Tren Pasar

Inflasi Tembus Target, Yield SBN Sulit Melandai?

  • Inflasi Januari 2026 tembus 3,55%, Pefindo prediksi Bank Indonesia sulit pangkas suku bunga di paruh pertama. Kondisi ini berdampak 'base terhadap Yield SBN.
Ilustrasi IHSG Bursa Efek Indonesia-06.jpg
Karyawan melintas di dekat layar daftar perusahaan member IDX yang sudah melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa, 7 Juni 2022. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia (trenasia.com)

JAKARTA, TRENASIA.ID - Harapan pelaku pasar obligasi terhadap pelonggaran kebijakan moneter dalam waktu dekat tampaknya harus tertahan lebih lama. PT Pemeringkat Efek Indonesia memproyeksikan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) cenderung mendatar dengan kecenderungan meningkat. Kondisi ini dipicu oleh realisasi inflasi domestik yang melampaui sasaran pasar.

Chief Economist Pefindo, Suhindarto, mengungkapkan tantangan makroekonomi awal tahun ini cukup berat bagi Bank Indonesia. Salah satu pemicu utamanya adalah data inflasi Januari 2026 yang menyentuh level 3,55%. Angka tersebut berada sedikit di atas batas atas target inflasi nasional yang ditetapkan pemerintah saat ini.

“Artinya lebih tinggi dibandingkan dengan target yang mana ini akhirnya membuat pasar menginspirasikan bahwa suku bunga acuan di dalam negeri sendiri masih akan terus dijaga,” kata Suhindarto saat menjawab pertanyaan media dalam Konferensi Pers secara daring, Rabu, 11 Februari 2026. 

Dampak "Base Effect" dan Bayang-bayang Suku Bunga Global

Tingginya inflasi awal tahun ini dipengaruhi fenomena efek basis dari kebijakan tarif listrik tahun lalu. Info saja, pada awal tahun 2025, pemerintah memberikan diskon listrik yang menekan angka inflasi menjadi rendah. Saat kebijakan berakhir pada tahun 2026, terjadi lonjakan inflasi tahunan yang cukup tajam secara statistik perbankan.

“Yang mana itu nantinya akan berpotensi menekan baseline-nya, sehingga inflasi di tahun 2026 ini di Januari dan Februari masih akan tinggi, yang mana kalau di dua bulan itu tinggi berarti BI masih akan juga menahan suku bunga acuannya,” lanjutnya.

Kondisi domestik ini kian rumit karena pasar global masih dalam posisi menunggu arah kebijakan The Fed. Pefindo menilai bank sentral dunia kemungkinan baru akan memangkas suku bunga pada Juni 2026. Dengan demikian, peluang bagi Bank Indonesia melakukan pivot kebijakan dinilai sangat kecil bagi pasar modal.

Merespons kondisi tersebut, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, menegaskan komitmen menjaga stabilitas pasar. Destry mengakui ketidakpastian global mendorong investor lebih selektif dalam menempatkan dana. Mereka cenderung mencari instrumen yang menawarkan imbal hasil paling kompetitif di tengah persaingan modal yang sangat ketat saat ini.

“Uang itu kan tidak ada yang ‘loyal’, hanya loyal pada berapa return yang didapat dengan 1 persen atau 1 rupiah atau 1 dolar saya invest,” kata Destry dalam acara CNBC Indonesia Outlook 2026 di Jakarta, Selasa, 10 Februari 2026.

Strategi Bank Indonesia Menjaga Daya Tarik Aset Rupiah

Bank Indonesia berkomitmen menerapkan intervensi cerdas melalui pasar spot serta pasar domestik yang terukur. Langkah ini penting guna memastikan aset Rupiah tetap memiliki daya tarik kuat bagi investor. Terutama ketika biaya dana di tingkat internasional masih bertengger di level tinggi akibat kondisi ekonomi global.

Hingga 6 Februari 2026, Bank Indonesia mencatat arus modal asing yang masuk mencapai Rp15,44 triliun. Dana tersebut mengalir deras ke pasar Surat Berharga Negara serta instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia secara masif. Namun, pergerakan imbal hasil obligasi diprediksi tetap volatil selaras dengan ekspektasi suku bunga yang bertahan lama.

Pantauan data TrenAsia.id menunjukkan respons investor yang cenderung defensif di tengah tekanan risiko global saat ini. Per perdagangan Rabu ini, imbal hasil SBN seri acuan sepuluh tahun terpantau merangkak naik ke level 6,44%. Angka ini melonjak cukup signifikan dibandingkan posisi awal Februari yang masih berada di kisaran rendah.

Suhindarto pun menambahkan bahwa suku bunga yang bertahan lama akan memberikan tekanan pada profitabilitas perusahaan. Hal ini menuntut korporasi untuk lebih efisien dalam mengelola struktur pembiayaan mereka di tengah fluktuasi yield pasar sekunder.

Oleh karena itu, Pefindo menyarankan para investor obligasi untuk mencermati rilis data ekonomi domestik dalam beberapa bulan mendatang. Keputusan investasi harus didasarkan pada analisis fundamental yang kuat mengingat risiko volatilitas global masih membayangi.