Tren Pasar

Moody’s Beri Sinyal Bahaya, Efek Perang Tarif Lebih Ngeri?

  • Moody’s revisi outlook fiskal RI jadi negatif akibat beban belanja. Pefindo menilai perang tarif global lebih dominan tekan volatilitas pasar surat utang.
Moodys.jpg
Moody's (Reuters)

JAKARTA, TRENASIA.ID - Volatilitas yang melanda pasar surat utang domestik memicu diskusi hangat mengenai kredibilitas fiskal Indonesia belakangan ini. Namun, PT Pemeringkat Efek Indonesia memberikan catatan penting terkait kondisi tersebut. Meski revisi outlook dari Moody’s berpengaruh pada persepsi risiko, gejolak harga obligasi lebih banyak didikte krisis pada panggung global.

Pada awal Februari 2026, Moody’s mengubah pandangan Indonesia menjadi negatif karena kekhawatiran manajemen fiskal pemerintah. Langkah ini sempat memicu tekanan jual di pasar obligasi pemerintah secara masif di pasar. Namun, Chief Economist Pefindo, Suhindarto, meluruskan bahwa perubahan rating bukanlah satu-satunya faktor penekan harga aset domestik.

“Terkait dengan outlook negatif dari Moody's, ini benar bisa menjadi persepsi risiko yang mengalami peningkatan, tapi sebenarnya kalau kita lihat secara pricing di pasar surat utang kan tidak hanya dipengaruhi oleh itu,” kata Suhindarto dalam Konferensi Pers daring, Rabu, 11 Februari 2026. 

Tekanan Global: Antara Geopolitik dan Perang Tarif

Suhindarto memaparkan bahwa sejak awal tahun, kondisi eksternal memang tercatat sangat tidak kondusif bagi pasar. Eskalasi ketegangan geopolitik dan bayang-bayang perang tarif antara Uni Eropa dan Amerika Serikat memicu kekhawatiran sistemik. Tekanan global inilah yang mengerek imbal hasil obligasi acuan dunia ke level yang lebih tinggi.

Sentimen global tersebut sempat memicu kepanikan jangka pendek di kalangan para pelaku pasar modal domestik. Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, mengungkapkan adanya arus modal keluar yang cukup deras. Menghadapi situasi tersebut, Bank Indonesia langsung mengambil langkah pasang badan untuk menjaga stabilitas pasar surat utang.

“Pada saat terjadi outflow yang cukup besar di SBN beberapa hari yang lalu, Bank Indonesia masuk step in supaya yield itu tetap terjaga. Dalam artian, tidak terlalu naik tinggi dan tidak terlalu rendah,” kata Destry dalam forum CNBC Indonesia Outlook 2026, Selasa, 10 Februari 2026.

Komitmen Otoritas Meredam Gejolak Modal Keluar

Bank Indonesia menilai gejolak tersebut sebagai dinamika wajar di tengah tingginya ketidakpastian ekonomi dunia. Kendati sempat tertekan, Destry optimis bahwa kepercayaan investor terhadap fundamental ekonomi nasional masih terjaga. Hal ini dibuktikan dengan data arus kas masuk yang mulai menunjukkan perbaikan signifikan dalam beberapa hari terakhir di pasar.

Namun, penguatan nilai tukar Rupiah dan penurunan imbal hasil obligasi tidak akan terjadi secara instan. Bank Indonesia menegaskan perlunya proses berkelanjutan agar pertumbuhan ekonomi sejalan dengan perkembangan pasar. Intervensi diarahkan agar volatilitas tidak merusak fondasi industri perbankan serta sektor riil di dalam negeri secara menyeluruh.

Suhindarto kembali mengingatkan agar pelaku pasar tetap waspada terhadap potensi kenaikan biaya dana internasional. Faktor makroekonomi domestik yang stabil memang menjadi bantalan, namun tantangan eksternal tetap membayangi. Imbal hasil obligasi diperkirakan tetap fluktuatif selaras dengan persepsi risiko fiskal hingga pertengahan tahun berjalan di pasar sekunder.

“Maka yield-nya juga akan cenderung sideways dengan kecenderungan mengalami peningkatan, sehingga memang meningkatnya yield dan biaya dana ini sendiri bukan karena semata-mata penurunan outlook, tapi banyak faktor lain yang juga berpengaruh,” tandas ekonom Pefindo tersebut.

Penguatan rupiah membutuhkan dukungan kolektif dari seluruh pemangku kepentingan baik korporasi maupun perbankan nasional. Sinergi antara kebijakan fiskal dan moneter menjadi kunci utama dalam meredam dampak negatif dari ketidakpastian global. Pemerintah harus tetap konsisten dalam menjaga disiplin anggaran agar kepercayaan lembaga pemeringkat internasional dapat segera kembali pulih.

Pefindo menilai efisiensi belanja negara dan optimalisasi pendapatan akan menjadi perhatian utama para investor global. Jika pemerintah mampu menunjukkan pengelolaan fiskal yang kredibel, dampak negatif dari rating Moody's akan bersifat sementara. Pasar surat utang akan kembali stabil seiring dengan kepastian kebijakan ekonomi domestik yang jauh lebih terukur bagi pelaku pasar.