Emiten Besar Kena Notasi Free Float? Yuk, Belajar Risikonya!
- BEI siapkan "tato peringatan" emiten di bawah standar free float 15%. Cek daftar saham raksasa terdampak dan cara kelola risiko likuiditas bagi investor Gen Z!

Alvin Bagaskara
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Pasar modal Indonesia kini bukan lagi ruang eksklusif para pialang berjas rapi di kawasan SCBD. Dominasi perlahan bergeser ke Generasi Z yang tumbuh pesat sebagai motor investor ritel baru. Pergeseran ini menandai semakin terbukanya akses dan partisipasi masyarakat terhadap aktivitas investasi pasar modal.
Dengan gaya investasi serba cepat, mengandalkan aplikasi digital, serta mudah terdorong efek FOMO, Gen Z kini menghadapi era transparansi bursa yang menuntut kedewasaan lebih tinggi. Setiap keputusan portofolio memerlukan kewaspadaan tambahan agar tidak terjebak tren semu atau sinyal menyesatkan.
Dalam waktu dekat, aplikasi trading investor muda akan menampilkan penanda baru yang penting. Bursa Efek Indonesia (BEI) bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyiapkan notasi khusus, menyerupai “tato peringatan”, bagi emiten yang belum memenuhi ambang batas free float publik minimal 15%.
Evaluasi Aturan FCA dan Free Float
Selain itu, BEI juga tengah melakukan evaluasi terhadap kebijakan Full Call Auction (FCA) pada papan pemantauan khusus sebagai bagian dari penyempurnaan regulasi dan respons atas dinamika pasar. Evaluasi ini mencakup potensi pengurangan kriteria kebijakan tersebut, dengan target penyelesaian kajian pada kuartal II 2026.
“Langkah ini dilakukan untuk memastikan bahwa suspensi serta pemantauan khusus tetap proporsional dan tidak menghambat likuiditas maupun pembentukan harga wajar,” tulis Tim Research Phintraco Sekuritas dalam ulasannya pada Senin, 23 Februari 2026.
Evaluasi yang dilakukan tersebut beriringan dengan penyusunan aturan baru terkait notasi khusus bagi emiten dengan free float rendah. BEI bersama OJK menilai mekanisme penanda ini menjadi langkah transparansi tambahan sehingga investor dapat mengenali risiko likuiditas lebih cepat dan lebih akurat.
Bagi investor Gen Z yang mengira persoalan likuiditas hanya menimpa saham lapis tiga, data BEI terbaru bisa menjadi peringatan serius. Pada 31 Desember 2025, sebanyak 312 saham tercatat memiliki porsi publik di bawah batas minimal free float yang besarannya satu kali lipat saat ini.
Tato Bukan Hanya Saham Kecil
Menariknya, daftar emiten yang belum memenuhi kuota ini justru diisi oleh raksasa bursa. Sebut saja PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dengan free float 12,3%, PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) 14%, dan PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) sebesar 10,7%.
Dari jajaran pelat merah, terdapat PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) di angka 9%, PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) 14%, hingga PT Kimia Farma (Persero) Tbk (KAEF) sebesar 10,2%. Kebijakan ini menegaskan perlakuan merata bagi seluruh emiten, sekaligus mendorong peningkatan transparansi serta tata kelola yang lebih baik di lingkungan pasar modal.
Pjs. Ketua sekaligus Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, menegaskan bahwa aturan baru tidak diwujudkan melalui papan pencatatan khusus. Notasi hanya ditempatkan di samping kode saham sehingga investor dapat menilai kondisi free float perusahaan dengan cepat dan lebih akurat.
“Ini memberikan kemudahan buat investor untuk melakukan pemilihan saham. Mereka jadi memiliki informasi yang jelas, saham-saham mana yang free float-nya sudah 15 persen lebih atau belum,” ujar Kiki dalam keterangannya di Gedung BEI akhir pekan lalu.
Apa Dampaknya buat Gen Z?
Phintraco Sekuritas juga menyoroti bahwa kebijakan ini berpotensi memicu volatilitas jangka pendek pada saham dengan free float rendah. Pergerakan harga bisa meningkat tajam sehingga keputusan investasi membutuhkan disiplin lebih kuat serta pemahaman likuiditas yang lebih matang.
“Kebijakan ini berpotensi mendorong peningkatan kepemilikan publik serta likuiditas saham, dan bagi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langkah ini dapat memperbaiki kualitas indeks dalam jangka panjang meski menimbulkan volatilitas jangka pendek,” jelas sekuritas berkode broker AT itu.
Namun, bagi investor muda yang gemar trading cepat atau scalping, kondisi ini dapat menjadi pedang bermata dua. Notasi khusus berfungsi sebagai rambu agar mereka tak mudah terseret herding behavior. Oleh sebab itu, analisis likuiditas kini menjadi elemen penting sebelum mengikuti tren yang tiba-tiba muncul di pasar.

Alvin Bagaskara
Editor
