Pantas Trump Ngincer, Ini Daftar SDA Greenland
- Di balik keinginan Trump untuk menguasai Greenland, wilayah itu ternyata menyimpan segudang sumber daya alam yang tak ternilai jumlahnya

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menegaskan ambisinya terhadap Greenland. Wilayah otonom milik Denmark itu disebutnya sebagai kawasan yang sangat penting bagi kepentingan keamanan nasional Amerika Serikat, terutama dalam konteks persaingan geopolitik global dan militer di kawasan Arktik.
“Kami membutuhkan Greenland dari sudut pandang keamanan nasional,” ujar Trump dalam pernyataan terbarunya, dikutip Reuters, Rabu, 7 Januari 2025.
Pernyataan tersebut langsung memicu reaksi keras dari Denmark dan sejumlah pejabat Uni Eropa. Para pemimpin Eropa menilai klaim Trump tidak pantas disampaikan di antara negara-negara sekutu dan berpotensi memicu eskalasi ketegangan militer di kawasan Atlantik Utara.
Seorang pejabat Eropa yang dikutip AP News menegaskan, “Ancaman semacam ini tidak seharusnya muncul di antara sesama sekutu. Setiap eskalasi militer hanya akan merusak hubungan dalam NATO.”
Dibalik keinginan Trump untuk menguasai Greenland, wilayah itu ternyata menyimpan segudang sumber daya alam yang tak ternilai jumlahnya. Dikutip laman International Politik Quarterly, berikut sejumlah sumber daya langka yang ada di Greenland,
Gudang Mineral Kritis Dunia
Greenland dikenal sebagai salah satu kawasan dengan cadangan mineral kritis dan logam strategis terbesar di dunia, terutama di luar dominasi China.
Salah satu yang paling menonjol adalah logam tanah jarang (Rare Earth Elements/REE). Deposit besar seperti Kvanefjeld dan Tanbreez menyimpan neodymium dan praseodymium, mineral kunci untuk magnet permanen pada kendaraan listrik, turbin angin, hingga industri pertahanan.
Cadangan ini dinilai sebagai alternatif penting bagi AS dan Uni Eropa untuk mengurangi ketergantungan pasokan dari China.
Selain itu, Greenland juga memiliki grafit dengan estimasi sumber daya sekitar 6 juta ton, yang disebut cukup untuk memenuhi sebagian besar kebutuhan global baterai kendaraan listrik hingga 2040.
Litium, komponen utama baterai, juga termasuk dalam daftar mineral kritis yang tersebar di wilayah tersebut.
Baca juga : Maucash Tutup, Awas Penipu Minta Transfer Rekening Pribadi

Logam Industri hingga Uranium
Tak hanya mineral baterai, Greenland menyimpan berbagai logam industri dan logam berharga seperti emas, besi, tembaga, seng, nikel, dan timbal.
Tambang emas Nalunaq pernah beroperasi dan menjadi bukti potensi komersial wilayah ini, sementara eksplorasi tembaga dan nikel masih terus berlangsung.
Greenland juga memiliki cadangan uranium, yang kerap ditemukan bersamaan dengan logam tanah jarang, terutama di Kvanefjeld. Namun, eksploitasi uranium dibatasi oleh regulasi ketat karena risiko radioaktif dan dampak lingkungannya.
Energi dan Sumber Daya Hayati
Dari sektor energi, Greenland diperkirakan memiliki cadangan minyak dan gas alam yang signifikan di landas kontinen, khususnya di lepas pantai barat.
Meski demikian, kondisi lingkungan ekstrem dan biaya produksi yang tinggi membuat eksploitasi komersial belum layak dalam waktu dekat.
Sementara itu, energi terbarukan menjadi tulang punggung pasokan listrik lokal. Sekitar 70% kebutuhan energi Greenland berasal dari tenaga air, menjadikannya salah satu wilayah dengan bauran energi bersih tertinggi di dunia.
Di sektor biologis, perikanan menjadi sumber ekonomi utama masyarakat Greenland. Selain itu, kawasan pesisirnya menyimpan sumber daya seperti rumput laut (kelp) dan lamun (eelgrass), yang kini menjadi fokus penelitian terkait dampak industri dan perubahan iklim.
Baca juga : IHSG Ngegas Terus, Analis Pilih Saham BBRI hingga TINS
Nilai Strategis di Pusaran Geopolitik
Di luar kekayaan alam, posisi Greenland sangat strategis secara geopolitik. Terletak di jalur laut Arktik yang semakin terbuka akibat perubahan iklim, Greenland menjadi titik penting dalam sistem pertahanan AS dan NATO, termasuk melalui Pangkalan Luar Angkasa Pituffik.
Bagi Amerika Serikat dan Uni Eropa, Greenland menawarkan peluang besar untuk mendiversifikasi rantai pasokan mineral kritis, sekaligus memperkuat pengaruh di kawasan Arktik yang kini menjadi arena persaingan global baru.
Sementara bagi pemerintah Greenland sendiri, pengelolaan sumber daya secara hati-hati dipandang sebagai jalan menuju otonomi ekonomi dan pengurangan ketergantungan terhadap subsidi Denmark.
Dengan kombinasi kekayaan mineral, energi, dan posisi strategis, tak heran jika Greenland terus menjadi incaran negara-negara besar.
Ambisi Amerika Serikat yang kembali disuarakan Donald Trump pun mempertegas bahwa pulau es ini bukan sekadar wilayah terpencil, melainkan aset geopolitik bernilai tinggi di abad ke-21.

Muhammad Imam Hatami
Editor
