Properti 2026 Diprediksi Rebound, Rumah Seken Jadi Primadona
- Pasar properti diproyeksi pulih 2026. Inventori rumah seken naik, tren pembiayaan berubah, dan kawasan industri jadi motor permintaan baru.

Maharani Dwi Puspita Sari
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Pasar properti residensial Indonesia diperkirakan memasuki fase pemulihan pada 2026 setelah menghadapi tekanan ekonomi dan dinamika global sepanjang 2025.
Data Pinhome Indonesia Residential Market Report Semester 2 2025 & Outlook 2026 menunjukkan penurunan suplai rumah primer dengan rata-rata penambahan inventori baru turun hingga -14% per bulan.
Sebaliknya, inventori rumah sekunder justru meningkat sekitar 5% setiap bulan sepanjang semester II 2025. Kenaikan ini terutama terjadi di wilayah penyangga DKI Jakarta seperti Kabupaten Bogor, Kota Depok, dan Kota Tangerang Selatan.
Lonjakan inventori rumah sekunder dipengaruhi kondisi ekonomi nasional, termasuk tekanan biaya hidup dan perubahan prioritas keuangan masyarakat. Sebagian pemilik properti memilih melepas aset untuk menjaga likuiditas, yang tercermin dari meningkatnya listing dengan label penjualan cepat atau harga di bawah pasar.
Dari sisi permintaan, kawasan industri menjadi motor pertumbuhan baru. Wilayah seperti Cikarang mencatat peningkatan permintaan hingga 16% pada semester II 2025 dibandingkan semester sebelumnya.
Sebaliknya, kawasan komuter tertentu mengalami koreksi permintaan, menunjukkan preferensi konsumen yang semakin mengutamakan kedekatan hunian dengan pusat aktivitas kerja.
Perubahan strategi pembiayaan juga menjadi tren penting. Minat terhadap KPR rumah sekunder meningkat dan melampaui rumah primer. Konsumen cenderung memilih tenor kredit lebih panjang serta plafon pinjaman lebih rendah untuk menjaga fleksibilitas arus kas rumah tangga. Selain itu, skema take over dan top up mendominasi hingga 74% transaksi pembiayaan.
Meski dibayangi tantangan global seperti konflik geopolitik, fluktuasi harga energi, dan tekanan pasar keuangan, sektor properti dinilai memiliki peluang pemulihan pada 2026. Stabilitas ekonomi domestik, pembangunan infrastruktur, serta munculnya pusat pertumbuhan baru di luar Pulau Jawa diperkirakan menjadi katalis utama.
Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede menyatakan pertumbuhan pasar properti di luar Jawa terlihat dari percepatan kebijakan hilirisasi sumber daya alam yang mendorong peningkatan pencarian hunian di daerah berbasis komoditas.
Maluku Utara mencatat lonjakan tertinggi sebesar +11%, diikuti Sulawesi Tengah sebesar +8% secara semesteran. Peningkatan tersebut sejalan dengan ekspansi industri pengolahan nikel di Morowali, Halmahera Tengah, dan Pulau Obi.
Kondisi ini mencerminkan munculnya pusat pertumbuhan properti baru di luar kota-kota besar yang selama ini menjadi tumpuan utama.
“Tantangan terbesar sektor perumahan tetap berkisar pada keterjangkauan dan ketimpangan distribusi hunian. Kolaborasi kebijakan dalam pembiayaan, pembangunan, dan infrastruktur diperlukan agar program perumahan tidak hanya menambah pasokan, tetapi juga benar-benar meningkatkan keterjangkauan.” tegas Josua, Kamis, 12 Februari 2026.
Peningkatan minat hunian juga terlihat di wilayah tertentu, seperti Palembang dan Pekanbaru yang mengalami lonjakan indeks permintaan rumah pada akhir 2025. Sementara itu, proyek infrastruktur seperti kereta cepat dan pembangunan tol turut mendorong pertumbuhan minat di kawasan penyangga baru.
Dengan dinamika suplai, perubahan preferensi pembiayaan, serta munculnya pusat permintaan baru, pasar properti Indonesia diproyeksikan memasuki fase adaptasi menuju pemulihan yang lebih stabil pada 2026.

Maharani Dwi Puspita Sari
Editor
