Tren Leisure

Pakar IPB: Mikroplastik Lemahkan Peran Laut Serap Karbon

  • Mikroplastik dapat mengganggu fitoplankton dan zooplankton, sehingga berpotensi menurunkan kemampuan laut menyerap dan menyimpan karbon dalam jangka panjang.
sampah plastik di lautan.jfif

JAKARTA, TRENASIA.ID — Mikroplastik dinilai menjadi salah satu faktor yang dapat menurunkan kemampuan laut dalam menyerap dan menyimpan karbon, meski bukan penyebab utama. Hal tersebut disampaikan Pakar Pencemaran dan Ekotoksikologi IPB University, Prof. Etty Riani, dalam wawancara tertulis di Kampus IPB Bogor, 15 Januari 2026.

Menurut Prof. Etty, hingga saat ini belum ada penelitian ilmiah yang secara tegas menyimpulkan mikroplastik sebagai penyebab utama melemahnya fungsi laut sebagai penyerap karbon. Namun, berbagai riset menunjukkan keberadaan mikroplastik berkontribusi terhadap penurunan efektivitas tersebut melalui gangguan pada organisme laut dan proses biogeokimia di perairan.

Salah satu organisme yang terdampak adalah fitoplankton, yang memiliki peran penting dalam menyerap karbon melalui proses fotosintesis. Prof. Etty menjelaskan, mikroplastik terutama dalam ukuran nano dapat menempel di permukaan fitoplankton dan menghalangi masuknya cahaya matahari. Kondisi ini berpotensi menghambat fotosintesis dan menurunkan kemampuan fitoplankton dalam menyerap karbon dari atmosfer.

Selain fitoplankton, mikroplastik juga memengaruhi zooplankton yang berada di tingkat berikutnya dalam rantai makanan laut. Zooplankton kerap mengonsumsi mikroplastik karena bentuknya menyerupai makanan alami. Akibatnya, zooplankton mengalami kekurangan nutrisi dan energi, yang berpotensi menurunkan populasinya.

Padahal, zooplankton memiliki peran penting dalam proses penyimpanan karbon di laut. Melalui kotoran dan bangkai organisme laut yang dikenal sebagai marine snow karbon dapat dibawa ke dasar laut dan tersimpan dalam jangka panjang.

“Keberadaan mikroplastik membuat agregat karbon menjadi lebih ringan sehingga proses tenggelam ke dasar laut berlangsung lebih lambat. Karbon pun lebih lama berada di permukaan atau kolom air dan berpeluang kembali terlepas ke atmosfer,” ujar Prof. Etty dikutip dari laman IPB, Minggu 25 Januari 2026.

Ia juga menyoroti peran mikroplastik sebagai inang bagi bahan berbahaya dan beracun (B3), termasuk logam berat. Zat-zat tersebut dapat mengganggu proses fisiologis biota laut, mulai dari reproduksi hingga kerusakan organ, yang pada akhirnya berpotensi menurunkan populasi organisme laut.

“Dalam jangka panjang, kondisi ini melemahkan kemampuan ekosistem laut untuk menyimpan karbon secara berkelanjutan,” katanya.

Untuk menekan pencemaran mikroplastik, Prof. Etty mendorong pengurangan penggunaan plastik, terutama plastik sekali pakai serta mikroplastik primer seperti microbeads pada produk perawatan tubuh dan kosmetik. Ia menekankan pentingnya edukasi berkelanjutan kepada masyarakat dari berbagai lapisan, mulai dari pendidikan usia dini hingga perguruan tinggi.

Selain itu, ia menilai perlu adanya perubahan paradigma dalam memandang limbah. Limbah tidak lagi dilihat sebagai sampah yang tidak bernilai, melainkan memiliki potensi ekonomi jika dikelola dengan baik. Penerapan ekonomi sirkular, peningkatan pengelolaan limbah, serta pemanfaatan teknologi untuk meminimalkan mikroplastik dan nanoplastik dinilai menjadi langkah penting.

Prof. Etty menambahkan, para peneliti saat ini terus mengembangkan material ramah lingkungan, termasuk bioplastik berbasis bahan alam. Namun, menurutnya, solusi yang efektif harus dilakukan secara holistik dan terintegrasi, mulai dari pencegahan sumber plastik, pengelolaan limbah, edukasi berkelanjutan, hingga penguatan sistem 3R (reduce, reuse, recycle) berbasis ekonomi sirkular.

Ia juga menekankan pentingnya peningkatan pemantauan mikroplastik dan pengurangan sampah plastik di seluruh perairan Indonesia melalui kerja sama lintas instansi, termasuk dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

“Pengurangan mikroplastik harus dilakukan melalui kombinasi kebijakan yang efektif, teknologi yang aplikatif, perubahan perilaku masyarakat, serta kolaborasi global. Yang paling penting saat ini adalah implementasi kebijakan yang sudah ada secara terkoordinasi dan konsisten,” tutupnya.