Mikroplastik Menyebar, UMKM Harus Bijak Pilih Kemasan Dagang
- Riset Ecoton temukan mikroplastik di darah hingga ketuban. UMKM masih banyak pakai kemasan plastik, bagaimana dampaknya bagi kesehatan?

Maharani Dwi Puspita Sari
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Kasus terkiat bahaya mikroplastik kerap terjadi di lingkungan masyarakat. Penelitian yang dilakukan Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) sejak 2017 menemukan bukti tentang keberadaan mikroplastik di dalam tubuh manusia.
Peneliti mikroplastik Ecoton, Sofi Azilan Aini, mengatakan kondisi ini merupakan dampak dari kebiasaan manusia terhadap penggunaan plastik sekali pakai. Mirisnya, mikroplastik ini juga ditemukan pada feses, air susu, dan ketuban perempuan.
“Riset mikroplastik Ecoton sejak 2017 hingga kini telah mendeteksi adanya mikroplastik dalam feses, air susu ibu, air seni, ketuban, dan dalam darah perempuan. Ini seperti kutukan akibat kita menyia-nyiakan sampah plastik,” ujar Sofi.
Melansir dari laman Ayo Sehat Kemenkes, Selasa, 3 Maret 2026, mikroplastik adalah partikel plastik berukuran kurang dari 5 milimeter. Partikel tersebut terbagi menjadi dua jenis, yaitu mikroplastik primer yang memang diproduksi dalam ukuran kecil untuk produk seperti sabun, deterjen, dan kosmetik, serta mikroplastik sekunder yang berasal dari pecahan sampah plastik besar di lingkungan.
Partikel kecil ini dapat tertelan oleh plankton dan organisme air lainnya, lalu masuk ke rantai makanan hingga akhirnya dikonsumsi manusia melalui ikan atau hewan laut. Selain dari makanan, mikroplastik juga bisa masuk ke tubuh lewat udara yang terhirup, penggunaan wadah plastik, dan paparan benda plastik yang sudah melapuk.
Mikroplastik dan Kesadaran UMKM
Atas hal tersebut, sampah plastik yang dibuang sembarangan berpotensi kembali kepada manusia dalam bentuk partikel tak kasatmata yang masuk ke tubuh. Sayangnya, penggunaan wadah plastik di Indonesia masih banyak digunakan terutama oleh pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) atau industri rumah tangga.
Berdasarkan jurnal “Analisis Dampak Lingkungan Akibat Penggunaan Kemasan Plastik dalam Kegiatan Ekonomi”, penggunaan wadah atau kemasan plastik memang memberikan efisiensi biaya dan kemudahan distribusi.
Namun di sisi lain, plastik memiliki sifat sulit terurai secara alami sehingga berkontribusi besar terhadap pencemaran tanah, air, dan laut. Ketika terfragmentasi, plastik berubah menjadi mikroplastik yang berpotensi masuk ke rantai makanan dan berdampak pada kesehatan manusia.
Jurnal tersebut juga menegaskan bahwa plastik sekali pakai meningkatkan volume sampah secara signifikan, terutama di sektor perdagangan dan e-commerce. Sebagian besar limbah ini tidak terkelola secara optimal, sehingga mencemari lingkungan dan menghasilkan emisi gas rumah kaca dalam proses produksinya. Bahkan plastik yang diklaim biodegradable pun masih berpotensi meninggalkan residu mikroplastik.
Dari sektor kesehatan, mikroplastik yang berasal dari kemasan plastik dapat terakumulasi dalam biota laut dan berisiko masuk ke tubuh manusia melalui konsumsi makanan laut. Risiko yang dihasilkan mencakup gangguan pencernaan, fungsi hati, metabolisme, hingga potensi gangguan reproduksi. Dalam konteks ini, penggunaan wadah plastik bukan hanya persoalan estetika lingkungan, tetapi juga menyentuh aspek kesehatan jangka panjang.
Fenomena ini relevan dengan kondisi di lapangan, di mana banyak UMKM khususnya sektor makanan dan minuman yang masih mengandalkan wadah plastik sekali pakai karena dinilai murah, praktis, dan mudah didapat. Ketergantungan tersebut menunjukkan bahwa pertimbangan biaya jangka pendek sering kali lebih dominan dibanding dampak lingkungan dan kesehatan jangka panjang.
Oleh karena itu, jurnal tersebut memberikan instruksi terkait pentingnya inovasi kemasan ramah lingkungan serta peningkatan kesadaran pelaku usaha. Bagi UMKM, peralihan ke kemasan alternatif memang membutuhkan adaptasi biaya dan strategi pemasaran, tetapi dalam jangka panjang dapat menjadi nilai tambah sekaligus langkah konkret mendukung keberlanjutan lingkungan.

Maharani Dwi Puspita Sari
Editor
