Tren Pasar

Bakal Jual Internet Murah, Skenario Saham WIFI di 2026

  • Jual internet Rp100 ribu, saham WIFI diproyeksi terbang ke Rp4.700 di 2026. Lantas bagaimana strategi masuk saat harga sedang diskon?
Gemini_Generated_Image_hlhg07hlhg07hlh.jpeg
Ilustrasi rigths issue WIFI dan TOWR (Dok/ Gemini AI Generated)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Saham PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) yang kini dikendalikan Arsari Group milik Hashim Djojohadikusumo diproyeksikan memiliki potensi kenaikan (upside) hingga 57,20%. Phintraco Sekuritas merekomendasikan beli saham ini dengan target harga Rp4.700, jauh di atas level pasar saat ini.

Potensi keuntungan ini terbuka lebar mengingat saham WIFI sedang terkoreksi 11,41% sepanjang tahun berjalan (year-to-date/ytd) ke level Rp2.950 pada perdagangan Kamis, 22 Januari 2026. Meski sedang turun, pergerakan saham emiten ini tercatat sudah melesat 229,99% sejak masuknya investasi strategis grup Arsari.

Prospek cerah perseroan tidak lepas dari masuknya nama-nama besar seperti Arsari Group, Arwin Rasyid, dan Fadel Muhammad yang mengakuisisi kepemilikan tidak langsung pada Februari 2025. Masuknya para investor strategis ini dinilai menjadi titik balik penting bagi kinerja perusahaan.

Dukungan tersebut secara langsung memperkuat struktur permodalan dan jaringan bisnis perseroan. Hal ini menjadi fondasi utama bagi WIFI untuk mengeksekusi ekspansi agresif demi mendominasi pasar fixed broadband (FBB) di Indonesia.

Disrupsi Pasar Lewat Internet Rakyat

Analis Phintraco Sekuritas, Aditya Prayoga, menyoroti bahwa katalis utama pertumbuhan WIFI adalah peluncuran produk Fixed Wireless Access bertajuk "Internet Rakyat". Produk ini dinilai sebagai game changer di industri karena, menawarkan skema harga yang sangat disruptif bagi pasar telekomunikasi nasional.

Dalam peta persaingan yang ketat, WIFI berani menawarkan layanan internet dengan kecepatan 100 Mbps dan kuota unlimited hanya seharga Rp100.000 per 30 hari. Aditya menjelaskan langkah berani ini dilakukan untuk mendisrupsi pasar yang selama ini didominasi pemain lama dengan harga tinggi.

Keunggulan harga tersebut terlihat sangat mencolok jika dibandingkan dengan para kompetitor lainnya di pasar. "Harga per Mbps yang ditawarkan WIFI adalah Rp1.000, jauh lebih rendah dibandingkan rata-rata industri yang berada di kisaran Rp2.338," jelas Aditya dalam risetnya pada Kamis, 22 Januari 2026.

Strategi efisien ini dimungkinkan karena WIFI telah memenangkan lelang spektrum 1,4 GHz di Region 1 yang mencakup Jawa, Maluku, dan Papua. Wilayah ini adalah lumbung pasar karena merepresentasikan 61% dari total rumah tangga nasional.

Melihat potensi pasar yang begitu besar tersebut, Phintraco memproyeksikan layanan ini akan menjaring sekitar 3 juta pelanggan berbayar pada tahun pertama peluncuran komersial penuhnya di 2026. Besarnya potensi juga didukung oleh konsursium raksasa dalam pengembangannya. 

Aliansi Strategis dengan KAI dan NTT East

Kekuatan fundamental WIFI yang menjadi sorotan investor adalah kepemilikan aset infrastruktur yang sulit direplikasi. Melalui anak usahanya, PT Integrasi Jaringan Ekosistem (IJE), perseroan mengoperasikan jaringan serat optik backbonesepanjang 6.927 km yang terbentang di sepanjang jalur kereta api milik PT Kereta Api Indonesia (KAI) di Pulau Jawa.

Kolaborasi dengan KAI memberikan keunggulan kompetitif mutlak karena lebih dari 80% populasi Pulau Jawa, atau sekitar 140 juta jiwa, terkonsentrasi di sepanjang jalur rel kereta api. Hal ini memberikan akses langsung bagi WIFI ke 11,4 hingga 23,6 juta calon pelanggan potensial di area yang padat penduduk.

Tak hanya bermain lokal, struktur bisnis WIFI semakin solid dengan masuknya raksasa telekomunikasi Jepang, NTT East, yang mengakuisisi 49% saham IJE pada Juli 2025 senilai US$245 juta. 

“Masuknya NTT East tidak hanya memperkuat struktur permodalan, tetapi juga membawa transfer teknologi standar global dalam pengelolaan Edge Data Center dan jaringan fiber optic. Perseroan juga telah menjalin kemitraan strategis dengan Nokia dan Huawei untuk pengembangan teknologi last-mile yang efisien,” tambahnya. 

Proyeksi Kinerja Keuangan

Dengan dukungan ekosistem Arsari Group dan ekspansi masif tersebut, Phintraco Sekuritas memproyeksikan kinerja keuangan WIFI akan mengalami ledakan pertumbuhan signifikan. "Pendapatan perseroan diproyeksikan melonjak 164,5% secara tahunan mencapai Rp3,51 triliun pada tahun fiskal 2026," tulis riset tersebut dalam laporannya.

Transformasi bisnis terlihat jelas dari komposisi pendapatan perseroan ke depan yang semakin solid. Riset Phintraco memperkirakan, "Segmen telekomunikasi akan menyumbang 80% dari total pendapatan, menggeser dominasi bisnis periklanan digital yang sebelumnya menjadi penopang utama kinerja perseroan," sebutnya.

Dampak positif dari skala ekonomi dan normalisasi biaya operasional diprediksi akan mengerek laba bersih perseroan secara signifikan. Phintraco memperkirakan, "WIFI mampu membukukan laba bersih sebesar Rp1,45 triliun pada 2026, tumbuh 178,1% secara tahunan," tulis analis Aditya Prayoga dalam risetnya.

Pertumbuhan laba yang pesat tersebut juga diikuti oleh perbaikan profitabilitas yang sangat mengesankan bagi investor. Margin laba bersih perseroan diproyeksikan sangat tebal, "Mencapai level 41,4%, mencerminkan efisiensi operasional yang semakin membaik seiring ekspansi jaringan," tambah laporan tersebut

Valuasi dan Risiko

Sementara itu, target harga Rp4.700 yang ditetapkan didasarkan pada metode valuasi Discounted Cash Flow 5 tahun dengan asumsi WACC 12,4%. "Target ini mencerminkan valuasi EV/EBITDA yang atraktif sebesar 8,6 kali untuk tahun 2026, sejalan dengan potensi pertumbuhan perseroan," jelas Phintraco Sekuritas. 

Namun, investor juga diingatkan akan risiko investasi yang menyertai, seperti tantangan eksekusi di lapangan. Riset Phintraco menyoroti, potensi keterlambatan implementasi jaringan serta risiko perang tarif yang mungkin dilancarkan oleh operator petahana menjadi faktor utama yang perlu dicermati oleh para investor. 

Selain itu, sensitivitas terhadap tingkat adopsi (take-up rate) menjadi aspek yang sangat krusial bagi valuasi saham ini. Aditya mengingatkan, "Dalam skenario bear case di mana adopsi lebih rendah 10%, target harga bisa terkoreksi ke level Rp3.500, turun signifikan dari target dasar," jelasnya.

Dengan fundamental yang kokoh serta dukungan konglomerasi Hashim Djojohadikusumo, WIFI dinilai berada di jalur yang tepat. Melalui produk yang menjawab kebutuhan internet murah menjadikan perseroan salah satu kandidat kuat untuk menjadi raksasa baru infrastruktur digital di Indonesia dalam beberapa tahun mendatang