Tren Pasar

RKAB Nikel Dipangkas! Cek Rapor ESG INCO hingga MBMA

  • RKAB dipangkas 34%, Bahlil perketat syarat lingkungan. Ini bedah keunggulan ESG Vale (Energi), Antam (Tata Kelola) hingga Merdeka (Sirkular).
<p>Pertambangan nikel milik PT Vale Indonesia Tbk. (INCO). / Vale.com</p>

Pertambangan nikel milik PT Vale Indonesia Tbk. (INCO). / Vale.com

(Istimewa)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Lantai Bursa Efek Indonesia mendadak panas pada perdagangan hari ini, Kamis, 8 Januari 2026. Sektor nikel berpesta pora dengan kenaikan harga saham yang sangat signifikan secara merata. Raksasa tambang seperti Vale dan Antam memimpin barisan dengan lonjakan dua digit yang sangat impresif.

"Kita pangkas 34 persen di RKAB 2026 bukan tanpa hitungan. Kita mau rem laju oversupply agar harga tidak jatuh," tegas Menteri ESDM Bahlil Lahadalia. Sentimen ini, ditambah harga nikel global yang pecah rekor ke US$18.524 per ton, sukses membakar optimisme pasar.

Langkah ini menjadi seleksi alam mematikan bagi industri. Hanya emiten dengan standar ESG teruji yang akan selamat menikmati kenaikan harga. Sementara itu, pelanggar aturan lingkungan terancam dicoret kuota produksinya dan tersingkir dari peta persaingan bisnis tambang nasional.

1. INCO: Kemandirian Energi Bersih (Clean Energy)

Keunggulan utama ESG PT Vale Indonesia Tbk (INCO) terletak pada sumber energinya. Tidak seperti smelter lain yang membuang emisi karbon tinggi, operasional Vale ditenagai penuh oleh tiga PLTA mandiri: Larona, Balambano, dan Karebbe. Total kapasitas 365 megawatt ini menjadikan mereka produsen dengan jejak karbon terendah.

Infrastruktur hijau di Sorowako ini adalah benteng pertahanan terkuat INCO. Di saat pemerintah gencar melakukan audit emisi karbon industri, INCO sudah aman karena tidak bergantung pada pembangkit batu bara. Kesiapan ini menjamin kelangsungan produksi mereka bebas dari risiko sanksi atau pembatasan operasional.

Fundamental hijau inilah yang membuat investor asing berani masuk. Dengan risiko lingkungan yang nyaris nol, Stockbit Sekuritas memproyeksikan laba bersih INCO bisa melonjak 106% pada 2026. Mereka menikmati efisiensi biaya energi sekaligus insentif pasar yang memberikan valuasi premium pada produk nikel rendah karbon.

2. ANTM: Tata Kelola Teruji (Governance)

Kekuatan ESG PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) ada pada aspek tata kelola yang tervalidasi. Statusnya sebagai konstituen tetap Indeks SRI-KEHATI dan ESG Sector Leaders membuktikan standar kepatuhan mereka di atas rata-rata industri. Ini jaminan bahwa Antam menjalankan operasional sesuai koridor ketat regulasi pemerintah.

Sebagai BUMN, Antam memiliki sistem pengawasan berjenjang yang ketat di bawah MIND ID. Kepatuhan administrasi dan prosedur lingkungan di Pomalaa maupun Halmahera diaudit secara berkala. Hal ini menempatkan Antam dalam daftar "putih" regulator, sehingga sangat aman dari ancaman pencabutan Izin Usaha Pertambangan (IUP).

Keunggulan tata kelola ini menjadi "bemper" saat Bahlil memangkas kuota RKAB. Di saat penambang swasta nakal kehilangan izin, Antam justru berpeluang mengambil alih pangsa pasar. Kepatuhan mereka dikonversi menjadi stabilitas bisnis jangka panjang yang sangat disukai oleh investor institusi pemegang dana besar.

3. NCKL: Teknologi Pengolahan Limbah (Waste Management)

PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) unggul lewat teknologi pengelolaan limbah yang efisien di Pulau Obi. Fasilitas HPAL mereka mampu mengubah bijih kadar rendah yang dulunya dianggap sampah menjadi produk bernilai tambah. Ini adalah bentuk efisiensi sumber daya alam yang maksimal (zero waste concept).

Selain itu, NCKL menerapkan metode Dry Stack Tailing untuk pengelolaan sisa hasil pengolahan. Metode ini memastikan limbah tersimpan dalam kondisi kering dan padat, sehingga aman dari risiko pencemaran laut atau tanah. Strategi ini menjawab kekhawatiran aktivis lingkungan terhadap dampak ekologis hilirisasi nikel.

Teknologi ini menjadikan NCKL sebagai role model pertambangan modern. Dengan valuasi P/E 8,9 kali, investor melihat NCKL bukan hanya murah, tapi juga berkelanjutan. Kemampuan mereka mengelola limbah menjadi aset produktif adalah keunggulan kompetitif yang sulit ditiru oleh perusahaan tambang konvensional lainnya.

4. MBMA: Ekonomi Sirkular (Circular Economy)

PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) menerapkan keunggulan ESG melalui konsep ekonomi sirkular modern. Proyek AIM di Morowali dirancang khusus untuk menangkap panas buangan (waste heat) pabrik dan mengubahnya kembali menjadi energi listrik. Inisiatif ini memangkas ketergantungan pada energi fosil secara signifikan.

Sirkulasi energi ini menciptakan efisiensi ganda: menurunkan emisi karbon sekaligus memangkas biaya produksi. MBMA membuktikan bahwa kepedulian pada lingkungan bisa berjalan lurus dengan profitabilitas. Model bisnis inilah yang dicari pemerintah sebagai standar baru industri nikel nasional yang berkelanjutan di masa depan.

Inovasi ini menempatkan MBMA di posisi strategis dalam rantai pasok kendaraan listrik global. Pabrikan otomotif dunia kini mensyaratkan transparansi jejak karbon dari hulu ke hilir. Dengan sistem daur ulang energi ini, produk MBMA memiliki daya saing tinggi untuk menembus pasar Eropa dan Amerika.