Tren Pasar

Tips Cerdas Pilih Obligasi dan Sukuk bagi Investor Pemula

  • Pelajari tips investasi obligasi dan sukuk bagi pemula lewat bedah kasus SMAR dan INET Januari 2026. Pahami risiko refinancing vs ekspansi untuk portofolio.
IHSG Ditutup Menguat-0.jpg
Karyawan berkatifitas di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, 8 September 2022. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia (trenasia.com)

JAKARTA, TRENASIA.ID - Diversifikasi portofolio investasi sering kali menjadi tantangan tersendiri bagi pemodal pemula. Deposito perbankan menawarkan keamanan namun dengan imbal hasil rendah, sementara pasar saham menjanjikan keuntungan tinggi dengan volatilitas ekstrem. Di tengah polarisasi ini, pasar obligasi dan sukuk korporasi hadir sebagai alternatif moderat yang menarik.

Berbeda dengan Surat Berharga Negara (SBN) yang konservatif, surat utang korporasi menawarkan imbal hasil premium dengan risiko terukur. Pekan ketiga Januari 2026 menjadi momentum penting dengan aksi korporasi dua emiten besar, yakni PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMAR) dan PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET).

Strategi Refinancing Grup Sinar Mas

Emiten perkebunan Grup Sinar Mas, SMAR, resmi menerbitkan obligasi dan sukuk ijarah senilai total Rp1,2 triliun. Manajemen menawarkan tingkat kupon kompetitif bagi pasar, yakni di angka 6,2 persen untuk tenor 5 tahun dan 6,5 persen untuk tenor 7 tahun sesuai prospektus ringkas perseroan.

Fokus utama aksi korporasi ini terletak pada alokasi penggunaan dana hasil emisi. Dalam keterbukaan informasi, SMAR secara transparan mengalokasikan mayoritas dana untuk refinancing. Langkah ini bertujuan melunasi pinjaman bank di BCA serta membayar kewajiban obligasi lama yang akan segera jatuh tempo pada tahun ini.

Strategi perputaran utang ini merupakan praktik lumrah dalam manajemen arus kas korporasi besar. Hal tersebut menandakan profil investasi defensif, di mana investor meminjamkan dana kepada perusahaan mapan untuk merestrukturisasi neraca keuangan agar operasional bisnis tetap berjalan stabil di tengah volatilitas harga pasar komoditas.

Ekspansi Infrastruktur Teknologi INET

Kontras dengan langkah konservatif SMAR, PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) menempuh jalur lebih agresif. Perusahaan teknologi ini menerbitkan surat utang total Rp1 triliun dengan opsi tenor taktis, termasuk seri jangka pendek 370 hari, yang ditujukan bukan untuk pelunasan utang masa lalu perseroan.

Manajemen INET menegaskan seluruh dana hasil emisi akan disalurkan sepenuhnya kepada entitas anak usaha. Modal jumbo tersebut dialokasikan untuk pembangunan jaringan Fiber to The Home berbasis teknologi Wi-Fi 7 di Kalimantan Barat, menandakan orientasi surat utang ini sebagai instrumen pendanaan ekspansi bisnis masa depan.

Risiko investasi tentu berbeda dibandingkan surat utang berbasis refinancing. Kemampuan bayar emiten akan beriringan dengan kesuksesan eksekusi proyek infrastruktur di lapangan. Meski demikian, peringkat kredit single A memberikan indikasi keamanan memadai bagi investor yang memiliki selera risiko terhadap pertumbuhan sektor teknologi di luar Jawa.

Panduan Cerdas bagi Investor Pemula

Fenomena penerbitan surat utang SMAR dan INET memberikan pelajaran fundamental bagi pelaku pasar. Pemodal wajib mencermati bagian "Rencana Penggunaan Dana" dalam prospektus sebelum memutuskan pembelian. Pemahaman mendalam diperlukan untuk mengetahui apakah dana tersebut digunakan untuk membayar beban masa lalu atau membangun aset produktif baru.

Pemeriksaan peringkat kredit dari lembaga pemeringkat seperti Pefindo merupakan langkah mitigasi risiko krusial berikutnya. Peringkat investasi layak, seperti idAA atau idA, menandakan kemampuan bayar emiten yang solid. Hindari surat utang dengan peringkat spekulatif jika belum memiliki pengalaman atau toleransi risiko yang cukup tinggi.

Obligasi dan sukuk korporasi sejatinya bukan sekadar instrumen utang semata. Efek ini merupakan bukti partisipasi aktif publik dalam perputaran roda ekonomi nasional. Pemilihan instrumen harus disesuaikan dengan profil risiko portofolio, baik itu membantu restrukturisasi keuangan perkebunan sawit atau mendukung pemerataan akses internet di nusantara.