Tren Ekbis

Apa Perbedaan Republik Rakyat China (RRC) dan Taiwan?

  • Keberadaan Republik Rakyat China (RRC) dan Taiwan sebagai dua entitas politik yang sama-sama berakar dari “China” merupakan hasil dari konflik sejarah panjang
Ilustrasi Bendera China dan Taiwan
Ilustrasi Bendera China dan Taiwan (Reuters/Dado Ruvic) (Reuters/Dado Ruvic)

JAKARTA, TRENASIA.ID - China kembali meningkatkan tekanan militernya terhadap Taiwan dengan menggelar latihan tembak langsung berskala besar di sekitar pulau tersebut pada Selasa, 30 Oktober 2025. 

Operasi militer yang berlangsung selama sekitar 10 jam, sejak pagi hingga pukul 18.00 waktu setempat, diberi nama Justice Mission 2025 dan diklaim Beijing sebagai bagian dari misi penegakan kedaulatan serta keamanan nasional. 

Dalam latihan tersebut, militer China mensimulasikan blokade laut dan udara terhadap Taiwan, sebuah manuver yang dinilai mempertegas eskalasi ketegangan lintas selat di tengah dinamika geopolitik kawasan Asia Pasifik.

Keberadaan Republik Rakyat China (RRC) dan Taiwan sebagai dua entitas politik yang sama-sama berakar dari “China” merupakan hasil dari konflik sejarah panjang yang belum pernah diselesaikan secara resmi. 

Akar permasalahan ini berasal dari perang saudara yang pecah di China pada paruh pertama abad ke-20 dan dampaknya masih terasa hingga kini, menjadikan Taiwan salah satu titik panas geopolitik global.

Baca juga : Beyoncé Resmi Jadi Miliarder Versi Forbes

Akar Sejarah

Dilansir Ensiklopedia Britanica, Selasa, 30 Desember 2025, permasalahan “dua China” bermula dari runtuhnya Dinasti Qing pada 1911, yang mengakhiri sistem kekaisaran yang telah berkuasa selama ribuan tahun. 

Setelah kejatuhan Qing, China beralih menjadi negara republik dengan berdirinya Republik China (ROC) yang dipimpin oleh partai nasionalis Kuomintang (KMT). Namun, pemerintahan baru ini sejak awal menghadapi tantangan besar berupa instabilitas politik dan konflik internal.

Ketegangan politik berkembang menjadi Perang Saudara China yang mempertemukan Kuomintang dan Partai Komunis China (PKC) sejak 1927.

Konflik ini sempat terhenti ketika kedua pihak bersatu melawan Jepang pada Perang Dunia II, tetapi kembali berkobar setelah Jepang kalah. 

Pada tahun 1949, PKC di bawah pimpinan Mao Zedong memenangkan perang dan mendirikan Republik Rakyat China (RRC) di Beijing sebagai pemerintahan baru di China daratan.

Baca juga : Fakta Ekspansi CUAN 2025: Dari Listrik hingga Tambang SINI

Status Taiwan

Kekalahan dalam perang memaksa pemerintahan Republik China (ROC) mundur ke Pulau Taiwan, membawa jutaan pendukungnya. 

Sejak saat itu, Taiwan berkembang menjadi wilayah yang memiliki pemerintahan, militer, sistem hukum, dan mata uang sendiri. Meski demikian, Taiwan tidak secara resmi menyatakan kemerdekaan karena langkah tersebut dipandang Beijing sebagai alasan sah untuk melakukan aksi militer.

Pemerintah China menegaskan prinsip One China Policy, yang menyatakan bahwa hanya ada satu China dan Taiwan merupakan bagian darinya. 

Dalam pandangan Beijing, Taiwan adalah provinsi yang memisahkan diri, dan penyatuan kembali dianggap sebagai misi nasional yang tidak dapat ditawar. 

China menyatakan terbuka pada penyatuan damai, namun tidak menutup kemungkinan penggunaan kekuatan militer jika diperlukan.

Pengakuan Internasional Terbelah

Di tingkat internasional, mayoritas negara di dunia, termasuk Indonesia, secara diplomatik mengakui Republik Rakyat China sebagai satu-satunya wakil sah China. 

Taiwan hanya diakui secara resmi oleh sedikit negara. Meski demikian, Taiwan tetap menjalin hubungan ekonomi, perdagangan, dan teknologi dengan banyak negara, meskipun sebagian besar bersifat tidak resmi.

Ketegangan China-Taiwan meningkat dalam beberapa tahun terakhir seiring menguatnya identitas politik Taiwan, meningkatnya dukungan Amerika Serikat dan sekutunya, serta bangkitnya China sebagai kekuatan global. 

Selain itu, Taiwan memiliki posisi strategis karena berada di jalur perdagangan internasional dan menjadi pusat industri semikonduktor dunia, yang membuat isu ini semakin sensitif.

Keberadaan Republik Rakyat China dan Taiwan merupakan warisan langsung dari perang saudara China tahun 1949 yang tidak pernah ditutup dengan perjanjian damai. 

Selama tidak ada penyelesaian politik yang disepakati bersama, hubungan China–Taiwan akan tetap menjadi salah satu isu geopolitik paling kompleks dan berisiko di kawasan Asia Pasifik.