Tren Pasar

Terjegal Kuota RKAB, Cuan Dividen ITMG Masih Menggiurkan

  • PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) baru saja merilis laporan kinerja keuangan konsolidasi tahun buku 2025. Simak prospek dan tantangannya.
Tongkang Batu Bara Digambarkan Mengantri untuk Ditarik di Sepanjang Sungai Mahakam di Samarinda
Tongkang Batu Bara Digambarkan Mengantri untuk Ditarik di Sepanjang Sungai Mahakam di Samarinda (Reuters/Willy Kurniawan) (Reuters/Willy Kurniawan)

JAKARTA, TRENASIA.ID – PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) baru saja merilis laporan kinerja keuangan konsolidasi tahun buku 2025. Emiten batubara raksasa nasional ini terpaksa menghadapi kenyataan pahit berupa penyusutan profitabilitas tajam akibat badai gejolak harga komoditas energi.

Manajemen perseroan menerangkan bahwa lesunya fundamental tersebut murni disebabkan oleh penurunan indikator Average Selling Price (ASP) di pasar. Harga jual komoditas andalan mereka tercatat anjlok dari US$96 per ton pada 2024 menjadi sekadar US$76 per ton pada 2025.

Koreksi harga jual yang mencapai level persentase 20,83% secara tahunan tersebut langsung memukul postur pendapatan perusahaan. Padahal entitas pertambangan ini masih harus menghadapi jerat tantangan regulasi domestik yang membatasi ruang gerak produksi mereka pada awal pembukaan tahun 2026.

1. Tekanan Pendapatan dan Laba Bersih

Sepanjang masa operasional penuh tahun 2025, perseroan sekadar mampu membukukan total pencapaian pendapatan bersih senilai US$1,88 miliar (dari posisi US$2,30 miliar di 2024). Angka raihan pemasukan ini mencerminkan kontraksi sangat signifikan yakni merosot sebesar 18,37% jika disandingkan dengan rekam jejak pada periode sebelumnya.

Penurunan arus pendapatan ini memangkas pencapaian laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk. Keuntungan bersih perusahaan tambang tersebut anjlok sangat dalam hingga 48,96% menuju posisi US$190,9 juta pada masa penutupan buku 2025.

Kondisi fundamental yang cukup tertekan tersebut turut menyeret rasio kemampuan mencetak keuntungan per lembar saham. Indikator fundamental Earning Per Share (EPS) perusahaan energi ini terpaksa ikut menyusut tajam hingga akhirnya sekadar bertengger pada level posisi US$0,17.

2. Strategi Ekspor, Hedging, dan Penalti DMO

Sementara itu, rincian peta penjualan batu bara menunjukkan bahwa pasar luar negeri masih menjadi urat nadi penopang bisnis perseroan. Penjualan komoditas ekspor sukses meraup US$1,54 miliar, meninggalkan realisasi serapan domestik yang nyatanya hanya mampu mencetak angka US$339,4 juta.

Tiongkok merajai daftar pembeli utama dengan nominal transaksi mencapai US$562,2 juta, disusul Jepang sebesar US$458,1 juta, India senilai US$170,8 juta, dan Filipina sebesar US$85,1 juta.  Dominasi ini diperkuat oleh klien raksasa China Bai Gui International Trade yang menyumbang pendapatan masif US$213 juta, disusul Marubeni Corporation senilai US$188,3 juta.

Yang manarik, demi menjaga margin ekspor tetap gemuk, perusahaan sengaja rela membayar beban penalti Domestic Market Obligation (DMO). Berdasarkan laporan keuangannya, ITMG mengucurkan biaya kompensasi sebesar US$3,8 juta akibat strategi tidak memenuhi pasokan lokal. 

Di samping itu, manajemen perusahaan berkodekan saham ITMG juga aktif melakukan lindung nilai (hedging) di pasar derivatif. Cara ini berhasil membuahkan keuntungan transaksi swap batu bara senilai US$10,5 juta demi menopang laba tahun berjalan agar bertahan pada posisi US$194,6 juta.

3. Jerat Ketidakpastian Regulasi Kuota

Tantangan operasional perseroan semakin berat akibat munculnya regulasi pembatasan dari meja otoritas energi dan sumber daya mineral. Berdasarkan surat edaran resmi direktorat jenderal, operasi penambangan entitas beserta anak usahanya hanya diizinkan berjalan maksimal 25% dari rencana produksi 2026 yang disetujui sebelumnya.

Fase menunggu persetujuan revisi dokumen Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) ibarat sebuah lampu kuning bagi laju operasional perseroan. Izin kuota produksi penambangan sementara tersebut kabarnya hanya akan berlaku sangat terbatas hingga 31 Maret 2026.

Fase menunggu kepastian regulasi kuota pertambangan ini jelas mempertaruhkan proyeksi pencetakan laba usaha perusahaan yang pada 2025 tercatat senilai US$236,4 juta. Jika batas kuota produksi tak kunjung mendapat titik terang, arus kas serta kemampuan penetrasi pasar ekspor mereka pasti terganggu.

4. Pergerakan Saham dan Aksi Korporasi 

Dari lantai bursa, pasar merespons situasi fundamental dan regulasi ini dengan sikap Wait and See. Pasalnya, saham konstituen Indeks LQ45 bergerak stagnan di level Rp22.657 pada perdangan berjalan Kamis, 26 Februari 2026. Secara year to date saham ini sukses menguat 2,50%, namun jika diukur dalam satu tahun terakhir telah melemah 8,61%.

Analis Ina Sekuritas yakni Arief Machrus dalam risetnya yang dipublikasikan pada akhir Januari lalu, turut menyematkan rekomendasi "Neutral" dengan mematok target harga Rp24.350 per saham. Jarak antara harga aktual dan target yang sempit ini mengisyaratkan adanya ketidakpastian struktural yang membayangi prospek emiten batubara raksasa tersebut.

Untuk merespons tekanan pasar, manajemen menjalankan program buyback saham dengan nilai maksimal Rp2,49 triliun atau US$148,3 juta. Program ini berlangsung sejak 4 November 2025 hingga 3 November 2026. Aksi tersebut ditopang posisi kas yang kuat, yakni US$807,9 juta, sehingga perusahaan memiliki cukup ruang untuk menstabilkan harga dan menjaga nilai saham.

5. Rekam Jejak Dividen Menggiurkan 

Meski sedang menghadapi tekanan fundamental yang cukup berat, rekam jejak pembagian keuntungan tunai perseroan masih sangat menjanjikan. Perusahaan ini terbukti selalu konsisten menebar dividen bernilai jumbo kepada seluruh pemegang saham setianya selama rentang empat tahun terakhir. Hal ini bisa dilirik oleh dividen hunter. 

Pada masa operasional buku 2025, perseroan tercatat telah mencairkan dividen interim sebesar Rp738 per lembar kepemilikan saham pada 26 November 2025, sembari menanti rilisnya dividen final. Sementara pada penutupan periode 2024, perusahaan batubara ini sukses membayarkan dividen final senilai Rp2.245 beserta tebaran dividen interim sebesar Rp1.228.

Konsistensi tebaran keuntungan ini juga terekam jejaknya pada tahun buku 2023 melalui dividen final senilai Rp1.747 dan interim Rp2.660. Bahkan pada periode pencapaian puncaknya tahun 2022, perseroan sangat agresif menggelontorkan dividen final Rp6.416 dipadu interim senilai Rp4.128.