Tren Ekbis

Properti Residensial 2026 Diproyeksi Mulai Pulih

  • Prospek properti residensial 2026 diproyeksi membaik seiring pemulihan ekonomi, pertumbuhan KPR, serta meningkatnya kepercayaan konsumen.
IMG-20260212-WA0019.jpg
Joshua Pardede (trenasia.com)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Prospek sektor properti residensial pada 2026 dinilai mulai menunjukkan arah pemulihan seiring perbaikan kondisi ekonomi domestik dan meningkatnya kepercayaan konsumen. Optimisme ini muncul meski industri sempat menghadapi tekanan pada periode sebelumnya akibat ketidakpastian global dan perlambatan aktivitas domestik.

Chief Economist Permata Bank, Joshua Pardede menyebut arah ekonomi Indonesia mulai menunjukkan tren positif sejak kuartal-IV tahun 2025. Ia menilai momentum tersebut dapat mendorong kinerja sektor properti sepanjang tahun ini.

“Kalau dari bagian kami sih kurang lebih sama ya, bahwa arah 2026 kami juga melihatnya kondisi ekonomi membaik, lebih baik dari tahun lalu. Sehingga tentunya harapannya pun juga tadi, buat di sektor properti residential pun juga harapannya akan terus membaik juga di tahun ini,” ujarnya dalam acara Indonesia Residential Market, Kamis, 12 Februari 2026.

Ia menegaskan bahwa di tahun 2026 proyeksi mencapai sekitar 5,4%, dengan konsumsi rumah tangga tumbuh sekitar 5%. Kondisi tersebut menjadi sinyal awal pemulihan daya beli masyarakat, yang selama ini menjadi faktor utama dalam keputusan pembelian properti.

Selain itu, indeks kepercayaan konsumen juga menunjukkan tren perbaikan pada akhir tahun lalu. Hal ini dinilai mencerminkan meningkatnya ekspektasi masyarakat terhadap kondisi ekonomi ke depan serta kesiapan melakukan pembelian barang bernilai besar, termasuk hunian.

Dari sisi pembiayaan, sektor perbankan masih mencatat pertumbuhan kredit pemilikan rumah (KPR) di kisaran 6–7%. Meskipun terdapat kenaikan rasio kredit bermasalah  secara terbatas, kondisi tersebut dinilai masih berada pada tingkat yang dapat dikelola. Kebijakan suku bunga dan stimulus likuiditas yang berlanjut juga dinilai menjadi faktor pendukung pemulihan permintaan.

Di sisi lain, peluang pertumbuhan sektor properti juga didorong oleh faktor demografi. Populasi usia produktif Indonesia yang mencapai sekitar 55–60% hingga 2045 diperkirakan akan terus mendorong kebutuhan hunian, terutama di wilayah perkotaan yang masih memiliki backlog perumahan cukup tinggi.

Menurut Joshua, tantangan yang dihadapi tetap ada. Kenaikan harga properti yang lebih cepat dibandingkan pertumbuhan pendapatan, membuat sebagian masyarakat khususnya generasi muda menunda pembelian rumah dan memilih menyewa. Selain itu, dinamika ekonomi global serta risiko inflasi pangan tetap menjadi faktor yang perlu diwaspadai.

Baca juga: AI Bisa Geser Karyawan Biasa, Apa yang Perlu Dipersiapkan?

Meski demikian, pemerintah terus mendorong berbagai kebijakan untuk menjaga daya beli masyarakat dan memperkuat sektor properti sebagai salah satu penggerak ekonomi domestik. Program pembangunan kawasan metropolitan serta target pembangunan jutaan rumah setiap tahun juga diproyeksikan memberikan dukungan tambahan terhadap permintaan.

Dengan kombinasi faktor pemulihan ekonomi, dukungan kebijakan, dan potensi demografi, sektor properti residensial diperkirakan akan kembali menjadi salah satu sektor strategis yang menopang pertumbuhan ekonomi nasional pada 2026.