Ironis! Dari 1 Kelas, hanya 5 Siswa Habiskan MBG
- Riset FISIP UI menemukan potensi food waste dalam program Makan Bergizi Gratis. Padahal, sampah sisa makanan masih menjadi penyumbang terbesar limbah di Indonesia.

Maharani Dwi Puspita Sari
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah untuk meningkatkan asupan gizi anak sekolah dinilai memiliki potensi memicu pemborosan makanan atau food waste. Hal tersebut terungkap dalam penelitian yang dilakukan Departemen Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI).
Penelitian yang dipimpin dosen antropologi FISIP UI, Dian Sulistiawati, dilakukan melalui observasi langsung di lima sekolah dasar di wilayah Jakarta pada periode Juni hingga September 2025. Tim peneliti mengamati secara langsung perilaku siswa saat mengonsumsi makanan dari program MBG.
Hasilnya menunjukkan sebagian besar siswa tidak menghabiskan makanan yang diberikan. Dalam satu kelas yang berisi sekitar 32–34 siswa, hanya sekitar empat hingga lima siswa yang benar-benar menghabiskan makanan mereka.
“Bayangkan, di satu kelas itu hanya 4–5 siswa yang omprengnya benar-benar habis dan makanannya memang dimakan oleh siswa,” kata Dian, dikutip dari laman resmi FISIP UI, Kamis, 12 Maret 2026.
Temuan tersebut menunjukkan adanya potensi pemborosan makanan dalam implementasi program MBG, meskipun tujuan awalnya adalah memastikan anak-anak mendapatkan asupan gizi yang cukup.
“Sungguh sangat ironis jika program yang bertujuan mengatasi persoalan makanan dan nutrisi, dengan biaya besar, justru berpotensi menyebabkan food waste,” ujarnya.
Jika program MBG menambah beban food waste, bagaimana dengan kondisi lingkungan di Indonesia? Potensi pemborosan makanan dalam program MBG menjadi perhatian karena masalah food waste di Indonesia sudah tergolong tinggi. Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) dari Kementerian Lingkungan Hidup, sisa makanan merupakan jenis sampah terbesar di Indonesia.
Pada 2024, total timbulan sampah yang tercatat mencapai sekitar 32,8 juta ton, dengan hampir 40% diantaranya berupa sampah sisa makanan. Secara global, Indonesia bahkan termasuk negara dengan produksi sampah makanan terbesar. Sementara, data dari Bappenas menunjukkan food loss and waste di Indonesia mencapai 23–48 juta ton per tahun, atau sekitar 115–184 kilogram pangan terbuang per orang setiap tahun.
Selain berdampak pada lingkungan, pemborosan pangan juga memicu kerugian ekonomi yang besar. Nilainya diperkirakan mencapai sekitar Rp551 triliun per tahun dan menyumbang sekitar 7,29% emisi gas rumah kaca nasional.
Cara Mengurangi Food Waste
Untuk menekan pemborosan pangan, pemerintah melalui Badan Pangan Nasional menjalankan inisiatif Gerakan Stop Boros Pangan (SBP). Program ini bertujuan menyelamatkan pangan berlebih agar tidak terbuang dan menyalurkannya kepada masyarakat yang membutuhkan.
Melalui program tersebut, pangan berlebih dari berbagai pihak dapat didistribusikan kembali sehingga tidak menjadi sampah makanan. Hingga Maret 2026, program ini tercatat telah menyelamatkan lebih dari 2 juta kilogram pangan dan menyalurkannya kepada jutaan penerima manfaat.
Selain itu, berdasarkan jurnal “Strategi Pengelolaan Sampah Makanan untuk Meningkatkan Kesadaran Publik Tentang Food Waste”, untuk mengatasi food waste, pemerintah dan masyarakat dapat melakukan beberapa hal seperti:
1. Pengembangan Bank Makanan (Food Bank)

Sisa makanan yang berlebih dari restoran, hotel, atau rumah tangga dapat dikumpulkan melalui bank makanan. Sistem dari bank makanan ini adalah memilah, mengumpulkan, dan mendistribusikan kepada masyarakat yang membutuhkan, sehingga makanan tidak terbuang menjadi sampah.
2. Peningkatan literasi dan edukasi pengelolaan sampah makanan
Edukasi kepada masyarakat mengenai dampak pemborosan pangan perlu dilakukan agar masyarakat lebih sadar dalam mengelola, menyimpan, dan mengonsumsi makanan secara bijak. Hal ini dapat dilakukan dengan membuat kegiatan seminar, ataupun edukasi antar RT dan lingkungan setempat, terkait pengolahan sisa makanan.
3. Penerapan konsep 3R (Reduce, Reuse, Recycle)
- Reduce: Mengurangi pembelian atau produksi makanan berlebih.
- Reuse: Memanfaatkan kembali makanan yang masih layak konsumsi.
- Recycle: Mengolah sisa makanan menjadi kompos atau produk lain yang bermanfaat.
4. Partisipasi aktif masyarakat dalam pengelolaan sampah

Keberhasilan pengurangan food waste sangat bergantung pada keterlibatan masyarakat, mulai dari rumah tangga, komunitas, hingga pelaku usaha makanan. Dalam hal ini, semua elemen masyarakat harus turut berperan aktif dan merancang skema pengolahan sisa makanan secara tepat.
Salah satu saran kegiatan yang dapat dilakukan adalah dengan membuat kelompok aktif dan merata pada setiap kalangan. Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa masyarakat sudah paham mengenai pentingnya menghabiskan dan mengolah sisa makanan berbasis ramah lingkungan, seperti cairan eco enzym.
5. Perubahan pola konsumsi yang lebih berkelanjutan
Untuk mengatasi food waste, masyarakat didorong untuk merencanakan konsumsi makanan dengan lebih bijak agar tidak terjadi pemborosan yang berujung pada penumpukan sampah makanan.
Dalam konteks program MBG, para peneliti menilai evaluasi menu dan porsi makanan perlu dilakukan agar lebih sesuai dengan selera siswa tanpa mengurangi nilai gizi. Dengan demikian, tujuan program meningkatkan kesehatan anak dapat tercapai tanpa menambah masalah sampah makanan.

Maharani Dwi Puspita Sari
Editor
