Gentengisasi akan Gerogoti MBG?
- Pemerintah buka peluang pakai dana MBG untuk gentengisasi, sementara Airlangga yakin program makan bergizi gratis bisa dorong ekonomi RI hingga 8 %.

Maharani Dwi Puspita Sari
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Presiden Prabowo Subianto baru-baru ini menggagas program baru gentengisasi” sebagai bagian dari upaya memperindah wajah Indonesia. Presiden mengatakan penggunaan atap seng masih banyak digunakan dan mendominasi bangunan rumah di Indonesia.
Menurutnya, hal tersebut tidak hanya mengurangi keindahan lingkungan, tapi juga memengaruhi kenyamanan penghuni rumah karena suhu menjadi lebih panas dan materialnya mudah mengalami karat.
“Saya ingin semua atap Indonesia pakai genteng. Jadi nanti ini gerakannya adalah gerakan, proyeknya adalah proyek gentengisasi seluruh Indonesia,” kata Prabowo, dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pemerintah Pusat dan Daerah yang digelar di Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
- Baca juga: Apakah Genteng Tanah Liat Ramah Lingkungan?
Sementara itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membuka peluang untuk menggunakan sebagian anggaran dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk membiayai proyek gentengisasi nasional.
Purbaya mengatakan bahwa biaya untuk gentengisasi yakni mengganti atap seng rumah warga dengan genteng diperkirakan tidak mencapai Rp 1 triliun dan bisa dipenuhi dari cadangan anggaran pemerintah, termasuk kemungkinan dari pos MBG.
"Bisa saja (anggaran untuk gentengisasi diambil dari pos anggaran MBG)," ujar Purbaya, dikutip Kamis, 5 Februari 2026.
Ia juga menyebutkan kebutuhan dana proyek tersebut diperkirakan tidak mencapai Rp1 triliun, sehingga masih dapat ditutup dari berbagai pos cadangan dari anggaran pemerintah.
"Enggak sampai Rp1 triliun. Ada cadangan. Bisa dari situ, bisa juga dari tempat lain," kata Purbaya.
Menurutnya, perhitungan kebutuhan dana tersebut masih bersifat kasar dan belum final.
MBG dan Optimisme Pertumbuhan Ekonomi
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan bahwa program MBG selain sebagai jaring pengaman sosial berpotensi menjadi pengungkit pertumbuhan ekonomi nasional hingga 8% dalam jangka menengah.

Airlangga yakin besarnya skala operasional MBG dapat menciptakan lapangan kerja dan menggairahkan aktivitas ekonomi domestik.
“Melalui program makan bergizi gratis, tidak hanya memberi manfaat sosial, tapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi. Dengan skala yang ada, target pertumbuhan ekonomi 8 persen pada 2028 itu menurut saya masuk akal untuk dicapai," ujar Airlangga dalam acara Indonesia Economic Summit (IES) 2026.
Menurutnya, MBG telah menjangkau puluhan juta penerima manfaat dan melibatkan sejumlah besar tenaga kerja serta rantai pasok lokal. Melalui program ini, anggaran belanja yang dialokasikan mencapai sekitar Rp 80 triliun per kuartal, dan total realisasi mencapai ratusan triliun rupiah dalam satu tahun anggaran.
Upaya ini dipandang sebagai strategi fiskal yang mendorong konsumsi masyarakat dan penciptaan lapangan kerja. Airlangga juga menjelaskan bahwa penciptaan lapangan kerja melalui MBG bisa memiliki efek berantai terhadap pertumbuhan ekonomi.
Secara umum, setiap 1% pertumbuhan ekonomi diperkirakan setara dengan absorpsi sekitar 400 ribu tenaga kerja, dan dari skala MBG itu pemerintah memproyeksikan kontribusi signifikan ke arah target 8% pada 2028.
Peluang penggunaan anggaran MBG untuk proyek gentengisasi membuka diskusi baru mengenai fleksibilitas fiskal pemerintah di tengah prioritas pembangunan nasional. Di sisi lain, optimisme Menteri Airlangga tentang potensi program MBG dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi hingga 8% menunjukkan bagaimana program sosial diarahkan sebagai mesin ekonomi.

Maharani Dwi Puspita Sari
Editor
