Harga Emas Selangit, Minat Investasi Tetap Melejit
- Harga emas Antam naik tajam ke Rp2,88 juta per gram. Meski mahal, emas tetap jadi pilihan investasi utama masyarakat Indonesia.

Maharani Dwi Puspita Sari
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Harga emas batangan produksi PT Aneka Tambang Tbk (Antam) kembali mencatat kenaikan signifikan pada Jumat, 23 Januari 2026, dengan lonjakan hingga Rp90.000 per gram dibanding hari sebelumnya.
Berdasarkan data terbaru dari laman resmi Logam Mulia, pada Jumat pagi harga emas Antam ditetapkan di level Rp2.880.000 per gram, naik dari Rp2.790.000 per gram pada Kamis 22 Januari 2026. Tren kenaikan ini juga diikuti oleh harga buyback yang naik sekitar Rp80.000 menjadi sekitar Rp2.715.000 per gram.

Dari pantauan tim Trenasia, harga emas di awal tahun 2026 berkisar di harga Rp2.480.000 dan kini pada pekan ketiga Januari sudah mencapai Rp2.880.000 per gram. Kenaikan ini berhasil menyita perhatian banyak orang, terkait fenomena harga emas yang kian melambung tinggi.
Kenaikan harga emas Antam ini terjadi di tengah volatilitas pasar komoditas global dan pergerakan nilai tukar dolar Amerika Serikat. Pelemahan dolar AS akhir-akhir ini turut menjadi salah satu faktor penguat harga emas dunia, yang kemudian berdampak pada harga logam mulia di pasar domestik.
Penguatan harga emas spot dunia juga tercatat berada pada level tertinggi dalam beberapa waktu terakhir, meskipun faktor geopolitik dan dinamika pasar tetap menjadi pendorong utama. Pergerakan harga emas Antam tak hanya memengaruhi pelaku investasi komoditas, tetapi juga menarik perhatian konsumen ritel yang menggunakan emas sebagai lindung nilai (safe haven) terhadap inflasi dan ketidakpastian pasar.
Harga emas batangan biasanya diperbarui setiap pagi hari kerja berdasarkan data dari Logam Mulia, dan dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti kondisi pasar global. Selain pecahan 1 gram, harga pecahan lain seperti 5 gram, 10 gram, dan 25 gram juga mengalami penyesuaian naik mengikuti pola yang sama, sehingga investor maupun kolektor yang membeli dalam ukuran lebih besar turut merasakan dampak kenaikan ini.
Kenaikan dan Pengaruh Pada Masyarakat
Survei Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2022 mencatat bahwa 58% masyarakat Indonesia menempatkan emas sebagai pilihan utama dalam berinvestasi, khususnya di kelompok usia produktif 25-40 tahun.
Minat tersebut didorong oleh pandangan bahwa emas relatif lebih aman dalam menghadapi tekanan inflasi dan volatilitas pasar, jika dibandingkan dengan instrumen investasi lain seperti saham maupun deposito. Temuan lain menunjukkan bahwa sekitar 72% responden memilih emas karena tingkat likuiditasnya yang tinggi serta kemampuannya menjaga nilai aset di tengah ketidakpastian ekonomi.
Faktor stabilitas harga menjadi alasan utama emas tetap diminati, meskipun terjadi fluktuasi pada kondisi ekonomi global. Di Indonesia, emas juga dinilai memiliki prospek kuat sebagai instrumen investasi jangka panjang. Sifatnya yang cenderung tahan terhadap inflasi membuat emas banyak dipilih untuk menjaga daya beli masyarakat dalam waktu panjang.
Laporan World Gold Council tahun 2023 mencatat permintaan emas di Indonesia meningkat sekitar 18% dalam lima tahun terakhir, dengan porsi terbesar berasal dari investor individu. Tren ini mengindikasikan pergeseran persepsi masyarakat yang mulai memandang emas bukan sekadar aset konsumsi, melainkan sebagai strategi investasi yang berkelanjutan.
Dengan lonjakan harga yang terjadi sejak awal tahun, emas masih banyak dicari mengingat posisinya sebagai salah satu instrumen investasi yang paling diminati. Di tengah dinamika ekonomi global, fluktuasi nilai tukar, serta tekanan inflasi, emas masih dipandang sebagai aset yang relatif aman dan mudah dicairkan.
Kedepannya, pergerakan harga emas diperkirakan akan tetap dipengaruhi oleh arah kebijakan moneter global, kondisi geopolitik, serta permintaan investor. Bagi masyarakat, khususnya investor ritel, tren ini menjadi pengingat bahwa emas tidak hanya berfungsi sebagai aset pelindung nilai, tetapi juga bagian dari strategi pengelolaan keuangan jangka panjang di tengah ketidakpastian ekonomi.

Maharani Dwi Puspita Sari
Editor
