Saatnya Mendorong Sepeda jadi Alternatif Transportasi Warga
- Studi menunjukkan investasi pada sepeda mampu meningkatkan kesehatan, mengurangi biaya transportasi, dan menghasilkan nilai ekonomi besar. Alternatif kurangi penggunaan BBM.

Chrisna Chanis Cara
Author


SOLO, TRENASIA.ID – Kenaikan harga Pertamax yang berlaku sejak 10 Juni 2026 kembali mengingatkan masyarakat pada tingginya ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.
Di tengah tren harga energi yang masih berfluktuasi akibat ketidakpastian geopolitik global, ruang fiskal pemerintah semakin terbatas untuk terus mempertahankan subsidi energi dalam jangka panjang.
Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan yang semakin relevan: apakah masyarakat Indonesia sudah memiliki alternatif mobilitas yang lebih hemat dan berkelanjutan jika harga BBM, termasuk Pertalite, suatu saat ikut mengalami penyesuaian?
Di berbagai negara, salah satu jawabannya adalah transportasi non-motorized atau transportasi tanpa mesin seperti berjalan kaki dan bersepeda. Selain mengurangi ketergantungan terhadap BBM, moda transportasi ini terbukti memberikan manfaat ekonomi, kesehatan, hingga lingkungan yang signifikan.
Peneliti Pusat Studi Mobilitas Lestari Transportologi, Sukma Larastiti, mengatakan pengalaman Jerman menunjukkan bahwa investasi pada ekosistem bersepeda mampu menghasilkan dampak ekonomi yang jauh melampaui biaya pembangunan infrastruktur.
Dalam seminar bertajuk Prioritizing Cycling Policy in Indonesia: Could Cycling Provide Economic Benefits for Cities? beberapa waktu lalu, Sukma memaparkan bahwa kebijakan bersepeda di Jerman menghasilkan nilai ekonomi mencapai 141,7 miliar hingga 144,7 miliar euro pada 2024 atau setara lebih dari Rp2.400 triliun.
"Pengalaman Jerman dapat menjadi referensi bagi Indonesia dalam menyusun kebijakan transportasi yang lebih ramah pesepeda," ujar Lala, sapaan akrabnya.
Bukan Sekadar Olahraga
Nilai ekonomi tersebut berasal dari berbagai sektor, mulai dari kesehatan masyarakat, industri sepeda, hingga pariwisata. Data penelitian menunjukkan kontribusi terbesar berasal dari penghematan biaya kesehatan yang mencapai 68,3 miliar euro.
Sementara industri sepeda menyumbang sekitar 47 miliar euro dan sektor wisata berbasis sepeda menghasilkan 22 hingga 25 miliar euro. Temuan tersebut sejalan dengan berbagai riset internasional.
Studi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan aktivitas berjalan kaki dan bersepeda secara rutin mampu menurunkan risiko penyakit jantung, diabetes tipe 2, obesitas, hingga kematian dini. Manfaat kesehatan tersebut pada akhirnya mengurangi beban pembiayaan kesehatan publik.

Sementara laporan European Cyclists' Federation memperkirakan manfaat ekonomi bersepeda di Eropa mencapai ratusan miliar euro setiap tahun melalui pengurangan kemacetan, emisi karbon, kecelakaan lalu lintas, dan biaya kesehatan.
Bagi masyarakat perkotaan, bersepeda juga menjadi salah satu moda dengan biaya operasional paling rendah dibanding kendaraan bermotor yang bergantung pada harga BBM.
Indonesia Masih Tertinggal
Meski potensinya besar, Indonesia masih menghadapi tantangan serius dalam mengembangkan budaya bersepeda. Berdasarkan proyeksi yang mengacu pada data Jerman, Indonesia sebenarnya berpotensi menghasilkan nilai ekonomi sekitar 1,4 miliar hingga 1,5 miliar euro atau setara Rp29 triliun dari sektor bersepeda.
Namun realisasi potensi tersebut masih terhambat keterbatasan data, minimnya infrastruktur, dan rendahnya investasi. Menurut Lala, keselamatan menjadi persoalan utama karena pesepeda masih harus berbagi ruang dengan kendaraan bermotor berkecepatan tinggi.
"Pesepeda menghadapi risiko keselamatan yang tinggi karena belum didukung infrastruktur yang memadai. Selain itu, keamanan parkir sepeda juga masih menjadi tantangan," jelasnya.
Kesenjangan investasi Indonesia dan Jerman juga sangat mencolok. Jerman mengalokasikan sekitar 5,4 euro per kapita per tahun untuk pengembangan infrastruktur sepeda dan menargetkan peningkatan menjadi 30 euro per kapita pada 2030.
Sebaliknya, investasi Indonesia masih berada di kisaran 0,01 hingga 0,02 euro per kapita per tahun. Akibatnya, panjang jalur sepeda di Jerman telah mencapai sekitar 58.421 kilometer, sedangkan Indonesia baru memiliki sekitar 567 kilometer jalur sepeda yang tersebar di 21 kota.
Momentum Kurangi Ketergantungan BBM
Kenaikan harga Pertamax dan wacana evaluasi berbagai subsidi energi seharusnya menjadi momentum untuk mengubah cara pandang terhadap transportasi perkotaan.
Selama ini, kebijakan transportasi lebih banyak berorientasi pada kendaraan bermotor. Padahal, semakin tinggi ketergantungan masyarakat terhadap BBM, semakin rentan pula biaya hidup terhadap gejolak harga energi global.
Lala menilai sepeda tidak bisa diposisikan sekadar sebagai sarana rekreasi atau olahraga. Moda ini perlu menjadi bagian integral dari sistem transportasi nasional yang terhubung dengan angkutan umum dan didukung kebijakan jangka panjang.
Pengalaman Jerman menunjukkan keberhasilan pembangunan budaya bersepeda tidak hanya bergantung pada jalur khusus, tetapi juga dukungan politik, integrasi transportasi publik, dan sistem data yang kuat.
Jika Indonesia ingin mengurangi tekanan akibat kenaikan biaya energi sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat perkotaan, investasi pada transportasi non-motorized bukan lagi pilihan tambahan. Ia mulai menjadi kebutuhan strategis.
Di tengah harga BBM yang terus berpotensi berfluktuasi, bersepeda bukan sekadar gaya hidup ramah lingkungan. Bagi banyak kota di dunia, sepeda telah menjadi instrumen ekonomi, kesehatan, dan ketahanan energi yang terbukti efektif.

Chrisna Chanis Cara
Editor
