Tren Global

Kronologi AS Gempur Iran Hingga Ayatollah Ali Khamenei Tewas

  • Serangan udara Amerika Serikat dan Israel hancurkan kompleks kepresidenan Teheran. Operasi ini resmi menewaskan Ayatollah Ali Khamenei dan petinggi militer.
gettyimages-2160736805-copy-scaled.jpg

JAKARTA, TRENASIA.ID – Lanskap geopolitik Timur Tengah resmi memasuki babak baru yang paling krusial usai militer Amerika Serikat dan Israel meluncurkan serangan mematikan ke ibu kota Iran pada Sabtu, 28 Februari 2026. Operasi presisi tingkat tinggi tersebut secara spesifik menargetkan pusat komando dan kepemimpinan tertinggi Republik Islam Iran.

Target utama dari gempuran terkoordinasi ini adalah kompleks kediaman sekaligus kantor Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei di Teheran. Serangan udara tersebut menghancurkan fasilitas strategis yang saat itu tengah digunakan untuk melangsungkan pertemuan tingkat tinggi para elite militer dan intelijen negara.

Insiden bersejarah ini langsung mengubah peta kekuatan global setelah otoritas resmi mengonfirmasi tewasnya Ayatollah Ali Khamenei di usia 86 tahun. Serangan telak tersebut menghancurkan jantung komando Iran dan menewaskan puluhan pejabat senior yang sedang merumuskan strategi pertahanan nasional.

Gelombang Serangan Fajar di Teheran

Operasi pemenggalan kepemimpinan ini dieksekusi melalui perencanaan waktu yang sangat presisi pada Sabtu dini hari waktu setempat. Rentetan gempuran udara pertama dimulai pada rentang pukul 02:00 hingga 04:00 pagi, berfokus pada penghancuran sistem pertahanan udara dan sejumlah fasilitas nuklir vital.

Lumpuhnya payung udara Iran tersebut membuka jalan bagi gempuran puncak yang diluncurkan pada pukul 05:30 pagi waktu setempat. Sebuah serangan udara berpresisi tinggi langsung menghantam kompleks kediaman Khamenei ketika pertemuan krusial para petinggi negara sedang berlangsung di dalamnya.

Saksi mata di lapangan melaporkan kepulan asap tebal menyelimuti pusat kota Teheran sesaat setelah ledakan dahsyat terdengar. Otoritas keamanan setempat langsung merespons dengan penutupan seluruh akses jalan menuju kompleks pemimpin tertinggi, pemblokiran wilayah udara nasional, hingga pemutusan jaringan komunikasi seluler.

Konfirmasi Resmi Kematian Sang Ayatollah

Di tengah simpang siur informasi pada jam-jam pertama pasca-ledakan, otoritas Iran sempat mengeluarkan pernyataan bantahan terkait kondisi pemimpin tertinggi mereka. Namun, desakan bukti di lapangan membuat media pemerintah Iran akhirnya merilis pernyataan resmi yang mengonfirmasi tewasnya Ayatollah Ali Khamenei.

Kabar keberhasilan operasi mematikan ini pertama kali diklaim secara sepihak oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, melalui platform Truth Social. Pernyataan tersebut sejalan dengan laporan intelijen Barat dan klaim dari Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengenai presisi target operasi mereka.

Laporan ini secara cepat diamplifikasi oleh berbagai kantor berita internasional terkemuka mulai dari Reuters, Axios, CNN, NPR, Al Jazeera, hingga BBC. Berbagai media global tersebut menyoroti absennya Khamenei dari ruang publik yang diperkuat oleh rilisnya analisis citra satelit terkait kehancuran kompleks kepresidenan.

Runtuhnya Pilar Militer Iran

Operasi intelijen sekutu terbukti sangat mematikan karena misil diluncurkan tepat ketika petinggi militer berkumpul dalam satu ruangan. Serangan ini melenyapkan nyawa Sekretaris Dewan Pertahanan sekaligus penasihat Khamenei, Ali Shamkhani, yang sedang memimpin konsolidasi strategi di lokasi kejadian.

Kehancuran struktur komando Iran semakin parah dengan tewasnya Komandan Garda Revolusi (IRGC), Mohammad Pakpour. Posisi krusial lainnya yang ikut gugur dalam ledakan tersebut adalah Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran, Mohammad Bagheri, yang memegang kendali penuh atas pergerakan tentara nasional.

Runtuhnya bangunan akibat ledakan berdaya hancur tinggi tersebut juga menelan korban dari jajaran kabinet dan birokrat elite. Menteri Pertahanan Aziz Nasirzadeh, Kepala Biro Militer Khamenei Mohammad Shirazi, serta Kepala Direktorat Intelijen Saleh Asadi dipastikan tewas tertimbun reruntuhan fasilitas rahasia tersebut.

Kelumpuhan Sektor Intelijen dan Nuklir

Selain melumpuhkan sayap militer konvensional, serangan presisi ini juga menghancurkan struktur komando program senjata strategis Teheran. Ketua Program Nuklir Iran (SPND), Hossein Jabal Amelian, dilaporkan tewas di tempat bersama dengan pendahulunya, Reza Mozafari-Nia.

Kerugian intelijen di pihak Iran semakin mendalam menyusul konfirmasi tewasnya empat komandan intelijen senior yang menghadiri rapat tersebut. Keempat petinggi telik sandi yang gugur itu meliputi Javad Pourhossein, Mohammad-Reza Bajestani, Ali Kheirandish, dan Saeed Ehya Hamidi.

Daftar korban jiwa warga sipil dari lingkaran inti rezim juga bertambah panjang pasca-evakuasi reruntuhan. Menantu laki-laki dan menantu perempuan mendiang Khamenei dipastikan turut menjadi korban tewas bersama puluhan staf keamanan yang berjaga di kompleks kediaman sang pemimpin tertinggi.

Guncangan Geopolitik Timur Tengah

Keberhasilan militer sekutu menembus jantung pertahanan Teheran merupakan pukulan paling fatal bagi eksistensi Republik Islam Iran sejak revolusi 1979. Kematian simultan dari pemimpin spiritual hingga jenderal lapangan ini menciptakan lubang kekosongan komando di tengah ancaman invasi lanjutan.

Operasi mematikan ini merupakan kulminasi dari eskalasi militer yang dibangun Amerika Serikat dan sekutunya di kawasan regional selama beberapa bulan terakhir. Ketegangan yang sebelumnya dipicu oleh kebuntuan negosiasi program nuklir kini telah bertransformasi menjadi perang terbuka yang menghancurkan hierarki kepemimpinan Iran.

Para pengamat internasional menilai insiden bersejarah ini akan merombak total postur keamanan di kawasan Timur Tengah. Hilangnya figur sentral yang mengendalikan jaringan proksi Iran di berbagai negara diperkirakan akan memicu gejolak politik dan keamanan berskala masif dalam waktu dekat.