. Sebagai negara importir bersih minyak, Indonesia berpotensi merasakan tekanan ekonomi yang kuat ketika harga komoditas energi global tersebut mengalami peningkatan tajam.
Lonjakan Harga Minyak Dunia
Peringatan pertama yang disoroti oleh Celios berpusat pada risiko melambungnya harga bahan bakar minyak (BBM). Eskalasi perang terbuka di kawasan Timur Tengah ini dinilai berisiko besar mengakibatkan penyesuaian harga energi domestik secara signifikan.
Tren kenaikan ini sebenarnya sudah mulai terekam pada pergerakan harga minyak mentah jenis Brent sejak awal tahun 2026. Menurut catatan lembaga riset tersebut, harga minyak acuan internasional ini telah mengalami lonjakan sebesar 20,7% hingga menyentuh level US$72,8 per barel.
Situasi ini diproyeksikan bisa berubah menjadi krisis energi yang jauh lebih mencekam jika konflik tidak segera mereda. "Skenario terburuknya, harga minyak dunia berpotensi naik menjadi US$100 hingga US$120 per barel," tulis Celios dikutip TrenAsia.Id pada Senin, 2 Maret 2026.
Beban Belanja APBN 2026
Tekanan fiskal yang sangat nyata dipastikan akan langsung menghantam perekonomian nasional ketika harga minyak dunia terus meningkat. Indonesia berpotensi merasakan dampak langsung karena beban tanggungan subsidi dan kompensasi energi yang membengkak di luar kendali.
Guncangan eksternal ini secara otomatis akan membebani postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Padahal, dalam simulasi APBN tahun 2026 yang telah disusun, pemerintah mematok asumsi harga minyak mentah pada angka yang cukup moderat, yakni di level US$70 Dolar per barel.
Selisih harga inilah yang kelak menciptakan lubang besar bagi kas negara melalui skema pembengkakan belanja. Berdasarkan kalkulasi matematis APBN 2026, setiap kenaikan harga minyak sebesar US$1 per barel di atas asumsi diperkirakan akan menambah beban belanja negara sekitar Rp10,3 triliun.
Gangguan Jalur Selat Hormuz
Selain berdampak pada harga minyak, ketegangan ini menempatkan jalur perdagangan internasional dalam risiko besar. Rute maritim yang menjadi sorotan utama adalah Selat Hormuz, sebuah perairan sempit yang menghubungkan wilayah Teluk Persia dengan Teluk Oman.
Kedudukan selat tersebut sangat vital karena menjadi urat nadi utama bagi lalu lintas armada kapal pengangkut energi. Berdasarkan catatan Celios, sebanyak 20% dari total kapal pengangkut minyak di seluruh dunia melintasi rute perairan tersebut secara reguler.
Tingginya angka ketergantungan ini tercermin dari besarnya kapasitas muatan logistik yang dikirim setiap bulannya. Laporan lembaga riset tersebut menunjukkan bahwa rata-rata volume pengiriman bulanan minyak mentah melalui Selat Hormuz berkisar antara 2 juta hingga 4 juta metrik ton per Februari 2026.
Pelarian Modal ke Aset Emas
Kondisi geopolitik yang memanas ini turut memicu kekhawatiran meluas akan terjadinya fenomena flight to quality. Fenomena ini merujuk pada pergeseran portofolio para investor secara drastis dari aset-aset berisiko menuju berbagai instrumen yang dinilai jauh lebih aman.
Eksodus modal ini diyakini akan memberikan tekanan yang signifikan terhadap pergerakan pasar valuta asing. Situasi tersebut dinilai berpotensi kuat menekan stabilitas nilai tukar rupiah, sehingga risiko pelemahan mata uang Garuda ke depan dapat semakin dalam.
Dalam pergeseran aset ini, instrumen logam mulia menjadi pilihan utama seiring dengan laporan Celios yang menyebut fenomena gold rush masih terjadi. Harga emas global tercatat naik 48,4% dalam enam bulan terakhir, yang salah satunya dipicu oleh memanasnya tensi konflik di kawasan Timur Tengah.
Ancaman Program dan Daya Beli
Di tengah terganggunya rantai pasokan global, dampak perang nyatanya juga merambat langsung ke sektor pangan domestik. Celios memberikan peringatan serius mengenai potensi lonjakan harga pada sejumlah komoditas pangan pokok yang menjadi kebutuhan harian masyarakat.
Ancaman inflasi pangan tersebut diproyeksikan akan mengerek harga komoditas spesifik seperti daging ayam, telur, beras, hingga berbagai jenis sayuran. Melonjaknya harga bahan pokok ini menjadi sorotan tajam, terlebih di tengah pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang sedang berjalan.
Pada akhirnya, rentetan himpitan ekonomi ini dinilai berisiko fatal dalam memukul perekonomian level masyarakat. Situasi ini berisiko menekan daya beli masyarakat, khususnya kelompok kelas menengah, sehingga pendapatan yang dapat dibelanjakan (disposable income) mereka berpotensi semakin menyusut.

Alvin Bagaskara
Editor
