CHUK: Ubah Limbah Tebu Jadi Bisnis Produk Berkelanjutan
- CHUK mengolah limbah tebu menjadi peralatan makan komposabel sebagai alternatif plastik sekali pakai dengan model bisnis berkelanjutan.

Maharani Dwi Puspita Sari
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Dalam era bisnis yang berkembang dengan konsep ramah lingkungan, sebuah perusahaan asal India berhasil menjadikan limbah tebu sebagai bahan baku produk yang sustainable sekaligus bernilai tinggi. CHUK, brand yang berdiri sejak 2017, memanfaatkan residu tebu atau bagasse yang biasanya dibakar oleh petani, diproses menjadi tableware kompos yang 100% biodegradable dan dapat menggantikan produk plastik sekali pakai.
Melansir laman CHUK dari, Kamis, 25 Desember 2025, brand ini lahir dari keprihatinan pendirinya terhadap banjir sampah plastik. Alih-alih hanya membuat gerakan kesadaran, founder CHUK memilih bisnis sebagai solusi, dengan membangun model usaha yang tidak hanya menyelesaikan isu limbah, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi.
Limbah tebu yang diperoleh dari petani dan pabrik gula di sekitar Ayodhya diolah menjadi pulp, lalu dicetak menjadi piring, mangkuk, dan kontainer makanan yang kuat, tahan minyak, serta komposabel dalam hitungan minggu saja.
CHUK mampu memproduksi 13-15 ton metrik peralatan makan yang dapat dikomposkan, sebanyak satu juta buah setiap hari. Selain itu, mereka juga memiliki sekitar 17 mitra distribusi untuk B2B dan juga hadir di pasar internasional yang dipilih.
90% produk CHUK dijual ke restoran cepat saji dan sektor ini diperkirakan akan mencapai 827,63 miliar pada tahun 2025. Jadi, seiring pertumbuhan industri restoran tersebut, penjualan mereka pun akan mengalami peningkatan.
Kini, CHUK melayani segmen restoran cepat saji, layanan katering, hotel, hingga jaringan besar seperti Haldiram’s, Starbucks, Amazon, dan Google. Produk-produknya tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga microwave, oven, dan freezer-friendly, sehingga menjadikannya sebagai alternatif nyata bagi pasar yang berkembang pesat.
Keunggulan bisnis CHUK tidak hanya terletak pada produk ramah lingkungan, tetapi juga strategi supply chain yang memanfaatkan sisa pertanian secara lokal, sehingga mengurangi jejak karbon sekaligus menyediakan pemasukan tambahan bagi petani tebu. Selain itu, kebijakan pemerintah yang mulai mengurangi penggunaan plastik sekali pakai turut mempercepat adopsi produk CHUK di berbagai industri.
CHUK juga terus berinovasi dengan memperluas lini produknya, termasuk coffee cup, snack tray, dan combo pack yang sesuai kebutuhan usaha makanan serta minuman modern. Semua produk tersebut dirancang agar mudah terurai menjadi kompos tanpa meninggalkan residu berbahaya, sehingga mendukung ekosistem sirkular yang lebih bersih dan sehat.
Melihat tren global yang semakin menuntut solusi bisnis berkelanjutan, model usaha yang diterapkan CHUK menjadi contoh sukses bagaimana inisiatif berbasis lingkungan tidak hanya menjawab tantangan, tetapi juga menjadi peluang pertumbuhan pasar yang besar.

Maharani Dwi Puspita Sari
Editor
