Sentimen Tarif AS Batal, Saham BBRI dan TINS Wajib Dipantau
- IHSG menguji 8.500 usai batalnya tarif Trump dan rilis data uang beredar dalam negeri. Di tengah sentimen itu, saham BBRI, BRPT, dan TINS layak dipantau.

Alvin Bagaskara
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menunjukkan performa yang sangat impresif pada awal pekan ini. Indeks secara meyakinkan ditutup menguat signifikan menuju level 8.396 pada perdagangan hari Senin, 23 Februari 2026, yang sukses mencatatkan kenaikan fantastis sebesar 1,50% harian.
Lonjakan indeks saham domestik ini sejalan dengan respons positif para investor global terhadap dinamika kebijakan Amerika Serikat. Keputusan Mahkamah Agung Amerika Serikat yang membatalkan pemberlakuan tarif resiprokal Presiden Trump menjadi katalis utama pendorong euforia IHSG.
Tim Riset Phintraco Sekuritas menyatakan bahwa sentimen global ini memberikan angin segar bagi bursa domestik. "Investor berharap perjanjian dagang antara Amerika Serikat dan Indonesia yang sudah ditandatangani pada pekan lalu dapat segera dibatalkan," ungkap tim riset secara tertulis pada Selasa, 24 Februari 2026.
1. Dinamika Perang Tarif Global
Harapan pembatalan pakta perdagangan tersebut muncul karena tarif yang disepakati sebelumnya justru dinilai lebih memberatkan. Perjanjian dagang bilateral tersebut menetapkan batas tarif yang jauh lebih tinggi yakni mencapai angka 19% untuk berbagai komoditas ekspor andalan milik Indonesia.
Meskipun Mahkamah Agung memberikan keputusan pembatalan, dinamika proteksionisme dagang ini belumlah usai. "Presiden Trump kemudian secara mengejutkan menyatakan akan segera memberlakukan tarif global baru sebesar 15%," papar Phintraco Sekuritas menyoroti sebuah potensi risiko lanjutan perdagangan bebas tersebut.
Selain sentimen dari kebijakan tarif internasional, bursa saham nasional juga mendapatkan sebuah dorongan positif sangat kuat. Kabar baik tersebut datang dari persetujuan resmi lembaga indeks global MSCI terhadap seluruh proposal strategis yang diajukan oleh pihak BEI bersama OJK.
2. Indikator Likuiditas Makroekonomi
Kondisi makroekonomi domestik juga menunjukkan sinyal perbaikan yang sangat solid pada awal tahun ini. Nilai tukar mata uang rupiah berhasil ditutup menguat signifikan pada level 16.802 di transaksi pasar spot pada penutupan sesi awal pekan perdagangan saham kemarin.
Penguatan kurs rupiah ini turut dibarengi dengan peningkatan suplai likuiditas uang beredar di lapisan masyarakat luas. Data terbaru menunjukkan likuiditas uang beredar dalam arti luas telah mengalami lonjakan ekspansi sebesar 10% secara tahunan pada bulan Januari 2026.
Pencapaian pertumbuhan jumlah uang beredar tersebut menunjukkan sebuah tren akselerasi ekonomi yang sangatlah meyakinkan. Angka ini tercatat jauh lebih tinggi apabila dibandingkan dengan pertumbuhan bulan Desember 2025 yang hanya sanggup mencapai level ekspansi sebesar angka 9,6% saja.
3. Akselerasi Belanja Keuangan Negara
Sinyal positif perekonomian domestik juga tecermin jelas dari agresivitas realisasi belanja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Hingga akhir bulan Januari 2026, total penyerapan anggaran pemerintah telah sukses menembus angka fantastis yakni mencapai Rp227,3 triliun secara perhitungan akumulasi nasional.
Capaian belanja fantastis tersebut mencatatkan tingkat pertumbuhan impresif sebesar 25,7% secara perbandingan tahunan. Kenaikan drastis ini menjadi bukti nyata keseriusan akselerasi belanja pemerintah pusat demi mendukung jalannya seluruh program prioritas pertumbuhan ekonomi sejak bulan pertama tahun ini.
Secara rincian detail, serapan belanja pemerintah pusat berhasil melesat sangat tinggi hingga level 53,3% menjadi sebesar Rp131,9 triliun. Sementara itu, komponen transfer dana ke daerah hanya mencatatkan laju pertumbuhan sangat tipis sebesar angka 0,6% senilai Rp95,3 triliun.
4. Proyeksi Pergerakan Teknikal Saham
Berdasarkan analisis pergerakan teknikal murni, histogram indikator MACD indeks terus melanjutkan pergerakan menguat tajam. "Momentum pergerakan di teritori positif ini sangat didukung oleh rentetan kenaikan volume beli," tulis laporan tim analis teknikal Phintraco Sekuritas di dalam catatan risetnya.
Meski tren pergerakan harga sangat positif, para pemodal tetap diminta bersikap waspada setiap saat. Indikator teknikal Stochastic RSI saat ini mulai melambat karena berhasil memasuki area jenuh beli yang berpotensi memicu ancaman aksi ambil untung secara tiba-tiba.
Namun demikian, posisi penutupan indeks yang sangat kokoh di atas garis pergerakan MA20 memberikan secercah harapan. IHSG diperkirakan memiliki peluang besar melanjutkan penguatan untuk menguji batas resistensi 8.450 hingga 8.500 jika sukses bertahan di atas level psikologis 8.400.
5. Deretan Rekomendasi Saham Pilihan
Menyikapi momentum penguatan pasar saham yang sangat prospektif ini, tim riset merumuskan sejumlah saham unggulan untuk dilirik pada perdagangan Selasa, 24 Februari 2026. Pertama, ada saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) yangt kemarin berhasil menguat ke level 3.890 (+1,30%), sementara emiten PT Barito Pacific Tbk (BRPT) melonjak tinggi hingga posisi 2.140 (+5,94%).
Selain itu, sektor konsumer juga atraktif lewat PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) yang naik 5,36% ke harga 2.360 per saham. Tidak ketingggalan, dua saham sektor komoditas PT Surya Esa Perkasa Tbk (ESSA) menyusul dengan kenaikan 5,56%, disusul emiten PT Timah Tbk (TINS) yang tumbuh impresif sebesar 5,87% hari ini.
Para investor ritel tetap diwajibkan memantau ketat titik dukungan terdekat indeks yang saat ini berada di level 8.300. Sementara itu, titik poros pergerakan harian secara matematis telah dikalkulasikan sangat akurat untuk tertahan stabil pada kisaran level teknis 8.350.

Alvin Bagaskara
Editor
