Fakta Investor 2025: Gen Z Menang Jumlah, Boomer Menang Aset
- Total investor pasar modal 2025 tembus 20,2 juta. Gen Z mendominasi 54% jumlah investor, namun aset Rp1.201 triliun dikuasai investor usia di atas 60 tahun.

Alvin Bagaskara
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Investor pasar modal Indonesia mencatat rekor baru dengan total mencapai 20,2 juta identitas tunggal pemodal tahun ini. Angka tersebut menunjukkan lonjakan partisipasi masyarakat yang sangat signifikan dalam instrumen investasi keuangan domestik. Otoritas Jasa Keuangan mengonfirmasi data per akhir Desember.
Pertumbuhan jumlah investor tercatat melesat hingga 35,88% secara tahunan jika dibandingkan dengan posisi akhir tahun 2024 lalu. Penambahan investor baru tercatat mencapai angka fantastis yakni 5,34 juta identitas dalam satu tahun penuh. Antusiasme masyarakat berinvestasi aset keuangan semakin tinggi.
Menariknya demografi investor didominasi oleh kalangan muda di bawah usia tiga puluh tahun yang menjadi mayoritas pasar. Namun nilai aset jumbo justru masih dikuasai oleh kelompok investor senior yang berusia di atas enam puluh tahun. Kesenjangan aset ini sangat mencolok.
1. Gen Z Dominasi Kuantitas
Data demografi menunjukkan investor ritel berusia di bawah 30 tahun menguasai porsi sebesar 54,23% dari total pemodal. Generasi muda menjadi penggerak utama pertumbuhan jumlah investor baru yang masuk ke pasar modal sepanjang tahun ini. Dominasi milenial dan gen z tak terbendung.
Sementara itu kelompok usia produktif antara 31 hingga 40 tahun menempati posisi kedua dengan porsi sebesar 24,88%. Gabungan kedua kelompok usia muda ini praktis menguasai hampir delapan puluh persen dari total populasi investor. Regenerasi pelaku pasar modal berjalan dengan sangat cepat.
Sebaliknya partisipasi kelompok usia mapan di atas 60 tahun tercatat hanya sebesar 2,89% dari total jumlah investor. Meskipun jumlahnya sedikit namun kelompok senior ini memiliki pengalaman dan ketahanan modal yang jauh lebih kuat. Struktur demografi ini menggambarkan masa depan pasar modal.
2. Boomer Kuasai Aset
Meski kalah jumlah namun investor senior menunjukkan dominasi mutlak dalam hal kepemilikan total nilai aset investasi saat ini. Data otoritas mencatat adanya ketimpangan yang sangat tajam antara jumlah investor muda dengan nilai aset riil. Kualitas aset berbanding terbalik dengan kuantitas.
Kelompok investor berusia di atas 60 tahun tercatat memiliki total aset fantastis senilai Rp1.201 triliun di pasar modal. Kekuatan modal para senior ini menjadi penopang stabilitas likuiditas pasar di tengah volatilitas perdagangan harian. Akumulasi kekayaan mereka terbentuk dalam jangka waktu panjang.
Sementara investor muda di bawah 30 tahun hanya memiliki total aset sebesar Rp80,57 triliun di seluruh instrumen investasi. Potensi pertumbuhan aset generasi muda ini masih sangat terbuka lebar seiring peningkatan pendapatan mereka kelak. "Potensi besar terhadap generasi muda kita," kata Eddy.
3. Lonjakan SID & Inklusi
Otoritas Jasa Keuangan mencatat realisasi jumlah investor per 23 Desember 2025 telah menembus angka 20,2 juta identitas. Pencapaian ini melampaui target awal tahun dengan penambahan investor baru yang mencapai lebih dari lima juta orang. Inklusi keuangan di sektor pasar modal berhasil.
Jika dibandingkan dengan realisasi tahun 2024 pertumbuhan investor tahun ini tercatat mencapai angka impresif sebesar 35,88% secara tahunan. Pada tahun lalu jumlah identitas investor tunggal di pasar modal baru menyentuh angka 14,87 juta. Akselerasi pertumbuhan ini didorong oleh digitalisasi layanan keuangan.
Kemudahan akses pembukaan rekening efek secara daring menjadi kunci utama lonjakan partisipasi masyarakat di berbagai daerah Indonesia. Edukasi literasi keuangan yang masif juga turut mendorong kesadaran masyarakat untuk mulai berinvestasi sejak dini. "Menjelaskan keberhasilan upaya inklusi keuangan," ujar Eddy Harahap.
4. Target KSEI 2026
Menatap tahun depan Kustodian Sentral Efek Indonesia menetapkan target moderat penambahan investor baru sebanyak 2 juta orang. Target untuk tahun 2026 ini diharapkan dapat dicapai melalui sinergi yang kuat antar pelaku industri pasar modal. Pertumbuhan berkelanjutan menjadi fokus utama regulator bursa.
Otoritas menekankan pentingnya peran aktif dari perusahaan sekuritas dan bank kustodian untuk menjaring minat calon investor baru. Agen penjual reksa dana juga diharapkan terus memperluas jangkauan pemasaran produk investasi ke seluruh lapisan masyarakat. Kolaborasi ekosistem keuangan sangat dibutuhkan untuk ekspansi.
Tantangan utama ke depan adalah meningkatkan kualitas investor agar tidak hanya tumbuh secara jumlah namun juga aktif bertransaksi. Literasi tingkat lanjut diperlukan agar investor pemula dapat bertahan lama dalam berinvestasi di pasar modal. "Sangat membutuhkan peran para pelaku pasar," ucap Samsul.
5. Profil & Sebaran Wilayah
Berdasarkan data jenis kelamin investor laki-laki masih mendominasi pasar modal dengan porsi mencapai 66,35% sepanjang tahun 2025. Kesenjangan partisipasi gender ini masih menjadi pekerjaan rumah bagi otoritas untuk mendorong keterlibatan investor perempuan. Inklusivitas gender perlu ditingkatkan dalam strategi literasi keuangan nasional.
Dari sisi instrumen mayoritas pemodal merupakan investor reksa dana yang jumlahnya mencapai angka hampir sembilan belas juta. Kelompok investor ini cenderung memiliki profil risiko konservatif dan berorientasi pada tujuan investasi jangka panjang semata. Mereka kurang aktif melakukan perdagangan saham secara harian.
Persebaran investor juga masih terpusat di Pulau Jawa yang menguasai porsi mayoritas sebesar 68,91% dari total populasi. Sementara itu wilayah Sumatra berkontribusi sebesar 16,29% diikuti Kalimantan dan wilayah timur Indonesia lainnya yang minim. Pemerataan akses investasi harus terus didorong ke daerah.

Alvin Bagaskara
Editor
