Tren Ekbis

Emas vs Dolar AS: Siapa Lebih Kuat di Tengah Gejolak?

  • Harga emas kerap bergerak berlawanan dengan dolar AS, mencerminkan sentimen risiko global dan peluang diversifikasi bagi investor muda.
Emas.
Emas. (REUTERS/Neil Hall)

JAKARTA, TRENASIA.ID - Harga emas dan nilai dolar Amerika Serikat (AS) kembali menjadi perhatian pelaku pasar di tengah dinamika ekonomi global yang penuh dengan ketidakpastian. Pergerakan keduanya tidak sekadar mencerminkan fluktuasi harga, melainkan juga menggambarkan persepsi risiko, kondisi makroekonomi, serta arah kebijakan global.

Secara historis, emas dan dolar AS kerap menunjukkan hubungan berlawanan. Ketika dolar melemah, harga emas cenderung menguat, dan sebaliknya. Hal ini terjadi karena emas diperdagangkan dalam denominasi dolar AS di pasar internasional, sehingga pelemahan dolar membuat emas lebih murah bagi pemegang mata uang lain dan mendorong permintaan.

Di pasar domestik, harga emas sempat mengalami koreksi tajam hingga menyentuh Rp2.860.000 per gram. Namun, harga emas PT Aneka Tambang Tbk (Antam) kembali menguat. Berdasarkan laman Logam Mulia, pada Senin, 29 Januari 2026 pukul 10.28 WIB, harga emas naik Rp167.000 menjadi Rp3.027.000 per gram.

Ilustrasi Emas. Source: physicalgold.com

Dalam beberapa tahun terakhir, data historis menunjukkan permintaan emas cenderung meningkat pada periode ketegangan geopolitik, perang dagang, maupun ketidakpastian kebijakan moneter global. Meski demikian, hubungan antara emas dan dolar tidak selalu bersifat linier.

Melansir dari BetaShares, Senin, 02 Februari 2026, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa emas dan dolar AS dapat bergerak searah dalam kondisi ketidakpastian ekstrem. Dalam situasi tersebut, keduanya sama-sama dipandang sebagai aset safe haven ketika investor menghindari risiko.

Pada kondisi tertentu, penguatan harga emas dapat terjadi bersamaan dengan menguatnya dolar AS, tergantung pada faktor fundamental yang dominan di pasar. Selain faktor mata uang, peran investor institusi dan bank sentral juga dinilai signifikan dalam pembentukan harga emas global.

Permintaan emas dari bank sentral, terutama negara-negara yang berupaya mengurangi ketergantungan pada dolar AS dalam cadangan devisanya, menjadi salah satu pendorong utama kenaikan harga emas dalam beberapa tahun terakhir. Di sisi lain, permintaan konsumen dan investor ritel dari negara seperti China dan India turut memperkuat tren tersebut.

Ilustrasi Dolar AS. Source: Lazada

Bagi investor, khususnya generasi muda yang semakin aktif di pasar finansial, emas kerap digunakan sebagai instrumen diversifikasi portofolio dan lindung nilai terhadap inflasi serta gejolak nilai tukar. Melansir dari Yahoo Finance, dengan meningkatnya ekspektasi pemangkasan suku bunga Federal Reserve AS dan melemahnya dolar, emas kembali dilirik sebagai aset pelindung nilai.

Secara tradisional, harga emas bergerak berlawanan arah dengan suku bunga. Ketika suku bunga turun, emas cenderung menguat. Namun, pola tersebut sempat menyimpang ketika suku bunga AS mulai turun tahun lalu, sementara harga emas tetap melanjutkan penguatan.

Menurut World Gold Council, investor dan bank sentral meningkatkan kepemilikan emas untuk meredam dampak turbulensi ekonomi. Dalam fase perlambatan ekonomi, emas kerap bergerak berlawanan dengan saham dan obligasi, sehingga berfungsi sebagai penyeimbang risiko portofolio.

Meski demikian, emas juga memiliki keterbatasan. Tidak seperti saham, emas tidak menghasilkan pendapatan atau dividen, sehingga potensi imbal hasil jangka panjangnya relatif lebih rendah. Selain itu, tingkat likuiditas juga bergantung pada bentuk investasi, di mana ETF emas lebih mudah diperdagangkan dibandingkan emas fisik yang memerlukan biaya penyimpanan dan keamanan.

Dengan demikian, hubungan antara emas dan dolar AS dapat berubah seiring dinamika ekonomi global. Investor tetap perlu melakukan riset mendalam dan menyesuaikan keputusan investasi dengan tujuan keuangan masing-masing.