Tren Ekbis

Ekonom Nilai Purbaya Bukan Pilihan Terbaik, Ini Alasannya

  • Pergantian Menteri Keuangan dalam reshuffle kabinet Presiden Prabowo Subianto menuai sorotan tajam, terutama dari kalangan ekonom. Sri Mulyani Indrawati, yang selama hampir dua dekade identik dengan kredibilitas dan disiplin fiskal, resmi digantikan oleh Purbaya Yudhi Sadewa pada 8 September 2025.
Ketua Dewan Komisioner LPS.jpg
Ketua Dewan Komisioner LPS Purbaya Yudhi Sadewa (Tangkapan layar Zoom Meeting Konferensi Pers TBP, Selasa, 27 September 2022)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Pergantian Menteri Keuangan dalam reshuffle kabinet Presiden Prabowo Subianto menuai sorotan tajam, terutama dari kalangan ekonom. Sri Mulyani Indrawati, yang selama hampir dua dekade identik dengan kredibilitas dan disiplin fiskal, digantikan Purbaya Yudhi Sadewa pada 8 September 2025.

Bagi Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), keputusan ini sarat risiko. Ekonom senior INDEF Fadhil Hasan menyebut Sri Mulyani tetap diakui dunia usaha dan lembaga internasional karena berhasil menjaga kebijakan fiskal Indonesia tetap stabil, prudent, dan sustainable.

“Dengan demikian Indonesia masih merupakan salah satu dari negara yang dipercaya mengelola ekonominya dengan baik dan masih menarik untuk investasi,” ungkap Fadhil kepada TrenAsia.id pada Selasa, 9 September 2025.

Namun, ia juga mencatat dalam periode kedua Presiden Jokowi, Sri Mulyani banyak melakukan akomodasi terhadap keinginan politik, yang menyebabkan utang publik meningkat dan kredibilitas kebijakan fiskal menurun.

Meski begitu, menurut Fadhil, publik perlu hati-hati dalam membaca narasi pencopotannya. “Yang harus dihindarkan adalah persepsi bahwa digantinya Sri Mulyani karena peristiwa penjarahan rumahnya yang dianggap tidak pro rakyat. Jika itu yang muncul, justru akan memicu reaksi negatif dari dunia usaha, pasar, dan masyarakat,” jelasnya.

Condong ke Suahasil Nazara

Soal pengganti, Fadhil menilai Purbaya adalah ekonom yang baik dan memahami persoalan makro. Namun, ia menegaskan Purbaya tidak punya pengalaman langsung dalam mengelola fiskal secara keseluruhan. “Jadi bisa dikatakan dia bukan pilihan terbaik. Masih ada figur lain yang lebih layak, misalnya Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara,” ujarnya.

Masalah fiskal yang akan dihadapi pengganti Sri Mulyani, menurut Fadhil, tidak mudah. Defisit APBN yang terus melebar, utang publik yang mendekati batas aman, subsidi energi yang kian membengkak, hingga tekanan global akibat suku bunga tinggi akan menjadi ujian berat bagi Purbaya. “Siapapun penggantinya akan menghadapi masalah fiskal yang rumit dan sulit. Pilihannya tidak ada yang mudah,” imbuh Fadhil.

Bagi investor global, kepergian Sri Mulyani menimbulkan tanda tanya besar tentang arah fiskal Indonesia. Keberadaan Menkeu yang kredibel biasanya jadi jangkar stabilitas rupiah dan pasar obligasi negara.

Fadhil menilai tantangan terbesar Purbaya bukan sekadar teknis mengelola APBN, melainkan mengembalikan kepercayaan pasar yang goyah sejak kabar reshuffle mencuat. “Kalau persepsi negatif soal penggantian ini tak segera diatasi, dampaknya bisa panjang. Bukan hanya ke pasar, tapi juga ke masyarakat luas,” ujar Fadhil.