Tren Pasar

Komparasi Kredit Raksasa Bank 2025: Siapa Paling Agresif?

  • Komparasi penyaluran kredit BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI tunjukkan laju ekspansi. OJK menargetkan tren pertumbuhan pembiayaan perbankan tembus 12% tahun 2026.
Pembukaan BCA Expoversary - Panji 5.jpg
PT Bank Central Asia Tbk (BCA) kembali menyelenggarakan BCA Expoversary 2025 dalam rangka perayaan HUT ke-68 perusahaan. Beragam promo dan penawaran spesial disediakan BCA pada ajang ini, mulai dari untuk Kredit Pemilikan Rumah (KPR), Kredit Kendaraan Bermotor (KKB), Kredit Sepeda Motor (KSM), hingga beragam produk unggulan Solusi BCA. Acara digelar secara offline di ICE BSD City, Kabupaten Tangerang, pada 20-23 Februari 2025. Foto : Panji Asmoro/TrenAsia (trenasia.com)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Empat raksasa perbankan nasional dalam kelompok bank bermodal inti super besar (lebih dari Rp70 triliun) resmi merilis laporan kinerja keuangan konsolidasi untuk tahun operasional terakhir. Keempat emiten tersebut kini saling menunjukkan agresivitas penyaluran kredit demi menjaga stabilitas fundamental di pasar modal.

Komparasi data penyaluran kredit sepanjang tahun buku 2025 memperlihatkan ketangguhan fungsi intermediasi perbankan nasional. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI), dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) tampil memukau dengan capaian ekspansi yang solid.

Tak ketinggalan, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) yang baru merilis laporan keuangan tahun buku 2025 pada Kamis, 26 Februari 2026, turut melengkapi kuartet penguasa pasar keuangan domestik. Pertarungan angka pertumbuhan kredit dan efektivitas manajemen risiko kini menjadi sajian utama bagi investor ritel maupun institusi global.

1. BMRI Cetak Rekor Kredit Jumbo

Bank Mandiri yang menggunakan kode saham BMRI secara meyakinkan berhasil memegang rekor sebagai pencetak nominal ekspansi terbesar di industri. Bank pelat merah ini sukses membukukan total kredit bruto menembus level fantastis sebesar Rp1.849,96 triliun sepanjang periode tahun operasional tersebut.

Pencapaian penyaluran fasilitas pinjaman tersebut ternyata sanggup mencatatkan pertumbuhan sangat tinggi sebesar 13,97% secara Year on Year/YoY. Rekor penyaluran fantastis ini secara mutlak sukses melampaui jauh torehan periode sebelumnya yang sekadar bertengger pada level angka akumulatif sebesar Rp1.623,21 triliun.

Menariknya, keseimbangan kualitas aset perseroan kini menunjukkan tren efisiensi yang sangat menggembirakan bagi seluruh pelaku pasar. Alokasi perisai pelindung risiko Cost of Credit/CoC diturunkan tipis 2,67% menjadi Rp48,03 triliun dari pencapaian tahun lalu yang menyentuh level beban Rp49,35 triliun.

2. BBNI Pimpin Laju Ekspansi Tercepat

Beralih ke barisan kompetitor terdekatnya, Bank BNI tampil mengejutkan dengan laju pertumbuhan paling cepat. Emiten perbankan berlogo warna oranye ini sukses membukukan total kredit bruto mencapai nominal yang sangat fantastis yakni sebesar Rp899,53 triliun.

Angka raihan fantastis tersebut secara langsung mencerminkan laju ekspansi penyaluran pinjaman yang meroket tajam sebesar 15,93% secara tahunan. Laju pertumbuhan agresif BBNI tahun 2025 itu berhasil melampaui realisasi penyaluran dana perseroan pada periode tahun sebelumnya yang sekadar tercatat pada posisi nominal Rp775,87 triliun.

Menghadapi kecepatan ekspansi tersebut, manajemen membuktikan sikap sangat konservatif dalam memitigasi risiko pemburukan kualitas aset. Meskipun nominal pencadangan kerugian diturunkan 7,29% menjadi Rp35,86 triliun, perseroan tetap mempertahankan rasio pelindung paling tebal menyentuh persentase 3,98% dari total keseluruhan portofolio kredit.

3. BBRI Tangguh Dominasi Segmen Mikro

Persaingan industri juga dimeriahkan oleh kehadiran Bank BRI atau BBRI yang fokus menggarap sektor usaha mikro. Emiten perbankan spesialis rakyat kecil ini konsisten membukukan pencapaian luar biasa dengan total portofolio kredit mencapai nominal sebesar Rp1.460,72 triliun.

Angka penyaluran fasilitas pembiayaan tersebut sukses mencetak lonjakan impresif sebesar 12,5% secara tahunan dibandingkan realisasi periode sebelumnya. Pencapaian ini membuktikan bahwa roda perekonomian kelas bawah masih tetap berputar sangat kencang menopang ketahanan fundamental ekonomi negara dari ketidakpastian global.

Namun tingginya risiko sektor mikro memaksa manajemen perseroan untuk menumpuk bantalan pelindung paling tebal di antara para kompetitornya. Perusahaan mengalokasikan cadangan kerugian penurunan nilai yang meningkat 2,4% menuju posisi angka sangat masif yakni mencapai level beban sebesar Rp82,89 triliun.

4. BBCA Jawara Mutu Kualitas Aset

Dari kubu perbankan swasta, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) tetap kokoh mempertahankan reputasinya sebagai jawara kualitas aset. Bank berkapitalisasi pasar terbesar ini mencatatkan penyaluran total kredit bruto menuju angka pencapaian fantastis sebesar Rp970,23 triliun pada penutupan tahun operasional.

Meski laju ekspansinya terlihat lebih moderat dengan capaian pertumbuhan sebesar 7,65% secara tahunan, standar kualitas penyalurannya patut mendapat apresiasi. Kinerja penyaluran pinjaman tersebut sanggup melampaui perolehan pada periode tahun sebelumnya yang sekadar mencapai akumulasi nominal total sebesar Rp901,31 triliun.

Status sebagai acuan industri tecermin dari rasio Non Performing Loan/NPL bruto yang sangat rendah pada level 1,71%. Manajemen merasa sangat nyaman memangkas alokasi pencadangan risiko sedalam 8,80% menjadi Rp29,75 triliun demi mendorong optimalisasi raupan laba bersih perusahaan secara tahunan.

5. Optimisme Target Regulator 

Sebelumnya, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menargetkan pertumbuhan penyaluran kredit perbankan nasional akan menyentuh kisaran angka 10% hingga 12% pada 2026. Optimisme keberlanjutan kinerja sektor jasa keuangan tersebut tetap menyala di tengah tantangan ketidakpastian global.

Penjabat Ketua Dewan Komisioner otoritas, Friderica Widyasari Dewi, memberikan keterangan terkait proyeksi agresif tersebut. "OJK optimistis kinerja sektor jasa keuangan akan tumbuh berkelanjutan dengan mempertimbangkan berbagai tantangan, peluang, serta arah kebijakan strategis yang diambil," ujarnya pada awal tahun ini.

Target ambisius otoritas ini akan ditopang penuh oleh ekspektasi lonjakan Dana Pihak Ketiga/DPK yang diproyeksikan sanggup tumbuh secara solid sebesar 7% hingga 9%. Ketersediaan likuiditas yang melimpah ini dinilai akan menjadi fondasi mutlak perbankan menjaga agresivitas penyaluran fasilitas pembiayaan riil.